ke-percaya-an

20 April 2009 | celoteh oleh

Apr
20

siswa yang lagi menjalani Ujian Nasional bagaikan ‘penjahat’ yang harus diawasi para guru hingga dosen. tingginya ketidakpercayaan negara terhadap siswa didik, menumbuhkan terjadinya penciptaan rasa ketidakpercayaan dalam tubuh siswa didik. perlahan, namun pasti, akan terus berkembang saling ketidakpercayaan, menjadi sebuah kompetisi yang tidak terlalu sehat.

dunia pendidikan hari ini, memang masih belum menempatkan guliran inovasi dan motivasi bagi peserta didik. seluruhnya diarahkan pada penilaian kuantitatif. bukan pada materi kualitatif, inovasi dan kreatifitas. kungkungan penjara ujian nasional, bahkan hanya sekedar ke toilet pun, melahirkan budaya yang tak baik bagi psikologi generasi.

begitu banyak kesalahan berkelanjutan yang telah diciptakan oleh sistem pendidikan nasional. mulai dari ujian nasional yang tak memperhatikan kualitas pendidikan pada setiap lokasi, hingga pada kurikulum yang tidak mencerdaskan dan metodologi pembelajaran yang membelenggu.

hanya pada sekolah-sekolah berbiaya tinggi yang menyajikan metodologi yang menyenangkan dan menempatkan peserta didik sebagai individu yang punya kreatifitas dan inovatif yang luar biasa. selebihnya, mencatat, menghapal dan menuliskan ulang. alam, sebagai tempat belajar, sudah tak lagi terpakai. model-model pembelajaran yang berada dalam gurita bisnis buku pelajaran, dan gaji guru yang tak memadai, melahirkan generasi robot.

percaya, walau sulit untuk menjadi percaya. kepercayaan yang dibangun tanpa proses bergerak di dalam otak, akhirnya hanya menciptakan kesadaran semu. buku teks yang tebal, seolah penuh dengan kebenaran. padahal tak ada yang benar, kecuali yang disepakati menjadi benar. selebihnya, hanya mengandalkan kekuatan intimidasi untuk menyepakati bahwa sesuatu itu benar.

banyak pengetahuan yang dimasanya tidak dipercayai, lalu dipercayai berabad kemudian. banyak perdebatan yang dianggap asumsi, baru diyakini setelah bertahun-tahun dilupakan. masih banyak, dan lebih banyak, titik pengetahuan di alam kehidupan. yang tak mungkin ditemukan jawabannya dengan hanya sekedar menjawab ujian nasional yang penuh dengan kekerasan di dalamnya.

pada ke-percaya-an !



Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :


Ade Fadli. 2009. ke-percaya-an. http://timpakul.web.id/ke-percaya-an.html (dikutip tanggal 7 February 2012)



-- timpakul.web.id - @timpakul



Ditulis oleh

lahir dan besar di tepi karangmumus. berceloteh dengan negativisme dan pesimis. berjalan menuju berakhirnya sang waktu.

Saikung mahalabiu gasan “ke-percaya-an”

Show / Hide Comments
  1. AL says:

    sebenarnya penggunaan istilah Pengawas sdudah tidaklagi tepat, bisa saja diganti dengan kata ‘Pendamping’, yang lebih terdengar lunka. maksudnya Gur pendamping peserta ujian, yang sebatasa melayani, dan menjaga kelancaran prosessi UJian. bayyangkan Pengawas adala, kegiatan mengamati sesuatu, misal orang,, benda gunung berapi, dan maaf Binatang, sehingga di peroleh hasil dari segala aktifitas yang berhasil di amati atau d awasi. kegiatan itu hanya membuka atmosfer tegang yang semakin memanas, terlebih lagi standar kelulusan yang hanya jalan satu-satunya melalui prosesi UJIAN NASioanl, walaupun sebenaranya masih banyak parameter uji lain yang dapat menentukan tingkat kberhasilan belajar siswa, yang tidak hanya ditentukan melalui sejumlah mata pelajaran yang belum mampu di jadikan modal survive di kehidupan mendatang. sehingga saya bertanya, di mana peran oprang tua, keluarga dan guru, dosen selam mereka berada di rumah dan ruang kegiatan belajar mengajar. semestinya masing-masingya telah memberikan pendidikan bahwa tidak jujur itu adalah masalah besar tidak lagi urusan orangtua dan pendidik, tetapi sudah menjadi urusan seseorang dengan Tuhan yang selama ini di percayainya. lagi-lagi siswa tidak pernah di anggap dewasa oleh guru, yang semestinya di berikan kepercayayan penuh karen siswa pun akan mempertanggung jawabkan segala perilakunya selama Hidup di hari akhir nanti. Terima kasih

Bekomen yukz