"Tanda apa itu?"
"Ini adalah cap besi karena saya mengemis"
"Kenapa jadi pengemis?"
"Kami tak ada tanah untuk digarap. Semua dikuasai oleh kelompok berkuasa"
[sepenggal dialog dalam film Lady Jane dengan penyesuaian]
Tanah. Ternyata menjadi sebuah hal yang penting bagi sebagian besar masyarakat untuk bisa tetap bertahan hidup. Semakin banyak yang terpaksa tidak memiliki makan, harus bertahan hidup dengan mengemis. Tak ada yang pernah bertanya mengapa jumlah mereka semakin banyak. Mungkin pula tak aneh bila di bulan-bulan ini, hingga setelah lebaran, pengemis semakin banyak di Jakarta. Bukan karena mereka tidak ingin berusaha, namun karena mereka dimiskinkan.
Lihat saja penguasaan lahan di negeri ini, dimana sebagian besar hanya dikuasai oleh segelintir orang dalam bentuk hak pengusahaan hutan, perkebunan maupun pertambangan. Semakin mengecil pula lahan yang dapat digunakan oleh rakyat dikarenakan adanya kawasan konservasi dan kawasan lindung yang setiba-tibanya ada, tanpa pernah mereka sadar telah berada di dalamnya.
Permasalahan tanah, harusnya menjadi hal yang utama di negeri ini. Kalau selalu ingin belajar ke negeri China, belajarlah bagaimana China melakukan re-distribusi tanah kepada rakyat di saat mereka sedang mengalami masa-masa sulit. Hasilnya, mereka sangat cepat bangkit. Indonesia? Tanah tetap dikuasai oleh pemodal (bahkan pemodal asing), yang membuat rakyat semakin dimiskinkan.
Sepertinya, saya memang orang miskin, karena saya tak memiliki tanah untuk saya garap, apalagi untuk membuat sebuah hutan kecil yang menyumbang oksigen bagi kehidupan.
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2005. saya orang miskin [4]. http://timpakul.web.id/kemiskinan-4.html (dikutip tanggal 7 February 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul
"Tanda apa itu?"