“kita deklarasikan Kaltim Hijau… emm… Kaltim Green deh… mari mulai menanam….“
provinsi ini telah mendeklarasikan Kaltim Green. dengan sebuah isi kepala tetap pada “one man one tree“. industri ekstraktif akan tetap berada pada prioritas perijinan. proses-proses perlindungan kawasan ekologi penting tetap diabaikan. apalagi berpikir tentang hak kelola rakyat atas aset alam, masih jauh di luar kepala.
One Man One Tree, satu lelaki satu pohon. terlihat biasnya cara pandang pelayan publik terhadap warga. tetap melihat lelaki sebagai kelompok yang memiliki kuasa. padahal sering kali dalam pidato menyebutkan “bumi sebagai ibu“. dan tetap saja, ini sebuah program populis, tak berakar, tanpa dasar gerak yang jelas.
Kaltim Hijau ataupun Kaltim Green, selalu identik dengan OMOT. tak diingat tentang proses perijinan industri ekstraktif yang cenderung merusak keberadaan ekosistem (hutan). apalagi berpikir tentang sebuah keseimbangan alam. makanya kemudian, tak terlalu masalah dengan industri pertambangan, industri kebun kayu serta industri perkebunan kelapa sawit.
Kaltim Hijau, bukanlah semata soal menanam pohon. berpikirlah tentang mencegah. berpikirlah tentang mengurangi emisi industri, juga emisi transportasi. berpikirlah tentang sebuah harmonisasi alam, satwa dan manusia. berpikirlah tentang sebuah kantor yang lebih ramah terhadap penggunaan zat beracun berbahaya.
Kaltim Hijau, tak semata soal membagi-bagikan bibit pepohonan. tak ada lagi tempat bagi rakyat untuk bercocok tanam. lahan sawah, perladangan, kebun rotan dan karet, telah pula dialihfungsikan menjadi kepemilikan pengusaha, untuk menambang ataupun menanam kelapa sawit ataupun menebang pepohonannya. kawasan konservasi dan hutan lindung pun harus dibersihkan dari kehidupan manusia.
Kaltim Hijau, memulai dari isi kepala. bukan sekedar larangan merokok. bukan pula sekedar sesuatu yang illegal. tapi jauh lebih besar, ini harusnya jadi perlawanan terhadap sebuah proses destruksi kehidupan. perlawanan terhadap penghancuran budaya komunitas. perlawanan terhadap penguasaan skala luas oleh segelintir orang.
Kaltim Hijau, memang masih belum hijau. bisa jadi besok kantor-kantor pelayan publik akan berwarna hijau. jalanan pun akan berwarna hijau. hingga mata ini hanya akan memandang warna hijau. pelangi pun akan malu menampakkan dirinya, karena hanya hijau yang akan mendominasi.
Kaltim Hijau, bukan sekedar soal deklarasi. tapi soal implementasi dalam tata kelola pemerintahan, kelembagaan dan program kerja. pentingnya melakukan audit lahan reguler. pentingnya melakukan pengawasan ijin peruntukan. pentingnya untuk mengembangkan kantor maya (e-office), serta layanan publik yang cepat dan efisien dengan penggunaan teknologi informasi. dan bukan sekedar membagikan 14.000 telepon yang dapat digenggam.
pada hijau yang tak selalu hijau !
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2010. hijau yang tak selalu hijau. http://timpakul.web.id/hijau-yang-tak-selalu-hijau.html (dikutip tanggal 5 February 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul