“itu yang nanya pasti sudah dikasih pertanyaan sama tim suksesnya ya” ujar seorang bapak sambil terus menghisap rokok kreteknya saat menyaksikan dialog calon presiden di sebuah stasiun televisi swasta, yang juga miliki pengusaha yang menjadi bagian tim sukses salah satu calon presiden.
“lha… kok nanyanya nggak keren amat sih” ujar yang lain.
“lho… sekarang kok makin aneh pertanyaannya”
“nah… yang ini nggak aneh lagi, karena calon presiden ini memang paling bodo, njawabnya ngasal”
perbincangan seliweran ini kerap kali terdengar saat calon presiden ataupun calon wakil presiden melakukan dialog di televisi. ungkapan yang bernada sesal, telah memiliki sebuah republik dengan tanpa calon presiden yang benar-benar akan memimpin negeri dengan baik dan benar, selalu bermunculan. namun jarang sekali muncul, ketika kemudian terbawa dengan angan-angan kepalsuan.
pangung politik, bak panggung antah berantah yang tak jelas hendak kemana bergeraknya. semua ribut untuk berebut posisi. dan hanya berpikir tentang kemenangan sebuah kelompok.
“apa calon presiden yang itu sudah siap kalah ya?” tanya seorang kawan.
kalah menang, kadang menjadi soal. masalahnya adalah harus menang. tak ada kalimat kekalahan dan bisa jadi, memang tak terlalu siap untuk kalah. untuk bertanding lagi di periode mendatang, terlalu lama, dan bisa jadi sudah dijemput ajal.
presiden, bukanlah sebuah jabatan publik, yang akan berpikir bagi publik. sama halnya dengan gubernur ataupun walikota atau bupati. apalagi hanya sekedar jabatan anggota DPR(D). segalanya hanyalah menjadi pekerjaan. bukan bagi sebuah amanat publik.
apalagi ketika mau membedah platform dari calon presiden dan calon wakil presiden. masih terlalu jauh dari konstitusi negeri. berkata bukan menganut paham neo-liberalisme, namun terus mengundang dan memfasilitasi penjajahan ekonomi. berkata membangun ekonomi rakyat, tapi hanya bagi sebagian rakyat yang menjadi tim sukses.
atau, mungkin negeri ini tidak sedang butuh seorang pemimpin. negeri ini hanya butuh waktu untuk kematian massal tiga generasi, agar generasi kemudian dapat membangun negeri dengan sebuah keikhlasan dan solidaritas. bisa jadi ini benar-benar terjadi, yang mungkin saja di tahun ketiga periode pemerintahan kali ini. bersamaan dengan musnahnya 60% penghuni bumi akibat bencana ekologi.













10 June 2009 at 10:26 pm
wah cocok nih pada saat soalnya lagi heboh – heboh pemilihan presiden. top abis deh. teruskan aja. maju indonesiaku maju negeriku
[Reply]