“itu film tentang tambang” ujar seorang kawan tentang film yang bertajuk Avatar [w-i]. “coba hitung berapa kubik itu kayunya” ujar yang lain.
film avatar terlihat bagus dalam animasi dan efek yang diberikan. di luar itu, cerita yang mengambil titik bagaimana manusia bumi mengeksploitasi aset alam Pandora, melahirkan perlawanan dari komunitas lokalnya (Na’vi). menghancurkan rumah kehidupan demi mengejar keping emas. bahkan hingga ke pusat kehidupannya. dan ketika perlawahan masih hadir, situs hubungan ke Eywa pun juga akan dihancurkan.
kejadian yang ada di avatar tak jauh beda dengan karakteristik industri ekstraktif yang tengah berlangsung di muka bumi. menggunakan kekuatan militer, melakukan intrusi ke dalam komunitas lokal, hingga melakukan paksaan untuk merebut aset alam. penyingkiran terhadap rumah kehidupan pun dilakukan, demi mengejar keping emas dan memperkaya segelintir kelompok manusia bumi.
alat-alat berat yang bergerak tak pernah berhenti untuk menghancurkan jengkal demi jengkal wilayah kehidupan. satu per satu pepohonan ditumbangkan. plasma nutfah tak lagi bersisa. satwa memilih untuk menyingkir. dan ketika komunitas lokal melakukan perlawanan, mereka pun disingkirkan, hingga pada sumber kehidupan mereka.
kekerasan selalu ada pada situs-situs industri ekstaktif. melakukan negosiasi dengan menjadi bagian dari komunitas. hingga akhirnya menggunakan militer ataupun alat keamanan untuk melakukan penggusuran. karena ini sebuah pertarungan. dari sebuah kekuasaan yang ingin menghilangkan jejak kehidupan kelompok yang dipinggirkan.
ketika peradaban telah beralih dari sebuah kepercayaan terhadap sebuah Zat menjadi kepercayaan terhadap aliran keping emas, maka sebuah pertarungan kehidupan tak akan kuasa dimenangkan oleh mereka yang berharap tetap memiliki ruang kehidupannya. peradaban yang hanya berpikir pada material hari ini, akan menghancurkan kehidupan masa mendatang.
cara-cara penaklukan telah tergambarkan dalam avatar. yang tak hanya menggunakan senjata. tapi juga bagaimana untuk menguasai sebuah kepercayaan tertinggi dari sebuah komunitas lokal, hingga pada penghancuran ikatan kehidupan antara komunitas dengan sang Eywa. hingga kemudian ritus-ritus budaya tak lagi menjadi sebuah kosmologi kehidupan.
budaya tak lebih pada sebuah sajian wisata yang ditarikan untuk memuaskan para pelancong. budaya tak lebih pada sebuah benda seni yang tak bernilai karena tanpa nyawa. saat budaya itu tak lagi merupakan interaksi kehidupan, saat itulah kematian komunalism akan meregang.
avatar, tak sekedar sebuah bentuk kehidupan. menjadi jiwa pembelajar untuk melihat relung yang tak pernah diajarkan di bangku pendidikan formal. alam merupakan sekolah tanpa batas, yang bila telah dihancurkan, takkan ada lagi berlembar-lembar buku sejarah peradaban. industri ekstraktif, harusnya berhenti sejenak, untuk memberikan kesempatan pada manusia serakah untuk merefleksikan kehidupannya, pada suatu masa, tanpa pepohonan, tanpa satwa, dan tanpa oksigen.
pada pembelajaran sesosok avatar !
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2010. avatar: perebutan aset alam. http://timpakul.web.id/avatar-perebutan-aset-alam.html (dikutip tanggal 5 February 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul