Tiga tahun lalu, World Rainforest Movement bersama berbagai organisasi di dunia mendeklarasikan tanggal 21 September sebagai “International Day against Monoculture Tree Plantations” atau “Hari Internasional melawan Perkebunan Monokultur”. Begitu banyak dampak yang telah diakibatkan oleh pembukaan lahan untuk kepentingan perkebunan (termasuk hutan tanaman) skala besar. Mulai dari penggusuran rakyat dari sumber kehidupannya, pengambilan lahan secara paksa, hingga pada pengrusakan aliran air bersih.
Perkebunan skala besar juga telah menghilangkan keanekaragaman hayati (biodiversity), mulai dari satwa liar tidak dilindungi hingga yang terancam punah. Belum lagi menghilangnya hamparan vegetasi hingga tanaman perdu, yang memiliki nilai lebih besar dibandingkan hanya dengan menghamparkan tegakan akasia, leda ataupun kelapa sawit. Apotek yang maha luas secara perlahan menghilang. Pasar tradisional pun tergerus. Kantor yang selama ini menjadi tempat bekerja komunitas lokal berganti menjadi sebuah hamparan padang yang tak lagi begitu bernilai, dan hanya menjadikannya sebagai pekerja.
Begitu banyak perijinan dikeluarkan oleh pelayan publik. Setelah selembar kertas didapat, para pemodal bercengkerama dengan perbankan dan lembaga keuangan (internasional). Saling berjanji memberi keping emas yang lebih banyak. Satu persatu pepohonan rebah. Tanah merah merekah. Satwa berlarian tak tentu arah. Sungai yang dulunya jernih perlahan semakin menjadi kecoklatan. Aliran sang waktu jadikan nadi kematian. Hamparan tanah sejauh mata memandang. Pemodal merapikan koper, beranjak pergi, meninggalkan bongkahan tanah merah yang mulai mengeras. Lupa sudah akan janji kesejahteraan bagi mereka yang hidup dari hutan kemarin. Kelapa sawit tak ditanam, apalagi akasia maupun leda. Ladang-ladang tak lagi menyisakan kesuburannya. Satu per satu anak negeri pergi ke kota, meninggalkan kampung yang tak lagi beri kehidupan. Mengais rejeki diantara keangkuhan gedung, menjadi pekerja, dan tak lagi menjadi tuan di atas tanah sendiri.
tak penting kebun kayu !
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2007. kebun kayu. http://timpakul.web.id/kebun-kayu.html (dikutip tanggal 19 May 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul
Hal seperti ini memang sangat memprihatinkan untuk kita semua.
Terus terang saja jumlah penduduk di dunia yang jumlahnya terus bertambah dari tahun ketahun juga sangat meprihatinkan, Banyangkan saja, kalau jumlah penduduk bertambah secara tidak langsung membutuhkan lebih banyak bahan pokok makanan.
Bahan pokok makanan tambah lama perlu dihasilkan dengan cepat dan membutuhkan lahan yang luas. Boleh saja teknologi tambah maju, jadi tidak membutuhkan lahan yang sangat luas. Tetapi Pertumbuhan penduduk harus dan HARUS dijaga, itu yang paling penting dan KB perlu dijalankan lagi, tidak hanya di Indonesia tetapi di semua negara untuk berpartisipasi.
Bayangkan saja kalau di Cina tidak menjalankan peraturan 1 anak pada tahun 80an, jumlah penduduk Cina mungkin suda tidak terbayangkan. Dan sekarang India dengan bangganya mengatakan penduduknya lebih banyak dari Cina “JADI KENAPA?” Apa bangganya punya penduduk yang sangat banyak tapi kesejahteraan penduduk sangat rendah.
Semoga informasi ini berguna
Terima kasih