“di tepi jalan sana masih ada bara yang menyala. di bagian tengahnya, api meliuk-liuk” ujar seorang kawan.
proses pelepasan carbon ke udara masih terjadi. belum usai sepertinya fase pembakaran carbon. menjelang penyepakatan jalan baru perubahan iklim, muncul lagi gagasan untuk menghapuskan subsidi atas bahan bakar fosil. kembali, negara selatan akan menjadi korban.
“dia memilih mundur sebelum konvensi dimulai” berita pagi ini.
konvensi sebuah partai menuju pemilihan pemimpin kota, diakhiri tanpa pertarungan. banyak tanya yang muncul. belum ada kabar yang pasti mengapa harus mundur sebelum bertarung. bisa jadi karena terlalu mahal harganya, atau bisa jadi, “hasilnya sudah ada sebelum konvensi dimulai“.
kota ini butuh kebaikan, agar tak selalu digenangi air, dihiasi merahnya api, dan disetubuhi dengan krisis air bersih
pemimpin yang baik, masih merupakan sebuah mimpi. kekuasaan masih menjadi arena perebutan. bukan pula untuk menjadikannya sebagai sebuah ruang berbagi. hingga keping emas, bahkan darah dan air mata akan hadir di dalamnya. menjadi pemimpin bukanlah sebuah amanah, masih menjadi profesi. meraup untung, dan menguras hak-hak yang mampu direbut.
“pinjam uang donk…. mau disimpan di tabungan sementara… nanti akan dikembalikan…. biar di akhir periode tak dianggap menumpuk kekayaan“
kotakayu ini membutuhkan segenggam hati. yang sukar ditemukan diantara jerami di tepi rawa. hanya akan hadir bilamana tak ada lagi pundi-pundi yang bisa dikeruk. saat kota menjadi mati. tak berpenghuni.
pada asap konvensi !












