Entah sejak kapan mereka mulai duduk. Hari itu, hari keduapuluhdua berada di pelataran sebuah gedung tinggi, tak jauh dari pusat pergerakan modal negeri ini. Berseliwerannya para pekerja dengan berdasi, jas dan pakaian yang wah, berharmoni dengan dua anak kecil yang sibuk dengan karung yang berisikan plastik dan karton.

Dua puluh dua hari. Ketika seorang ibu, berpakaian sangat sederhana. Berujar dengan lantang, hingga menghentikan perbincangan tentang sejarah negeri. “Lagi pada demo ya? Percuma. SBY nggak bakalan dengar. Dia sedang asik makan mewah disana. Kita disini kelaparan. Dia kan juga sedang sibuk untuk nyiapin acara nikah anaknya“. Hanya diam. Mendengarkan sebuah lontaran kata, yang tak pernah didapatkan hingga hari keduapuluhdua. Sebuah ungkapan sederhana yang menguatkan, bahwa warga selama ini disingkirkan oleh negeri.
Dua hari, membaca #DudukiJakarta. Pusaran pengetahuan yang tak pernah didapatkan di bangku pendidikan, yang semakin memahalkan. Tentang sejarah. Tentang kuasa gerak modal. Tentang apa saja yang setiap detik mencengkeram kehidupan kita. Masih belum banyak. Karena sistem negeri ini yang menyibukkan kehidupan. Pemenuhan makan, kesehatan, hingga pendidikan. Abai dan diabaikan.
Setelah 22 hari. Dua kawan kecil itu ingin belajar membaca. Dengan semangat mereka membagikan kertas yang berisikan ajakan untuk #DudukiJakarta. Mereka belum membaca, belum ada ruang bagi mereka agar bisa membaca. Entah kapan kawan ini membaca, namun mereka telah membaca sebuah kondisi negeri yang semakin meniadakan ruang kehidupan warganya.
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2011. #DudukiJakarta. http://timpakul.web.id/dudukijakarta.html (dikutip tanggal 19 May 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul







I don’t think the Occupy movement is about pessimism, no; it is in fact quite vulgarly naive in it’s optimisim: that things can change if we want them to…