“Tahun ini badai matahari ya? kan udah biasa… lagian juga udah ada bulu mata anti badai.. #eh“
Matahari, merupakan salah satu sumber utama kehidupan makhluk di bumi. Menyediakan energi bagi sesiapa yang disinarinya. Energi ini kemudian berubah bentuk, sesuai dengan inginnya dan yang dinginkan. Hingga mampu menggerakkan, segala yang bergerak dan ingin bergerak. Walau malam menjelang, matahari masih menyisakan hangatnya untuk tetap menjaga kehidupan.
Saat bertemu seorang siswa SMK di sebuah expo yang tak begitu menarik, ada peragaan alat listrik tenaga surya. Panel kecil dan panel besar. Dengan sebuah accu yang entah besarnya berapa. Harganya tak murah, 7 juta lebih dikit untuk yang kecil dan 11 juta lebih banyak untuk yang besar. “Itu sekalian pasangnya pak” ujarnya. Kok mahal?. “Memang segitu harganya“. #eh.
Setidaknya, satu kemajuan dari mereka. Sudah mampu merakitnya. Entah, apakah ada juga pembelajaran untuk membuat panel suryanya. Sepertinya tidak. Hanya bagaimana memasangkan perangkat tersebut. Tapi tetaplah, ini sebuah kemajuan. Ditengah sebuah teknologi yang harusnya menjadi sebuah prioritas untuk dikembangkan, karena negeri ini kelimpahan energi matahari. Namun, tak ada keinginan dari pemerintah, hingga hari ini, memastikan bahwa anak negeri ini mampu mengembangkan teknologi listrik alternatif.
Ada banyak cerita tentang Pembangkit Listrik Tenaga Diesel dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir yang cukup mengganggu kehidupan. Namun kenyataannya, hingga hari ini pun Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap pun, harus berbahan bakar batubara, bukan dari gas alam, yang tentunya akan sedikit lebih baik. Apalagi, wacana kemudian yang dikembangkan adalah bagaimana memastikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir bisa menggantikan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, yang berbahan bakar solar. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro pun, cukup banyak dibuat di berbagai wilayah negeri ini, namun tak terlalu terawat, dan telah banyak yang tak lagi berfungsi, seperti di Linggang Melapeh dan Nyuatan, Kutai Barat.
Masih ada sumber energi lain, yang juga tak pernah tergarap serius, tenaga angin dan tenaga gelombang. Hanya listrik tenaga dalam saja yang sepertinya masih lebih diminati. Teknologi-teknologi sumber energi buatan ini, masih sangat jauh dari dimiliki oleh negeri ini. Walau ada, tapi tak pernah menjadi massal, sehingga dapat menjadi satuan yang murah. Pemerintah masih terlalu sibuk memastikan para pemodal memperoleh tempat yang nyaman, di sektor ketenagalistrikan ini.
Lalu, apa yang salah dengan negeri ini? Hanya pasrah untuk menjadi sumber bahan baku dan pasar bagi industrialisasi yang telah berlangsung? Pendidikan yang juga telah dikendalikan oleh industrialisasi tak bersandar pada kebutuhan dan budaya lokal. Terus, dan akan terus. Hingga pada waktunya, tak ada lagi yang mampu diperas dari tanah dan air negeri ini. Berharap pada pelayan publik untuk melakukan sesuatu, itu hanya mimpi kawan !
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2012. Listrik Badai Matahari. http://timpakul.web.id/listrik-badai-matahari.html (dikutip tanggal 23 February 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul