bendera lusuh di batas negeri
Celoteh pada 29 August 2009 dalam topik urai [
] -
523 views
seorang anak tak berbaju berlari sambil memegang batang kayu dengan kain berwarna merah dan putih di ujungnya. kakinya yang kecil tak beralas lincah menghindari batuan tajam di tepi sungai. ia terus berlari sambil menggumam. tak jelas tak terdengar. tawanya sesekali bertarung dengan gemericik air di riam.
setiap dari warga negeri ini sepakat untuk menyatakan bahwa tanggal 17 Agustus 1945 merupakan awal merdekanya negeri ini. pun ketika sebuah iklan menyampaikan arti penting satu hari sebelumnya. hanya Belanda yang tak pernah mengakuinya. pengakuan kedaulatan baru didapatkan pada 27 Desember 1949.
penyerahan kedaulatan negera ini justru merupakan awal penjajahan baru bagi negeri ini. dalam konferensi meja bundar (23 Agustus hingga 2 November 1949), Belanda mewariskan utang sebesar US$ 4 miliar dolar sebagai syarat kemerdekaan republik, dimana utang itu digunakan untuk memerangi rakyat negeri ini dan menguras kekayaan alam. selain itu, negeri ini juga harus tunduk pada aturan-aturan ekonomi di bawah IMF (baca selengkapnya di kau.or.id).
“merdeka” teriaknya. ia terus berlari mengitari gedung sekolah dasar tanpa dinding. di sudut ruang kelas terdapat sebuah meja tak bundar yang sudah melapuk ditemani satu kursi yang setia bersama. papan tulis kecil dari selembar plywood yang dicat warna hitam nampak kusam.
ada banyak sejarah yang tak tertuliskan dan tak pernah terwariskan pada generasi hari ini. bahkan pada beragam wilayah, masih tak menyadari adanya kemerdekaan. yang diketahui hanyalah bergantinya para penjajah, dari berkulit putih menjadi berkulit coklat. rumah, ladang dan tempat bermain mereka secara perlahan dihilangkan dari peta.
penguasaan aset-aset alam dan sumber-sumber kehidupan rakyat masih belum lepas dari kekuatan pemodal global. minyak bumi, gas alam, batubara, emas, nikel, tembaga, kayu, hingga ikan dan udang, masih setia berada dalam ketiak penjajahan. sementara, pimpinan negeri terus mengumandangkan kemandirian, anti neo-liberal dan memekikkan kata “merdeka”.
“aduh….” ia mengaduh saat kakinya tersandung seonggok balok beton tanda batas perusahaan kayu, di halaman depan rumahnya. ingatannya kembali pada seminggu yang lalu, saat segerombol orang yang sebagian diantaranya berbaju sama. “kalian harus segera pindah dari sini. ini adalah wilayah perusahaan” teriak mereka. buldozer, truck yang sangat besar, dan beragam kendaraan yang tak ringan mulai hilir mudik di dekat rumahnya.
“kita akan pindah nak” ujar bapaknya semalam. “kita tak punya surat yang menyatakan ini tanah kita. walau disana masih terdiam jasad nenek dan kakek buyutmu. dan pohon madu dan kebun karet kita masih berdiri tegak. mereka tak pernah mau tahu. kata mereka, ini demi pembangunan”.
peraturan demi peraturan dilahirkan. tanpa pernah melihat dan membaca ulang konstitusi negeri ini, apalagi untuk membaca risalah lahirnya konstitusi. “apa itu pasal 33” tanya seorang peneliti dari parlemen pada satu waktu. kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar warga negeri ini tak pernah tahu apa yang mendasari sistem kehidupan bernegara.
aparat negara, termasuk keamanan, hanya tunduk pada perintah atasan. bukan tunduk pada konstitusi negeri ini. ataupun tunduk pada firman pencipta alam. hingga dosa bukanlah sebuah cela. menjadi penjajah, bukanlah sebuah hal yang haram. menadahkan tangan berutang pada negara asing tidaklah memalukan. menjadi budak pemodal, bukanlah sebuah kehinaan.
enam puluh empat tahun, kabarnya negeri ini telah dibacakan proklamasi kemerdekaannya. tak pernah ada yang merasakannya. pendidikan semakin mahal dan tak terjangkau. layanan alam semakin dihancurkan. angka kesakitan semakin meningkat. tanah-tanah produktif sumber pangan digantikan kubangan kolam beracun. generasi gelap lahir di beragam wilayah negeri.
ia berdiri dan menuju tiang bendera di pekarangan sekolah. kepalanya menengadah. dilihatnya kibasan kain berwarna merah dan putih yang sudah melusuh. bendera itu masih berkibar. dan tiangnya pun masih tegak berdiri.
ini hari terakhir berkibarnya bendera itu di batas negeri. karena esok, buldozer akan meratakan seluruh isi kampung ini. tegakan kelapa sawit akan menggantikannya. kabarnya ini untuk memenuhi permintaan negara seberang yang ingin mengatasi pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim.
ia masih belum tahu akan berjalan ke arah mana. deretan perahu kayu telah berbaris di tepi sungai. yang akan membawa ia dan keluarganya, serta teman-temannya untuk mencari tanah kehidupan lainnya. air, akan membawanya menemukan tempat bermain yang baru. itu kalaupun masih tersisa.
masih sulit untuk menemukan pemimpin negeri yang benar-benar memihak kepada kepentingan komunal rakyat. tidak berpikir untuk keuntungan kelompoknya semata. atau terus mengakumulasi keping emas di kantong pribadi. apalagi bila menyaksikan anggota parlemen hari ini, yang selalu ingin dimanjakan bak pangeran kerajaan.
hanya satu pilihan bagi mereka yang ingin merdeka di negeri ini. bangkit dan melakukan perlawanan terhadap penindasan yang masih terus berlangsung. intrusikan pemikiran kepada lembaga pendidikan formal. bangun dan laksanakan sistem ekonomi konstitusi. rebut kepemimpinan. saatnya berjuang memerdekakan negeri ini dari penjajahan gaya baru !

Blogmark: Technorati | Feedster | Bloglines | Lintas Berita | Del.icio.us | Digg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
Ade Fadli lahir dan besar di tepi karangmumus. berceloteh dengan negativisme dan pesimis. berjalan menuju berakhirnya sang waktu.
Kirim email gasan bamamay

![Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. [Pasal 28F UUD 1945]](http://timpakul.web.id/wp-content/themes/mimbo/images/t-info.png)







Sip MAs..bagus n bermakna sekali
[Reply]
kita bangsa yg kaya, namun kita sering terlena dengan kekayaan kita sendiri
[Reply]
ayo
merdeka!!!
Tulisan Rusa Bawean™ yang terbaru blog ..Stefania Fernandez Wakil Venezuela Pemenang Miss Universe 2009
[Reply]
Inikah wajah negriku ?
[Reply]
Mantap Bung….
[Reply]
maju terus indonesia……
[Reply]
Komunitas blogger yang menarik, salam dari komunitas blogger Universitas Sriwijaya http://blog.unsri.ac.id
[Reply]
timpakul Reply:
September 14th, 2009 at 11:15 am
salam kenal juga
[Reply]