seorang kawan, pencerita, yang telah menjelajah hampir sebagian besar wilayah provinsi ini, sering kali mengeluh untuk mencari kawan yang berbagi tentang sebuah cerita. “gimana kalau kita buat forum diskusi, ngobrol biasa aja lah“. sulit sekali sepertinya mencari ruang untuk sekedar berbagi.
mekaniknya kerja otak menjadikan semakin sedikit kawan-kawan yang ingin menggali pengetahuan. padahal, bagi aku, dia adalah ensiklopedia provinsi ini. tentang apa saja di provinsi ini, aku bisa mengetahui. sejarah, ekonomi-politik, hingga model kelola aset alam.
namun, beliau belum punya cukup waktu untuk menjadikannya bentuk tertulis, atau menjadi sebuah buku. aku tetap melihat proses diskusi dengan beliau mengalirkan gagasan baru dan mampu melihat dengan cerah apa yang terjadi di sekitar. hanya perlu sedikit waktu untuk mendengar.
kalau kemudian diskusi sudah menjadi kesulitan, bagaimana budaya demokrasi bisa terbangun? bila mendengar saja sudah semakin sukar, lalu apa yang ingin dibicarakan? aku tetap saja haus dengan obrolan yang selalu dianggap serius oleh banyak kawan. tak harus selalu serius melihatnya, zantai zaja, namun tetap bersubstansi. terus menggali dan mengeksplorasi. bila hanya diam, apakah juga akan terjadi perubahan?
pada diskusi yang sudah semakin sulit !













23 October 2009 at 12:32 pm
mendengarkan sih gak susah. tapi fokus pada pembicaraan yg susah, Bang. mungkin karena kebanyakan nonton tv, denger musik, diem di kamar. jadi gak tau apa-apa. akhirnya hanya bisa diem. tapi nyesel jg aku gak share kekurangan LUSTRUM. payah sendiri aku. masih belajar terbuka dalam hal apapun. :-p
[Reply]