Makam itu

3 January 2012 | topik: celoteh | tagar: , oleh

Jan
03

Hampir setiap yang mau jadi pemimpin datang kemari. Juga ketika perusahaan tambang itu mau buka lubang baru, mereka datang kesini. Sekarang, rumah kami juga akan dipindahkan, karena kompleks ini memerlukan lahan parkir yang lebih luas.” ujar seorang ibu yang berjualan di sekitar situs Kutai Lama.

Tidak begitu aneh, ketika masih banyak warga negeri ini yang meyakini bahwa dengan berdoa di makam seseorang yang dihormati, maka rejeki akan turut mengalir. Sehingga, banyak situs-situs yang dikeramatkan, dan menjadi ramai menjelang pelaksanaan pemilihan ataupun ketika ada sesuatu yang diharapkan harus terwujud. Keyakinan hari ini, masih bercampur dengan budaya yang dipegang. Akan tetapi, keyakinan terhadap budaya, masih diabaikan dalam urusannya dengan kekayaan alam. Dengan mudahnya, ketika memimpin, lahan-lahan produktif yang membangun kebudayaan, diserahkan kepada orang lain, hanya demi memenuhkan pundi-pundi keluarga.

Menunggu Berkah (foto: Suprianto Dona Cantik)

Menunggu Berkah (foto: Suprianto Dona Cantik)

Warga negeri ini masih sangat erat dengan leluhurnya. Keyakinan bahwa kehidupan hari ini tetap berada dalam pengaruh leluhur, menjadikan ikatan tersebut menguatkan kehidupan. Tak jarang, ritual tersebut menjadi rutin. Tak sekedar di hari-hari penuh pengharapan, namun juga ketika telah memperoleh kebaikan dari alam kehidupan. Penghancuran terhadap situs-situs inilah yang kemudian turut serta menghancurkan kekerabatan kehidupan warga.

Namun, beberapa situs juga dengan sengaja dikuatkan oleh pimpinan pemerintahan hari ini. Demi mempertahankan kelanggengan tempat duduk empuk dan basah, walau kemudian harus membongkar ulang catatan sejarah yang telah dipahami publik. Pelanggengan ini terus diabadikan bersama dengan kelompok yang juga meraih keuntungan darinya. Meskipun, ini tak akan bertahan lama, karena setiap warga punya cerita tentang kehidupan yang dipahaminya secara langsung.

Memahami negeri ini, hanya dapat dilakukan dengan menjelajahnya. Menemukan remah-remah pengetahuan yang berserakan. Merangkaikan kembali ingatan kolektif. Negeri ini benar-benar harus dibangun dengan sebuah keyakinan bersama. Bukan semata dengan mempercayakannya pada satu dua orang yang menuliskannya. Setiap warga punya cerita, yang harus diceritakan dengan caranya sendiri, agar menjadi sejarah yang sebenarnya.



Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :


Ade Fadli. 2012. Makam itu. http://timpakul.web.id/makam-itu.html (dikutip tanggal 19 May 2012)



-- timpakul.web.id - @timpakul



Ditulis oleh

lahir dan besar di tepi karangmumus. berceloteh dengan negativisme dan pesimis. berjalan menuju berakhirnya sang waktu.

3 ikung mahalabiu gasan “Makam itu”

Show / Hide Comments
  1. samsuni says:

    lokasi tepat x di mana, mang

Bekomen yukz