“sertifikat dari para petani itu diagunkan di bank, untuk dapat kredit, yang kemudian dibelikan bibit sawit dari perusahaan, ditanam dan dipanen. petani tahunya menerima uang setiap bulan. 50% dari hasil panen dipotong, untuk perusahaan, sebagai upah.” ujar seorang kawan.
nikmatnya jadi pengusaha sawit. sudah dibilang sawit tak merusak hutan. juga masih mendapatkan beragam insentif. mulai dari pupuk subsidi, kemudahan pinjaman keuangan dengan bunga lunak, perlindungan dalam perolehan lahan, hingga jaminan keamanan dari masyarakat yang akan merebut kembali lahan mereka.
sungguh nikmat jadi pengusaha sawit. hanya bermodal bicara ditambah dengan baju parlente, sudah memperoleh kucuran kredit, yang satu waktu akan dikemplangnya. ijin pun begitu mudah diraih, hanya dengan seamplop uang yang diselipkan. bahkan, ketika terjadi kerugian, rame-rame pejabat melindunginya.
memang sungguh nikmat jadi pengusaha sawit. tak perlu khawatir dengan banjir dan kekeringan yang melanda. juga tak terlalu sibuk mencari lahan pangan baru untuk makan sehari-hari. apalagi untuk mencari babi hutan dan rusa yang semakin hari kian menyedikit. hanya peduli dengan pertemuan di hotel mewah dan perjalanan politik. selalu berucap bahwa ini demi penyerapan tenaga kerja, meningkatkan ekonomi, dan untuk kesejahteraan. tapi tak pernah mampu menjawab, mengapa kemiskinan selalu meningkat di sekitar perkebunan besar kelapa sawit? mengapa krisis pangan dan krisis air selalu terjadi di areal sekitar perkebunan besar kelapa sawit? atau mengapa semakin banyak yang putus sekolah di sekitar areal perkebunan besar kelapa sawit? ahh… biasanya juga pemodal itu hanya menjawab, “itukan karena kemalasan mereka“. lalu, sebenarnya siapa yang lebih malas?
pada enaknya jadi pengusaha !
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2009. enaknya jadi pengusaha. http://timpakul.web.id/enaknya-jadi-pengusaha.html (dikutip tanggal 19 May 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul