Mari Menanam, Siapa yang Merawatnya ?

28 November 2011 | topik: celoteh | tagar: , oleh

Nov
28

“Kalau sudah tertanam satu miliar pohon, lalu siapa yang akan merawatnya?” tanya seorang kawan. “Tak perlu khawatir, akan ada Club Merawat Pohon“. “Kalau begitu, akan ada juga Club Memanen dong?”. “Pastinya… “.

Gerakan Menanam Pohon sepertinya sudah mulai menjadi acara seremoni yang tak henti. Ada Hari Menanam Pohon Indonesia, ada Gerakan Menanam Satu Orang Satu Pohon, bahkan Kalimantan Timur mekastikan 3,5 juta warganya akan menanam 5 pohon setiap orang. Seremoni ini tak henti berlanjut. Tapi beberapa seremoni berlangsung di tempat yang sama, menanam pohon yang sama, hingga berulang, dan entah telah berapa kali ditanam. Pertanyaan sederhana adalah dimana pohon-pohonnya yang telah tertanam?

Pernah satu waktu menanam di sebuah bumi perkemahan. Memastikan kepada pengelola, tak akan ada penggusuran lagi di kawasan tersebut. Terbayang, lima tahun mendatang akan ada pelindung saat bertemu. pepohonan yang rindang, dan melidungi kemah dari panas matahari. Dua tahun berikutnya, hamparan tanah tersebut sudah berubah. Menjadi datar tak berpepohon. Tak ada lagi yang pernah di tanam. “Kami akan tanam lagi” ujar pengelola. Lima tahun berlalu, tak ada satupun pepohonan yang ditanam.

Pada tempat berbeda, beberapa batang bibit pepohonan ditanam. Lima tahun berlalu, pohon menjadi rindang. “Sudah saatnya ditebang, dedaunnya hanya mengotori pekarangan kampus.” Tak lama, kawasan itu menjadi tempat parkir. Di sebuah kampus. Tempat mereka para pembelajar. Yang kemudian meniadakan pepohonan, hanya demi sebuah tempat parkir.

Di sebuah kampung, kawasan berhutan dan dikelola dengan baik oleh warga. Datanglah pekerja perusahaan, dengan alat ukur luas, “Kami sudah dapat ijin, untuk menambang batubara disini. Kalian akan dapat ganti rugi.” Hamparan hutan dan kebun buah, yang telah dikelola puluhan hingga ratusan tahun, menghadapi ancamannya. Batubara dan kelapa sawit telah berkuasa. Satu persatu kawasan hutan dihabiskan. Hanya demi devisi, hanya demi pemerintah, dan hanya demi pundi bagi para pemodal. Sementara, warga harus menerima akibatnya. Kehilangan pangan, kehilangan lahan berkehidupan, dan kehilangan jiwa hidupnya, hingga menuju kehancuran budaya.

Menanam pohon tak sekedar menanam. Menanam pohon perlu untuk merawatnya. Menanam pohon harus memastikan kapan memanen buahnya. Menanam pohon itu penting, namun jauh lebih penting untuk meniadakan penghancuran kawasan-kawasan hutan dan memberikan hak kelola hutan bagi warga !



Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :


Ade Fadli. 2011. Mari Menanam, Siapa yang Merawatnya ?. http://timpakul.web.id/mari-menanam-siapa-yang-merawatnya.html (dikutip tanggal 19 May 2012)



-- timpakul.web.id - @timpakul



Ditulis oleh

lahir dan besar di tepi karangmumus. berceloteh dengan negativisme dan pesimis. berjalan menuju berakhirnya sang waktu.

4 ikung mahalabiu gasan “Mari Menanam, Siapa yang Merawatnya ?”

Show / Hide Comments
  1. Soal minuman, tidak seperti di kedai masakan timur tengah di kawasan Ampel yang menyajikan banyak varian minuman, disini jenis minuman hanya sedikit.

  2. hutang negara juga sudah sampai ke satu angka di mana pakar ekonomi berpandangan kerajaan tidak perlu berkompromi lagi.

  3. fotodeka says:

    hmmm… kampusnya kampus Unmul kah om? hehe.. tapi hutan kampusnya masih banyak ding… :D
    tapi kalau habis ditanaman terus belum sampai 5 tahun udah yang nongol kabar buruk ya nyebai dan males banget tuh…

Bekomen yukz