Sebuah diskusi yang membahas tentang Gerakan Marxisme Internasional yang digelar di Toko Buku Ultimus, Jl Lengkong, Bandung, dibubarkan polisi. Padahal diskusi ini baru berjalan sekitar 20 menit. [detik]
Apa yang salah dari sebuah diskusi tentang sebuah gerakan, sehingga sebuah organisasi karya kepemudaan (yang isinya pasti sudah tidak lagi muda) memiliki hak untuk membubarkannya. Polisi juga melakukan hal yang serupa. Sebuah kebodohan intelektual yang ditunjukkan oleh kedua lembaga tersebut. Dalam sebuah sejarah, organisasi yang berlabelkan Pancasila yang dikultuskan malah cenderung melakukan hal-hal yang melanggar hak asasi manusia. Sudah lupa apa yang menjadi makna dalam kelima sila ideologi negeri ini. Ke-Tuhan-an, ke-manusia-an, per-satu-an, ke-rakyat-an, ke-adil-an.
Ketika sebuah pemikiran klasik coba diangkat dan dipersandingkan di negeri ini, selalu dianggap sebagai cikal-bakal permasalahan. Komunisme yang selalu diidentikkan dengan Partai Komunis Indonesia. Sehingga apa yang dimaknai dengan komunisme selalu dianggap sebagai sebuah gerakan pembantaian. Pertanyaannya: Siapa yang membantai siapa?
Mungkin menarik membaca ulang buku “Yang Berlawan” yang diterbitkan oleh Yayasan Sapulidi. Sejarah negeri yang tak terungkap. Bagaimana gerakan kemerdekaan digagas dan diproklamasikan. Siapakah tokoh pemuda yang menculik Soekarno agar mau memproklamasikan negeri ini? Adakah yang menyadarinya, bahwa negeri ini merdeka karena kelompok intelektual muda negeri ini melakukan perlawanan terorganisir? Apakah organisasi karya kepemudaan dan polisi pernah tahu tentang ini? Sangat diyakini, TIDAK! Karena ini adalah bagian sejarah yang sengaja disembunyikan oleh Soeharto dan pengikutnya. Ketika mempercayai bahwa Indonesia dimerdekakan oleh kelompok opportunist, maka anda adalah bagian dari kelompok Drakula penghisap darah anak negeri.
tak penting kekerasan !
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2006. kekerasan terhadap diskusi. http://timpakul.web.id/kekerasan-3.html (dikutip tanggal 9 February 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul