“Jangan seperti dinosaurus” begitu ujar pemimpin negeri kepada para petani. iklim yang dianggap sedang beranomali, menjadikan kelompok petani sebagai korban yang tertimpa beragam beban. sejak pertengahan tahun lalu, sudah ada pesan bahwa akan ada iklim yang tak sesuai dengan waktu sebelumnya. dan iklim sebenarnya tak sedang bertingkah aneh.
ada dua hal yang menarik dari pernyataan pemimpin negeri tersebut. yang pertama adalah bahwa dinosaurus musnah karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan iklim, dan yang kedua bahwa petani musnah akibat perubahan iklim. bisa jadi benar apa yang disampaikan, namun bila melihat catatan yang tercecer terkait dengan dinosaurus, bahwa ada dua kesimpulan yang bersifat sementara, yaitu: (1) telah terjadi letusan gunung berapi yang sangat dahsyat, dan; (2) terjadi tumbukan meteoroid raksasa; dimana pada kedua kesimpulan tersebut, kepunahan dinosaurus berlangsung dalam waktu yang singkat.
bahwa kemudian petani musnah akibat perubahan iklim, bisa jadi benar. namun, ternyata beralihnya warga negeri dari lahan pertaniannya lebih banyak disebabkan pilihan pemimpin negeri yang lebih melayani korporasi dan berselingkuh dengan pemodal. lebih dari 12 ribu lahan pertanian setiap tahunnya di Kaltim dipaksa beralih fungsi menjadi areal pertambangan, merupakan salah satu gambaran perselingkuhan yang terjadi. belum termasuk ketergantungan yang diciptakan, dengan memaksakan bibit-bibit rekayasa genetik yang membutuhkan asupan pupuk dan pestisida berlebih, menjadikan petani tak lagi memiliki kedaulatannya.
pada pasca panen, pemerintah cenderung untuk membiarkan mekanisme pasar yang berlaku. dimana, pada saat bersamaan keran impor beras dan produk pangan lainnya, dibuka selebar-lebarnya. tak ada perlindungan bagi petani, mulai dari urusan lahan, hingga urusan penjualan hasil panen. apalagi sistem lumbung padi, telah digerus menjadi bentuk-bentuk usaha yang menjadikan komunitas tani tak lagi menghitung cadangan pangan keluarga.
petani, termasuk komunitas lokal yang mengelola sistem pertanian lahan kering, dibiarkan terus bertarung dan bertahan dari gempuran industri ekstraktif. pelayan publik, malah terlalu sibuk untuk melayani industri ekstraktif, agar menggusur lahan-lahan produktif warga. keberpihakan pelayan publik, hanya ada pada slogan ataupun torehan tulisan di buku-buku tebal yang tak terbaca. tindak dan tanduk yang kian menajam, digunakan untuk menusuk jantung kehidupan warga negeri. hingga kemudian kedaulatan pangan negeri ini tak lagi dimiliki.
iklim, tak ada yang beranomali. siklus yang semakin pendek, lebih disebabkan oleh pilihan pelayan publik untuk menghancurkan generasi negeri. mengekstraksi isi perut bumi, dari permukaan hingga di atasnya, telah menghasilkan emisi gas rumah kaca yang melimpah ruah. suhu permukaan bumi kian meningkat, tak mampu tertahankan. sejak revolusi industri terjadi, sebuah proses percepatan penghancuran bumi pun terprogramkan. iklim terus bergerak pada siklusnya. waktu yang kian berubah bukan karena sebuah keanehan semata. iklim berubah akibat perilaku korporasi yang berselingkuh dengan pemimpin negeri.
dinosaurus dan petani, bukan untuk dimusnahkan. petani merupakan penopang kehidupan. peran pelayan publik untuk memberikan perlindungannya. memastikan bahwa lahan-lahan pertanian tidak dialihfungsikan, serta memastikan lahan-lahan pertanian tetap terairi dan tidak terpapar limbah industri. juga memastikan bahwa petani mampu melakukan pengelolaan bibit dan mengembangkan bibit lokal, hingga melepaskan ketergantungan dari pupuk kimia dan pestisida beracun. petani menantikan keberpihakan, bukan untuk disamakan dengan dinosaurus.
pada anomali petani dinosaurus !
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2011. anomali petani dinosaurus. http://timpakul.web.id/anomali-petani-dinosaurus.html (dikutip tanggal 19 May 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul