Jakarta 0065

29 November 2011 | topik: celoteh | tagar: , , , oleh

Nov
29

Mungkin terlalu banyak yang melupakan sebuah dokumen Jakarta 0065. Lalu kemudian menjadi penting untuk membaca dokumen “Rekayasa Merawat Neoliberalisme” yang ditulis oleh Yanuar Nugroho. Teknologi informasi memang berwajah dua. Kekuasaanlah yang mengendalikannya. Apakah kekuasaan itu sekedar kekuasaan politik hari ini? Bukan, karena kekuasan itu adalah kekuasaan ekonomi dunia.

Indonesia menjadi penting dalam persilangan kepentingan. Sebagai sumber bahan baku, alat produksi dan sebagai pasar dari teknologi. 230 juta warga negeri ditambah dengan kekayaan alamnya, merupakan sumber utama bagi keberlanjutan perputaran industri dunia. Negara berkuasa penuh dalam perserikatan berbangsa, memainkan putaran rodanya. Mempercepat hingga memperlambat pusarannya. Waktu pun dikendalikan. Hingga negeri ini juga menjadi ruang pertarungan.

Pada satu waktu, berbincang dengan kawan di pelataran pusat perputaran uang di negeri ini, “perbincangan kawan-kawan telah dikanalisasi, sehingga menjadi tak meluas. selain, kawan-kawan masih melupakan media sosial sebagai sebuah ruang pertarungan.” Bukan tanpa alasan, karena sejak hari pertama, pusaran stream telah diredam dengan celetukan tak bermakna, disertai dengan ejekan yang membungkam. Setelah itu, tak lagi ada terdengar echo pada sosial media dari pusaran diskusi yang luar biasa di tempat tersebut.

Memahami gerakan sosial dalam sebuah sosial media, bukanlah sekedar menyuarakan satu kali dan selesai. Lalu berharap akan ada jembatan yang terbangun diantaranya. Karakter warga 2.0 negeri ini tak serupa dengan warga 2.0 di negara industri, yang mampu menempatkan wakilnya di parlemen, melalui partai bajak lautnya. Karakternya baru berhenti pada sebuah keibaan dan solidaritas kemanusiaan. Belum melangkap pada pilihan politik, apalagi politik praktis.

Kesadaran warga masih dibelenggu dengan ketakutan yang akut, hingga keberanian untuk menjadi beda, bahkan diminoritaskan, belum juga muncul. Satu opini yang diteruskan oleh banyak orang, lalu menjadi sebuah kebenaran, yang terkadang merupakan kebenaran mutlak. Dan ketika sosial media mulai dikerangkeng dalam sebuah label, dan digiring pada kegiatan-kegiatan yang membahagiakan, lalu kemudian melupakan dasar berkehidupan. Agar ada sebuah kebebasan yang bertanggung jawab, agar tidak lagi ada penjajahan inter dan antar, agar kecerdasan yang sebenarnya lahir dari sebuah logika pikiran, dan kesejahteraan anak bangsa benar dirasakan oleh semua.

Membangun sebuah nilai kebangsaan, berbasiskan konstitusi, dengan kecerdasan kolektis, menjadi hal yang penting bagi negeri ini. Cengkeraman kekuasaan negara industri yang sangat kuat, menjadikan pemimpin negeri memilih untuk berselingkuh padanya. Hingga hanya topeng-topeng prihatin yang digunakan. Menjadi lupa, bahwa telah begitu banyak kekayaan negeri dan warga negeri yang digadaikan untuk memuaskan kelompoknya. Menjadi lupa, bahwa telah terus mengalir darah dan air mata anak negeri yang ingin mempertahankan lahan berkehidupannya.

Konstitusi itu dasar negeri ini. Catatan perdebatannya pun tak banyak yang membacanya. Pemimpin dan penghuni parlemen hanya mencoba memandu negeri ini berdasarkan ingatan singkatnya, yang pastinya pengetahuan yang dimiliki hanya terbatas pada lingkaran perbincangan harian, atau dari gosip-gosip di etalase pusat perbelanjaan yang menggusur pasar tradisional.

Ini negeri kita kawan. Ini adalah negeri kami. Bukanlah harus terus menguburkan mimpi-mimpi, pun ketika teknologi informasi telah merasuk pada denyut darah ini. Sosial media hanya sebuah alat, yang dapat digunakan untuk menindas atau memerdekakan. Pilihan tetap ada pada jiwa dan rasa. Satu langkah akan sangat berarti, untuk menjadikan kekuasaan teknologi informasi berkedaulatan pada rakyat. Pengetahuan dan teknologinya. Hingga batas negeri !



Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :


Ade Fadli. 2011. Jakarta 0065. http://timpakul.web.id/jakarta-0065.html (dikutip tanggal 19 May 2012)



-- timpakul.web.id - @timpakul



Ditulis oleh

lahir dan besar di tepi karangmumus. berceloteh dengan negativisme dan pesimis. berjalan menuju berakhirnya sang waktu.

Bekomen yukz