gubug

20 December 2009 | celoteh oleh

Dec
20

cara memandang bangunan masih cenderung menggunakan terminologi kota. ketika melihat bangunan terbuat dari kayu, apalagi tak berketam, maka selalu diasosiasikan dengan gubuk. yang disebut rumah, bila berbahan campuran semen.

negeri ini dibangun dari pondasi sistem arsitektur alamnya. sehingga banyak sekali bangunan tradisional yang berbahan kayu. sebagian juga berbahan tetanaman. hanya pada wilayah perkotaan dan atau wilayah dekat perkotaan yang kemudian memiliki rumah berbahan campuran semen.

ketika mengasosiasikan rumah, yang sebenarnya jauh lebih layak, dengan sebutan gubuk, adalah cara pandang mereka terhadap kemiskinan. yang tanpa sadar juga telah membangun sebuah kesenjangan baru.

selama inipun, jauh lebih popular kata lingkungan dibandingkan ekologi. lingkungan telah melepaskan ranah manusia di dalamnya, sehingga menganggap alam sebagai bukan bagian dari kehidupan manusia. maka tak salah kemudian, lahir pemikiran valuasi ekonomi, yang mencoba mengkalkulasi nilai lingkungan dengan mata uang.

ekologi jauh lebih memiliki pemaknaan rumah tangga kehidupan. dimana manusia merupakan bagian di dalamnya, dan tak terpisahkan kehidupannya. cara melihat alam bukanlah lagi sebagai bagian yang berbeda. hingga kemudian, pilihan politik akan dipengaruhi oleh pilihan kehidupannya. bila memilih untuk mengekstraksi alam, maka kehidupan tak akan terlalu panjang.

pada gubug !



Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :


Ade Fadli. 2009. gubug. http://timpakul.web.id/gubug.html (dikutip tanggal 7 February 2012)



-- timpakul.web.id - @timpakul



Ditulis oleh

lahir dan besar di tepi karangmumus. berceloteh dengan negativisme dan pesimis. berjalan menuju berakhirnya sang waktu.

Bekomen yukz