“apa itu perubahan iklim saja mereka masih belum tahu“. ini realita. walau mereka sudah membentuk regu belajar, sudah studi banding, dan sudah jalan-jalan ke sana-sini. bukan hal yang terlalu aneh bagi sebuah dunia yang instan. ingin hanya mengejar keping emas, lalu melupakan hal yang mendasar, kenapa mereka harus berbuat sesuatu.
ketika isu perubahan iklim menjadi menggelegar, hampir setiap sudut berbicang tentang perubahan iklim. apalagi ketika terdengar akan ada keping emas yang dialirkan. semua berlomba. tak lagi menyadari pengetahuan yang dimiliki. hasilnya, broker yang menari di atasnya.
lembaga-lembaga baru terbentuk. struktur birokrasi disibukkan dengan perjalanan. perjanjian ditandatangani. pengumuman disebarkan. “kami berkomitmen“. dengan sedikit bisikan lembut “mana keping emasnya?“.
harus kembali ke titik nol. untuk memahamkan lagi apa yang terjadi pada bumi yang tak henti berputar. meningkatnya emisi. industrialisasi. pengerukan kekayaan alam. meluapnya limbah di perairan. kelabunya langit kota. hanyutnya batang-batang kayu yang tak lama lagi akan hancur di kloset.
memulai lagi membuka buku pelajaran di sekolah dasar. mengingat definisi iklim. memahamkan pertarungan yang sedang terus akan berlangsung. kekuatan ekonomi menghujamkan kepentingan kehidupan. satu per satu dedaunan gugur tertimpa pohon tumbang. peradaban akan segera berganti. menemukan titik baliknya dalam waktu yang tak lama. saat kesadaran itu telah ada, semoga masih belum terlambat untuk bertindak.
pada titik nol yang entah dimana !
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2009. kembali ke titik nol. http://timpakul.web.id/kembali-ke-titik-nol.html (dikutip tanggal 19 May 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul
Ironis, atau paradoks mungkin?!
Mereka sok berkomitment, padahal ntah apalagi yang dicari.
.-= yans’dalamjeda’´s last blog ..Simpang Jalan =-.