ini uang transportasi ….
Posted on: Saturday, Oct 17, 2009
“sebentar, jangan pulang dulu. ini tanda tangan dulu” ujarnya sambil menyerahkan sebuah amplop. “untuk apa? tadi aku sudah mengisi daftar hadir” tanyaku. “ini pengganti uang transportasinya”
sebuah kebiasaan dari lembaga internasional saat melaksanakan sebuah kegiatan adalah memberikan pengganti uang transportasi dan terkadang juga disebut uang pengganti hari kerja. sebuah hal yang memang dibiasakan oleh lembaga pemberi dana. dengan cara pikir bahwa setiap orang memiliki aktivitas masing-masing atau tidak memiliki uang untuk menuju tempat pertemuan, maka uang pun diberikan kepada peserta pertemuan yang dilaksanakan.
pada awalnya aku merasa tak aneh dengan ini. karena mereka datang dengan banyak uang, maka dengan mudah uang pun diberikan. namun dalam sebuah kegiatan yang kami laksanakan di utara pulau ini, aku bertanya-tanya, kenapa peserta pertemuannya masih belum beranjak setelah kegiatan telah selesai. seseorang mendekat dan bertanya perlahan “nggak ada amplopnya ya pak?“.
dari berbincang dengan beberapa kawan disana, ternyata saat sebuah organisasi internasional melaksanakan kegiatan di sana, selalu memberikan uang transportasi kepada peserta. jumlahnya yang bervariasi antara lembaga internasional dan lembaga kerjasama internasional. hingga ini menjadi sebuah kebiasaan. dan aku semakin merasa tak mampu berkata, ketika yang berharap adalah mereka yang mewakili institusi pemerintah.
pada berbagai lokasi yang pernah dikunjungi oleh lembaga internasional, kebiasaan serupa telah tertanam. hingga, ketika kawan-kawan organisasi lokal melaksanakan kegiatan serupa, harus berupaya memberikan penjelasan tentang tidak adanya amplop yang diberikan.
aku tidak mempermasalahan ketika peserta pertemuan datang dari tempat yang jauh dan memang membutuhkan transportasi untuk datang ke tempat pertemuan. misal dari seberang sungai ataupun dari bukit sebelah. karena tak semua orang memiliki dana untuk datang ke tempat pertemuan, sementara pertemuan itu menjadi penting bagi mereka.
walau juga, aku mencoba memilahkan antara yang memang memerlukan uang transportasi dan yang tidak. apalagi, ketika datang ke pertemuan dengan kendaraan sendiri. pastinya tidak memerlukan uang transportasi. tapi tetap saja, ini menjadi kebiasaan, hingga uang transportasi harus diberikan.
seringkali aku harus menolak pemberian ini. atau terkadang ketika penyelenggara mengatakan “ini harus dikeluarkan, kalau tidak saya yang dimahari atasan“, terpaksa aku bertanda tangan, dengan tetap meletakkan amplop di meja mereka.
bagiku, pertemuan merupakan kebutuhan dari diriku. untuk menggali pengetahuan, untuk menemukan hal baru, ataupun untuk sekedar bertemu dengan kawan. hingga tak penting adanya uang transportasi. dan sebenarnya sudah ada makan siang ataupun makanan ringan yang memberikan energi. yang mungkin sudah cukup bagiku. meski pada beberapa pertemuan tertentu, aku lebih memilih mencari makanan di luar ruang pertemuan.
memang ini sebuah pilihan, menerima ataupun tidak. pernah satu waktu, saat tak ada serupiah pun di kantong dan dompet, aku harus memilih untuk tetap tidak menerima uang itu. satu sisi berkata “bodohnya aku tak menerimanya“, sementara sisi yang lain berujar “uang mereka akan membodohkan diriku“. tapi memang ini sebuah pilihan, yang bagiku, harusnya tak ada lagi yang berharap memperoleh amplop saat mengikuti sebuah pertemuan. berharap terhadap sertifikat masih bolehlah, lumayan menambah poin kredit untuk kenaikan pangkat.
aku dan uang transportasi !














Komentar