membajak pemudik
Posted on: Saturday, Sep 26, 2009
“lima ratus ribu dari sejuta untuk keluarkan mobil, lima puluh ribu dari seratus ribu untuk lampu marka yang lecet, dua ratus ribu dari dua ratus lima puluh ribu untuk ambulans, dan dua ratus ribu lagi untuk mobil derek. tak ada yang gratis. sudah menderita luka dan rusak kendaraan, masih juga harus dibajak oleh pelayan publik.“
layanan perlindungan sepanjang perjalanan mudik ataupun balik lebaran, tak seperti yang terbayangkan. harga transportasi yang lebih murah dan ketersediaan keramahan pelayan publik. semua seperti yang dibayangkan, karena inilah negeri yang masih menghamba.
kurangnya kesejahteraan ataupun kurangnya menghargai sebuah profesi pelayan publik, menjadikan siapapun akan menjadi mangsa. tak hanya yang menyalahi aturan. ketika terjadi kecelakaan, mereka pun masih mengais rejeki dari korban. tak ada lagi nurani. yang penting kantong bisa terpenuhi. tak jua peduli, bahwa keluarganya akan memakan makanan dari hasil mencederai orang lain.
tak terlihat memang, nasi berlumur darah. yang terbayang hanya tumpukan keping emas. gaji yang tak seberapa, menjadi alas hak untuk membajak pemudik. semua bisa diatasnamakan. lupa sudah jelajah bulan yang disucikan.
para pemimpin, masih sibuk berkutat untuk menyelamatkan diri. menyiapkan pintu darurat agar tetap aman meluncur di hari tua. kekayaan yang berlimpah, masih belum tercukupkan. tak lagi terlihat anak manusia yang masih berharap korannya terjual di depan sebuah gerai makanan cepat saji.
inilah negeri yang lupa. negeri yang hanya berpikir untuk keluarga sendiri. katanya semua kita bersaudara. namun persaudaraan itu terhenti ketika silau keping emas membayangi. berhentilah mengharap, karena tak ada lagi yang bisa diharap. satu jalan yang bisa dilalui, merangkak anak tangga, ambil alih !
pada membajak pemudik !














Komentar