Menantikan Getaran Dahsyat Perubahan Peradaban
Posted on: Tuesday, Feb 10, 2009
“Kalau sekadar bertujuan menyampaikan informasi dan pengetahuan, tak satupun universitas punya justifikasi apa pun untuk tetap berdiri sejak berkembangnya mesin cetak di abad kelimabelas” kata matematikawan-filsuf Alfred N. Whitehead, yang dikutip dalam pengantar penerbit untuk buku Fritjof Capra, The Hidden Connection. Kalimat ini sangat membawa saya berpikir pada ruang pertarungan, ketika kemudian melihat realita sosial yang ada di Indonesia hari ini. Begitu banyaknya tumbuh lembaga-lembaga kursus komersial hingga tumbuhnya “home schooling” sebagai jawaban atas kehausan pengetahuan. Belum lagi, telah begitu banyaknya blog dan website yang mempertukarkan pengetahuan. Hingga akhirnya terhenti pada sebuah fenomena minimnya mahasiswa yang ingin belajar pada perguruan tinggi negeri, termasuk pada ilmu-ilmu non-marketable (kelompok ilmu yang dipandang tidak memiliki prospek pasar tenaga kerja).
Pagi ini, kawan saya juga berujar “sebuah transformasi sosial hanya bisa terjadi akibat adanya guncangan hebat (shock) terhadap sistem yang sedang berjalan, termasuk diakibatkan oleh kekerasan (massal) maupun akibat bencana”. Kawan saya ini juga menyampaikan bahwa sebagian besar perubahan ideologi peradaban pada sebuah kelompok komunitas (negara), selama ini berubah bukan akibat sebuah proses pembelajaran terhadap proses peradaban sebelumnya (evolusi), dan sangat sukar untuk bertransformasi secara alami.
Merefleksikan kedua pendapat tersebut, menjadikan saya melihat negeri ini sebagai sebuah negeri yang tak pernah mau belajar dan berpikir tentang masa depan bangsa ini. Pada sebuah pertemuan saya dengan salah seorang staf parlemen yang mempersiapkan sebuah peraturan perundang-undangan, ia bertanya “apakah dengan mengakui keberadaan sistem yang berlaku di komunitas lokal/adat tidak akan menggiring Indonesia yang merupakan negara kesatuan menjadi terpecah-pecah?”. Sebuah pertanyaan yang bagi saya sangat tidak beranjak dari sejarah terbentuknya negeri ini. Bila memang benar ada semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang selalu bertengger di kaki Burung Garuda, maka harusnya pertanyaan tadi tidak perlu diajukan. Karena bagi saya, negeri ini dibangun atas puzzle komunitas lokal/adat yang mempersatukan wilayahnya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pilihan-pilihan yang diambil oleh para pejabat negeri pun tidak mampu memberikan jawaban jangka panjang atas kegelisahan rakyatnya dalam menggapai kesejahteraan. Kekerasan psikologis yang dimiliki oleh sebagian besar rakyat akibat dari tekanan ekonomi, telah menggiring cara pikir praktis jangka pendek dalam mengambil pilihan berbangsa. Belum lagi, para akademisi dan ilmuwan yang cenderung hanya bersandar pada teori-teori klasik, tanpa pernah membaca kecenderungan perubahan sosio-kultur yang terjadi hari ini, telah menggiring opini dan cara baca banyak orang pada sebuah pilihan-pilihan mengambil kesempatan dalam celah sempit.
Bemunculannya timpakul (istilah dalam idiom Banjar terhadap orang yang opportunist) menjadi fenomena yang tidak dapat dihindarkan. Peluang perayaan politik lima tahunan, mulai dari pemilihan kepala daerah hingga pemilihan presiden, serta pemilihan anggota legislatif, tak lebih menjadi sebuah pertarungan semu, yang bahkan hanya menjadi sebuah pilihan untuk memperoleh pekerjaan sesaat, bukan lagi pada implementasi ideologi dalam membangun bangsa ini. Karenanya tidak salah kemudian bila kebijakan-kebijakan yang dihasilkan cenderung, bahkan hampir seluruhnya, malah menjadikan sebagian besar rakyat menjadi tertindas.
Bila kelompok pembelajar (akademisi, guru, ilmuwan) telah pula melepaskan diri dari sebuah akar dasar fungsi sosialnya, yang merupakan pengelola pengetahuan dan informasi, maka tidak salah juga akan ditemui kelompok sosial masyarakat yang gamang dalam menentukan langkahnya. Bahkan untuk sekedar menyatakan ya atau tidak pun, masih belum cukup memiliki sebuah keberanian. Sementara itu, kelompok politisi yang semakin tidak ideologis juga tidak pernah menggunakan ruangnya untuk membangun jalan baru bagi negeri. Di sisi lain, kelompok yang menamakan dirinya organisasi sosial kemasyarakatan ataupun lembaga swadaya masyarakat, sudah menjadikan organisasi atau lembaganya sebagai ruang bertahan hidup untuk sementara waktu, tidak lagi sebagai kontrol sosial atas sistem yang tengah berjalan. Pun ketika kelompok agama masih berkutat lebih banyak pada urusan hubungan vertikal dibandingkan memperkuat hubungan horisontal, yang mana ketika membangun hubungan horisontal pun, tidak menjadi penguat terhadap pencapaian cita-cita berkehidupan.
Kegelisahan saya yang utama saat ini adalah hingga kapan bangsa ini dan anak bangsa di dunia akan beranjak pada sebuah kesepahaman untuk membangun sebuah kesejahteraan bersama dalam bingkai keseimbangan kehidupan? Yang juga tidak semata pada kesejahteraan bagi manusia, namun juga pada makhluk-makhluk lain yang telah diberikan nafas kehidupannya hari ini. Bila saja pertarungan-pertarungan kepetingan elite permukaan bumi, yang hari ini dikuasai oleh kelompok kapitalis, yang beragam warna, tidak segera dihentikan, maka bisa jadi benar apa yang telah diramalkan oleh peradaban Maya, bahwa akan ada sebuah “shock” dahsyat dalam waktu yang tak lama, yang akan mendorong perubahan peradaban kehidupan makhluk di permukaan bumi. Hanya kepada mereka yang mampu beradaptasi secara cepat dan telah membangun kemandirian pikiran yang akan mampu bertahan di dalamnya.














Komentar