lapar
Posted on: Sunday, Nov 15, 2009
“kamu lapar” tanyaku
“ya” dia menjawab sambil terus memegang ranting kecil
“sama.. aku juga lapar”
dia menatapku dengan tatapan yang entah seperti apa. ranting kecil di tangannya terus dipatahkannya sedikit demi sedikit. hamparan toko, foodmart, pujasera, makanan cepat saji, hingga warung tepi jalan, menyinari tempat kami duduk.
“kita beli makanan disana” ujarku sambil menunjuk sebuah warung.
dia menggeleng. “aku menunggu ibuku” ujarnya perlahan.
“atau kamu mau uang ini?” selembar uang aku serahkan padanya.
dia mendorong tanganku perlahan. “aku nggak boleh terima uang. ibu bilang aku bukan pengemis. harus ada kerja untuk dapatkan uang.”
“maaf ya”
“aku hanya ingin menunggu ibuku disini” ucapnya perlahan.
“memang ibumu sedang dimana?”
dia menatap pada sudut simpangan. “harusnya ibu ada disana”
“terus dimana sekarang ibumu?”
“ibu biasa berjualan di sana. tadi pagi, segerombolan orang berseragam mengobrak-abrik dagangan ibu. ibu terus memegang erat dagangannya.”
“lalu?”
dia terdiam sesaat. matanya hampa terus menatap sekeliling. meyaksikan seorang polisi yang sedang bertransaksi dengan pengendara sepeda motor yang tak menyalakan lampu tanda berbelok. uang diberikan pengendara sepeda motor itu. dengan sigap tangan polisi itu mengambil dan menyimpannya di saku celananya. kertas yang biasanya diberikan ke pengendara tak diberikan, dan kembali diletakkannya di bawah jok sepeda motornya. tak lama, pengendara sepeda motor itu berlalu. dan polisi itu kembali duduk di warung kopi sudut jalan.
“ibu didorong oleh orang berseragam itu. masuk ke dalam selokan. tak ada suara ibu lagi setelah itu. kawan-kawan ibu mengangkat tubuh ibu dari selokan. tak ada gerakan. ibu dibawa entah kemana”
“kamu tidak ikut dengan ibumu saat dibawa?”
“aku ingin ikut. tapi kawan-kawan ibu melarangku. dan aku disuruh menunggu ibu disini.”
“kita makan dulu yuk..”
“nggak. aku mau tunggu ibu” ia mengambil remah dedaunan di dekat kakinya. matanya terus menyaksikan hilir mudik orang masuk ke sebuah restoran cepat saji. beberapa anak duduk di depan pintu masuk restoran cepat saji itu. sesekali anak-anak itu mengulurkan koran ataupun sekedar tangannya kepada pengunjung. seorang anak juga sedang mengais tempat sampah. entah apa yang sedang dicarinya. pengunjung restoran itu hanya berlalu lalang. tak menatap. juga tak ada senyum bagi anak-anak itu.
“sampai kapan kamu mau tunggu ibumu?”
ia menghela nafas. pendek. kepalanya digelengkan sesaat. “nggak tahu. tapi aku harus tunggu ibu”
“kamu tinggal dimana?”
ia berdiri sejenak. dan diarahkan tangannya ke sebuah ruko. “aku dan ibu sering tidur di tepi toko itu. dulu kami tidur di tepi rumah ibadah yang disitu. tapi pengurus rumah ibadah mengusir kami. katanya disitu nggak boleh untuk tidur.”
“bapakmu ada dimana?”
dia menatapku. diam. kembali dia duduk sambil terus memainkan jarinya.
“maaf .. kalau aku salah bertanya” ujarku.
“nggak salah. cuma aku bingung harus jawab apa. aku tak pernah tahu dimana bapak. ibu juga nggak pernah cerita tentang bapak.”
tiba-tiba dia berdiri. dan berlari menyeberangi jalan. dia mendekat pada seseorang. mereka bercakap. tak tahu apa yang mereka perbincangkan.
aku beranjak dari tempat dudukku. dan berjalan menuju arah yang aku juga tak pernah tahu dimana akhirnya. sayup ku dengar tangisan dia. kata orang-orang, ibunya telah meninggal. saat dibawa ke rumah sakit, perawat disana bilang harus ada uang jaminan untuk bisa dirawat. mereka tak ada mempunyai uang yang cukup. ibunya juga tak punya surat keterangan miskin. KTP pun tak ada. ibunya akhirnya tak dirawat. menghembuskan nafas di pelataran rumah sakit megah yang uangnya dari pemerintah. tak ada petugas medis yang menolongnya. mereka membawa ibunya ke rumah salah satu diantara mereka.
aku masih harus berjalan. pada waktu yang terus menggelinding. diantara cakar-cakar kekuasaan yang penuh dengan keserakahan. nurani hanyalah sebuah slogan di baliho calon walikota ataupun calon gubernur ataupun calon anggota parlemen. gemerlap lampu pusat perbelanjaan di titik nol kota tak memperjalas arah langkahku.
negeri ini kabarnya punya kemanusiaan. negeri ini kabarnya punya rasa persaudaraan. negeri ini kabarnya punya kebersamaan. tapi sepertinya telah hancur tergerus oleh banjir dan kekeringan yang selalu terjadi. semakin sedikit mereka yang peduli. walau hanya sekedar untuk melayani. aku ingin berhenti. pada waktu yang jarum jamnya tak lagi berdetak.
[091115]
:: aku masih lapar














Komentar