Konservasi: Catatan Kecil Yang Tak Penting Dibaca
Posted on: Wednesday, Jun 14, 2006
Di sela acara membedah orangutan, seorang kawan yang sedang beraktivitas di isu konservasi mengajak berbincang singkat. Tak beda dari satu lembaga ke lembaga lain. Aura yang diinginkan sepertinya belum ditemukan saat ini. Tak banyak yang mungkin dirubah dari sebuah arena permainan konservasi. Bagaimana birokratisnya sebuah lembaga konservasi, hingga tentang sebuah cara pandang yang berbeda. Ajakan duduk bareng belum pernah terwujudkan, dikarenakan berbagai hal, utamanya kesibukan.
Sementara seorang kawan lainnya, yang beraktivitas sebagai mitra kawasan konservasi, malah memiliki banyak gagasan, namun terkendala dengan pasifnya lembaga pemerintah yang mengelola kawasan konservasi tersebut. Ada banyak peluang dimatanya. Melangkah itu mungkin, karena sebagai mitra, memungkinkan untuk pendanaan, hanya masalah pengemasan sebuah program agar konsumen menjadi tertarik untuk membelinya. Penggerogotan kawasan konservasi, yang tak jauh dari ibukota Kaltim, masih akan terus berlangsung. Kepentingan ekonomi sesaat yang dikelola oleh para kapitalis kecil telah pula semakin menjadi kanker yang tak mungkin diberikan pengobatan sesaat.
Banyak yang berbeda, dan tak harus sama. Emosi, egoisme, hingga sebuah ideologi, ketika berbincang tentang konservasi semakin rumit untuk dipertautkan. Bahkan seorang peneliti yang telah lama beraktivitas di isu satwa, seolah lupa dengan gagasan beliau disaat sedang bersekolah di negeri empat musim. Indonesia, hanya menawarkan sebuah sistem mekanis dalam mencipta.
Ketika seorang akademisi dari Bogor memaparkan tentang sebuah cara pandang baru, beberapa kawan berujar, “harusnya kita disini membangun yang seperti itu”. Membongkar kreatifitas agar tak selamanya berada dalam sebuah tempurung.
tak penting untuk dibaca !














sylvie
June 17th, 2006 at 6:31 pm
Permalink this comment
1
bang,
mana lagi tulisan yang lainnya, bikin lagi bang, nanti sylvie baca lagi.
sylvie
[Reply]