#abaikan : bagaimana mungkin melawan ?

7 November 2011 | topik: celoteh | tagar: , oleh

Nov
07

Kita harus melawan media mainstream” begitu ujar seorang pekerja media online saat meluncurkan situsnya. “Kami menyediakan wadah bagi para aktivis, yang juga blogger, untuk mengirimkan artikelnya di media kami. Kami akan lakukan editing terhadap tulisan yang masuk.” Perbincangan demi perbincangan untuk mengalahkan raksasa media, selalu hadir di kalangan para pewarta yang ingin independen. Melawan kuasa modal atas pembelengguan ruang informasi, menjadi hal yang berulang dicelotehkan.

UU Pers baru melindungi para jurnalis yang bekerja pada perusahaan media mainstream” (Newsletter School of Broadcast Media)

Jurnalisme warga, dengan beragam definisinya, menjadi sebuah entitas baru. Wadah media massa yang dimiliki pemodal pun, berlomba-lomba menyediakan wadah bagi warga yang bersedia menjadi pelapor. Mulai dalam bentuk tulisan, audio, hingga dalam bentun video. Sayangnya, belum ada sebuah penghargaan bagi pewarta warga, kecuali ucapan terima kasih, disertai dengan ketiadaan perlindungan bagi pewarta warga. Sementara, pandangan mata dan rasa warga pun mulai di’kendali’kan.

Bisa jadi benar, bahwa memang pewarta warga masih belum mampu memenuhi kaidah jurnalistik. Senyatanya kaidah itupun terbangun dalam kurun waktu yang tidak sebentara. Dan kemudian, para pengeblog pun baru dalam kelahirannya. Komunitas-komunitas baru berlahiran, hingga belum ada cukup waktu untuk membangun sebuah kesepahaman di dalam komunitasnya. Komunitas terbangun masih dalam fase sebuah keinginan untuk bersilaturahmi dan berkenalan dengan kawan baru.

Blogger bukan jurnalis” ucap seorang pengurus organisasi wartawan.

Blogger masih dipandang sebagai sebuah celotehan harian seseorang. Pandangan inipun dimiliki oleh beberapa jurnalis yang ditemui. Blogger bukanlah jurnalis, lebih banyak pendapat yang mengatakan hal yang serupa, termasuk oleh para blogger. Bisa jadi benar, karena memang blogger memiliki media sendiri, berkuasa atas tulisannya dan bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Sedangkan jurnalis, tidak memiliki kuasa penuh atas tulisannya, masih ada penyaring dari setiap fakta yang diungkapkannya, yang bahkan, lebih banyak dipengaruhi oleh pemilik media. Bila mengatakan bahwa telah ada jurnalis independen, maka sejatinya hal ini masih harus menempuh jalan yang berliku.

Ketakutan utama atas kelahiran penulis warga adalah sebuah informasi yang bebas merdeka hingga tak terkendalikan. Namun, faktanya memang masih ada cara untuk mengendalikannya, sehingga belum ada sebuah kebebasan dan kemerdekaan yang sesungguhnya dalam menulis. Mulai dari kanalisasi, hingga report as spam, menjadi sebuah hal yang mungkin dilakukan, dengan syarat memiliki ruang pertemanan lebih banyak dalam pulau informasi yang sama.

Abaikan, hingga tak mungkin melakukan perlawanan. Saat sosial media dipandang sebagai sebuah media baru untuk melakukan perlawanan, senyatanya masih juga dikuasai oleh korporasi. Dengan beragam cara, dan beragam jendela, yang seolah telah ada kebebasan berekspresi, namun senyatanya masih ada tirai yang digantungkan.

Menulis, dan menulislah. Berbincang, dan bercakaplah. Mengabadikan sebuah gambar yang diam dan bergerak. Hingga pada waktunya, badai pengetahuan melanda negeri, dan membangun kecerdasan dalam berkehidupan. Tak ada kecoa yang dapat bebas bergerak di alam kehidupan yang penuh dengan racun kimia. Tak ada komodo yang mampu membunuh mangsa di ruang yang penuh dengan omnivora. Pertarungan pasti akan terus ada. Kemenangan hanya akan diraih pada mereka yang meyakini bahwa kemenangan itu pasti ada !

*Tulisan ini tidak menyebutkan nama dan waktu peristiwa dikarenakan belum ada UU Blogger di negeri ini !</em>



Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :


Ade Fadli. 2011. #abaikan : bagaimana mungkin melawan ?. http://timpakul.web.id/abaikan-bagaimana-mungkin-melawan.html (dikutip tanggal 19 May 2012)



-- timpakul.web.id - @timpakul



Ditulis oleh

lahir dan besar di tepi karangmumus. berceloteh dengan negativisme dan pesimis. berjalan menuju berakhirnya sang waktu.

5 ikung mahalabiu gasan “#abaikan : bagaimana mungkin melawan ?”

Show / Hide Comments
  1. Erik says:

    Hi ih tu blogger beda dengan jurnalis. Tapi jurnalis juga sama seperti blogger, sma-sama menulis…
    BTW… Font size komennya, halus banar, kada malihat ulun tulisannya…

  2. fotodeka says:

    Nah! ini dia..
    mantap lah mas sudah share…

  3. maszen says:

    tulisan ini sangat menginspirasi saya. Setidaknya telah menjawab keresahan diskusi bersama beberapa orang blogger di sebuah kopdar.
    terima kasih

Bekomen yukz