Kota ini sedang berulang tahun. Kesenangan menjadi milik pelayan publik, apalagi pada mereka yang juga mengintegrasikan dengan event organizer. Artis didatangkan. APBD dihamburkan. Rekor MURI coba dipecahkan.
Ada hal yang patut disadari warga kota, bahwa kota ini sedang bergerak tanpa pilot. Modul autopilot sedang ditekan. Sang pilot entah sedang berjalan kemana. Sang co-pilot hanya sesekali mengumumkan arah perjalanan. Namun, arah perjalanan sudah ditentukan. Tak berubah arahnya.
Lubang-lubang tambang tengah mengancam warga kota. Banjir mengiringi perjalanan. Lumpur sesekali menciprat pada jendela kota. Aliran listrik sesekali padam. Kegelisahan warga sudah memuncak. Pintu emergency belum dibuka. Perjalanan penuh bahaya terus berlanjut.
Dimanakah sang pilot? Apakah ia sedang berasyik-masyuk dengan pramugari? Ataukah ia sedang menikmati kehangatan spa di ruang kecil yang diperuntukkan bagunya oleh mereka yang menjadikannya pilot.
Co-piloylt berujar “sehala sesuatu akan indah pada waktunya”. Tak pernah ada kejelasan kapan waktu itu akan tiba. Kapan keindahan itu akan hadir. Perjalanan menempuh bahaya terus berlangsung. Alarm tanda bahaya sudah dipastikab rusak. Hanya kegelisahan sedikit warga yang ada. Sebagian lainnya tak pernah tahu apa yang sesang terjadi pada kotanya.
Beberapa warga mulai membunyikan kentongan. Pramugara berseragam hitam merebut paksa kentongan itu. Alat makan ditabuhkan. Sebuah moncong senjata berada tepat di pelipis ia yang membunyikan. Warga diam. Hening. Seolah perjalanan ini menuju arah yang tepat.
Jendela ditutup rapat. Segala kanal informasi dimatikan. Hanya insting yang bekerja. Dan hanya mereka yang disadarkanlah yang menyadari bencana yang menghadang. Dan perlu disadarkan dengan sebuah keyakinan. Warga kota, mari menyadarkan diri. Bahwa bencana sedang mengancam kehidupan.
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2012. Kota Autopilot. http://timpakul.web.id/kota-autopilot-2.html (dikutip tanggal 23 February 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul
sepertinya akan sangat lama untuk Indah kota Samarinda ini, politisinya sepertinya hanya menjual janji-janji tanpa pernah bisa menepati karena terganjal deal politiknya dengan kapitalis lokal yang mayoritas pengusaha batubara