Hutan Kaltim Menuju Fase Kegelapan

9 August 2007 | topik: urai | oleh

Aug
09

Hutan Kaltim kian kritis. 6,4 juta hektar lahan kritis tersebar di wilayah ini. Hamparan pohon dipterocarpaceae secara perlahan akan menghilang. Pembalakan haram berkelanjutan masih saja terjadi dengan menelikung lemahnya penegakan hukum. Pemberian ijin investasi terus terjadi yang pada akhirnya mengakumulasikan hilangnya sumber kehidupan bagi komunitas lokal.

Diantara berita suram kehutanan yang terlalu banyak masalah, sumberdaya manusia sektor kehutanan pun kian berkurang. Setelah ditutupnya Sekolah Kehutanan Menengah Atas beberapa tahun yang lalu, berbagai perguruan tinggi yang menggeluti bidang kehutanan pun kian kesulitan mencari mahasiswanya. Hampir tiga tahun ini Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, sebuah fakultas kehutanan terbaik di Indonesia bahkan di Asia, menerima jumlah mahasiswa yang semakin sedikit jumlahnya. Deretan guru besar kehutanan internasional yang membagi ilmunya di fakultas tersebut, bukan menjadi sebuah magnet penarik minat para pelajar yang melanjutkan studinya di perguruan tinggi.

Hutan Kaltim yang memiliki peran penting bagi kehidupan ekonomi dunia serta telah menopang kehidupan komunitas lokal selama ini akan mengalami keterpurukannya. Dalam berbagai pertemuan, selalu terungkap bahwa permasalahan kehutanan tidaklah lepas dari permasalahan ketersediaan sumberdaya manusia yang baik jumlah dan kualitasnya. Walau kemudian tidak juga dapat menutup mata bahwa permasalahan kehutanan tidak pernah terlepas dari permasalahan kepentingan politik.

Lahirnya sebuah anggapan bahwa sektor kehutanan tak lagi mampu menjadi penopang ekonomi bangsa juga turut menurunkan minat anak negeri untuk memperdalam ilmu pengetahuan di bidang kehutanan saat ini. Terpuruknya industri kehutanan yang dibangun atas kerapuhan investasi menjadi salah satu pemicu lahirnya anggapan kelamnya masa depan sektor ini. Kondisi tersebut kemudian melahirkan opini publik bahwa masa depan pekerja sektor kehutanan menjadi sebuah hal yang tidak menjanjikan.

Di luar permasalahan opini publik tersebut, terdapat permasalahan internal pendidikan sektor kehutanan yang juga belum beranjak dari sebuah keilmuan kehutanan masa lalu yang hanya berorientasi pada hasil hutan kayu semata. Walaupun telah tersedia pengetahuan sosial kehutanan serta pengetahuan pengelolaan hasil hutan non kayu, namun informasi tersebut masih belum mampu diserap oleh publik.

Lembaga pendidikan kehutanan masih belum mampu menterjemahkan perubahan cara pandang pengelolaan hutan masa datang kepada publik. Dengan begitu banyaknya guru besar kehutanan yang secara kapasitas telah diakui oleh masyarakat internasional, masih belum cukup banyak dilakukan pendaratan pengetahuan kepada publik lokal maupun nasional.

Kurikulum pendidikan sektor kehutanan pun menjadi penting untuk dikaji ulang. Pertanyaan pertama adalah apakah kurikulum pendidikan sarjana kehutanan telah menjadi sebuah jawaban terhadap kebutuhan profesi kehutanan di masa datang? Apakah juga kurikulum tersebut mampu menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas dan mandiri di masa datang? Apakah proses pembelajarannya cukup mampu untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang kreatif dan inovatif? Pertanyaan inilah yang penting diberikan jawabannya oleh pengelola pendidikan sektor kehutanan.

Kegelisahan utama ketika semakin berkurangnya jumlah sumberdaya manusia sektor kehutanan adalah semakin berkurangnya tenaga profesional yang akan cakap dalam melakukan pengelolaan hutan di Kaltim dan di Indonesia. Padahal tantangan sektor kehutanan di masa datang semakin berkembang dan menekan keberadaan hutan yang berkualitas bagi kehidupan masyarakat di dalam ekosistemnya.

Selain permasalahan kuantitas sumberdaya manusia sektor kehutanan, juga akan sangat diperlukan sumberdaya manusia sektor kehutanan yang berkualitas. Tenaga-tenaga profesional kehutanan yang berkualitas dan inovatif sangat dibutuhkan untuk tetap menjaga keberadaan hutan sebagai sumber kehidupan di wilayah ini. Pengelolaan hutan dan kehutanan Kaltim masa datang akan sangat bergantung bagaimana sumberdaya manusia sektor kehutanan mampu melakukan pengelolaan.

Fase kejayaan sektor kehutanan bagi sebagian orang mungkin telah berakhir. Namun bagi rimbawan negeri ini, kejayaan sektor kehutanan akan tetap hadir sepanjang manusia masih ada. Upaya perbaikan hutan (rehabilitasi dan reboisasi) sangat membutuhkan tenaga kehutanan profesional. Pengelolaan kawasan dilindungi dan konservasi pun membutuhkan keahlian khusus kehutanan. Pemanfaatan hasil hutan non kayu yang lebih optimal juga sangat membutuhkan tenaga-tenaga yang kreatif dan inovatif. Sebuah tantangan besar bagi lembaga pendidikan kehutanan untuk memberikan jawaban terhadap kebutuhan tersebut.

Hutan Kaltim akan menuju kegelapan bilamana lembaga pendidikan kehutanan, termasuk Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman dan perguruan tinggi lainnya, tidak mampu untuk menghasilkan rimbawan berkualitas yang profesional dan inovatif. Degradasi hutan akan semakin berkelanjutan bilamana lembaga pendidikan kehutanan tidak mampu mendaratkan permasalahan kehutanan kepada publik yang lebih luas. Bila ini terjadi, maka kehidupan di Kaltim juga akan sangat terganggu dan bukan tidak mungkin akan semakin kerap terjadi bencana ekologi di berbagai wilayah di negeri ini.

Lembaga pendidikan kehutanan, termasuk Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, sudah saatnya untuk memasuki ranah publik dan politik sumberdaya alam, khususnya kehutanan, agar hutan Kaltim dapat tetap lestari dan memberikan kesejahteraan bagi rakyat Kaltim. Bukan lagi waktunya untuk senantiasa nyaman di balik tempurung. Tridharma perguruan tinggi sudah selayaknya dimaknai sebagai sebuah kontribusi perguruan tinggi terhadap kepentingan publik. Hal ini dapat dimulai dengan melakukan publikasi reguler hasil-hasil penelitian dan kajian, serta dengan melahirkan teknologi baru dalam pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan, khususnya hasil hutan non kayu.

Hutan merupakan sumber kehidupan, namun ia akan menuju fase kegelapan. Manusia telah diberi amanah untuk mengelolanya bagi kepentingan dan kesejahteraan bersama. Lembaga pendidikan kehutanan merupakan kawah chandradimuka bagi lahirnya rimbawan profesional dan inovatif. Bila tidak saat ini melakukan perubahan mendasar, maka tidak akan pernah tercapai cita-cita negeri ini untuk mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Bukan lagi penting untuk mempertahankan arogansi sektoral, namun menjadi penting bagi lembaga pendidikan untuk lebih ramah terhadap kepentingan publik yang lebih banyak. Bagi kawan-kawan muda, tentukan pilihan untuk berkontribusi bagi negeri ini, dengan tetap bersama menjaga keberadaan hutan dan melakukan pengelolaan yang lebih bijak terhadap sumberdaya alam yang dianugerahkan bagi negeri ini. Bila tidak sekarang, kapan lagi ! [070808]



Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :


Ade Fadli. 2007. Hutan Kaltim Menuju Fase Kegelapan. http://timpakul.web.id/hutan-12.html (dikutip tanggal 19 May 2012)



-- timpakul.web.id - @timpakul



Ditulis oleh

lahir dan besar di tepi karangmumus. berceloteh dengan negativisme dan pesimis. berjalan menuju berakhirnya sang waktu.

3 ikung mahalabiu gasan “Hutan Kaltim Menuju Fase Kegelapan”

Show / Hide Comments
  1. iman kuncoro says:

    Selasa dan Rabu tabggal 24 , 25 februari 2009 digedung bundar Fahutan UNMUL akan diadakan lokakarya kurikulum . Kalau belum diundang oleh Dekan Fahutan Unmul saya kira para pegiat di Timpakul bisa ikut sumbang saran tentang kurikulium ilmu kehutanan. Karena dengan adanya SK dirjen di Fahutan UNMUL hanya ada 1 (satu) program studi yaitu studi kehutanan. Para paktisi termasuk para alumni fahutan unmul perlu datang dan memberi saran demi tercapainya pengelolaan hutan lestari. Salam rimbawan.

    imank

  2. fauzia says:

    sedih dan memprihatinkan. tapi bgm fahutan mau dilirik lagi kalau dunia usaha kehutanan, tempat para sarjana kehutanan selama ini banyak menggantungkan hidupnya, pada tumbang dan rebah spt pohon-pohon meranti dan ulin di Kaltim yang sudah lebih dulu bertumbangan.

    lihatlah jalan tembus Bontang-Sangata di kawasan TN Kutai. Kini keadaanya lebih parah. Perambahan terus berlangsung dan kian gencar, seiring datangnya kelompok-kelompok warga dari pedalaman busang. Mereka berkilah demi mencari sesuap nasi. Tapi kenapa TN Kutai yang menjadi SASARAN? Balai TN Kutai tak berdaya, Pemkab juga terkesan sengaja memberi peluang. Lagi2 why TN kutai? Knp setiap jelang pilkada, lalu rencana enclave berhembus kuat dan membuat warga datang berbondong2 merambah kawasan konservasi? Why?

    Yang membuat sy lebih penasaran, knp tidak ada LSM lingkungan di Kaltim yang beraksi? Why? Why Timpakul? Please deh…

  3. isnan hidayatullah says:

    wah, semoga komunitas di sini dapat membantu saya. sekedar informasi, saya adalah mahasiswa kehutanan UGM. saya tertarik dengan wacana tentang kehutanan di atas. jadi siapapun, tolong bantu saya juga

Bekomen yukz