isi bumi sangat beragam. dari tujuh fase pembentukan kehidupan, telah menghasilkan strata kehidupan. tak ada yang sama. bahkan diantara spesies ataupun varietas. setiapnya memiliki sebuah perbedaan. namun sebuah keadilan dan perlindungan terhadap sesama, pun menjadi bagian yang lebih penting di dalamnya.
ada sebuah pertarungan dalam kehidupan, itu pasti. ada sebuah perebutan dalam ruang, itu pasti. ada sebuah dominansi dalam kekuasaan, itu terjadi. bukan pula untuk melegalkan upaya penghisapan dan penindasan. bukan pula dalam sebuah upaya untuk menghapuskan kehidupan komunitas berbeda.
selamat hari lingkungan hidup dunia. yang masih diperingati dalam sebuah seremonial, yang seolah-olah hijau. car free day. menanam. mengumpulkan sampah. tak salah. bangunan ekonomi yang disebut hijau, masih tetap melegalkan penghisapan dan penguasaan kelompok tertentu. negara selatan tetap dipaksa untuk melayani negara utara. pelayan publik tetap berselingkuh dengan modal, untuk menyingkirkan dan memperbudak warganya.
banyak spesies. banyak pemikiran. banyak pilihan. negeri ini punya sandaran utama, konstitusi. bangunan ekonomi dalam konstitusi, telah mengarahkan pada ekonomi hijau yang jauh lebih baik, dibandingkan bangunan ekonomi hijau yang sedang digagas oleh negara-negara utara. hanya saja, peraturan perundang-undangan yang dilahirkan oleh mereka yang tak terlalu banyak di senayan, telah mengadopsi secara utuh dan sempurna, sistem ekonomi negara utara. privatisasi, penghapusan subsidi, peniadaan perlindungan terhadap komunitas terpinggirkan. anggaran lebih pada bagi mereka, bukan bagi layanan kesejahteraan dan keselamatan warga.
pun ketika ingin menurunkan emisi 26 hingga 41%, ternyata tetap tak memiliki keberanian untuk menghapuskan industri yang memproduksi tinggi emisi gas rumah kaca. tetap terlalu tak berani untuk mengatakan “TIDAK” untuk industri ekstraktif, pertambangan, perkebunan skala besar kelapa sawit maupun kayu cepat-tumbuh. pun masih belum terlalu berani menyatakan, negeri ini akan hidup dari pertanian sawah-ladang, kebun buah dan hasil hutan bukan kayu.
bangunan insfrastruktur melahirkan generasi pembelajar pun, masih belum tersentuh. hanya berkata, bahwa harus ada mata pembelajaran lingkungan hidup, bukan pada sebuah bangunan pendidikan yang mencerdaskan, mendekatkan pada membaca kelokalan, serta melahirkan generasi yang membangun teknologi murah dan berbasis pada produk pertanian dan hasil hutan bukan kayu.
memang terlalu banyak spesies dalam satu planet yang ingin punya satu masa depan. bisa jadi masa depan tetap satu, kehancuran planet ini, sebelum waktunya. penggurunan di kalimantan, tenggelamnya java, terbelahnya sumatera, hingga berubahnya sulawesi menjadi gugusan karang. bisa jadi hanya papua yang menjadi sandaran terakhir, namun sayangnya, puncak gunung tertingginya telah menyimpan racun mematikan berisikan logam-logam berat.
menentukan hari ini, bukanlah untuk sekedar bergabung dengan bersepeda bersama, atau menanam benih-benih pepohonan atau melepaskan satwa ke alam. melakukan perlawanan terhadap pelayan publik yang seolah-olah hijau dan terus menghamba pada modal, adalah sebuah pilihan. sambil terus melangkahkan keinginan dalam membangun dunia baru.
pada burung pagi pekerja pembuat sarang yang bersahutan dengan mp3 !
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2010. banyak spesies – satu planet – satu masa depan. http://timpakul.web.id/banyak-spesies-satu-planet-satu-masa-depan.html (dikutip tanggal 8 February 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul