Diskusi tentang multi-stakeholders kembali mencuat di sebuah milis. Multi-stakeholders dipandang oleh sekelompok orang sebagai sebuah cara yang bisa dimainkan. Sementara sekelompok lainnya yang pernah ber-multi-stakeholders memandang bahwa lebih banyak energi dan pesimis di hari kemudiannya. Sedang satu kelompok memandang bahwa multi-stakeholders sebagai sebuah yang sangat ditabukan.
Melihat gejolak multi-stakeholders, masih perlu dilihat lebih dalam. Karena point keseimbangan pengetahuan masih belum pernah dilirik dalam ber-multi-stakeholders. Disaat satu kepentingan (biasanya kelompok rakyat) masih belum memiliki pengetahuan yang memadai, telah diajak ber-multi-stakeholders, akhirnya malah menjadi sebuah pen’jebak’an ke dalam lingkar multi-stakeholders ini. Kemudian, kelompok pemerintah memiliki kecenderungan pula miskin pengetahuan, yang akhirnya hanya menjadi sebuah stempel. Yang sangat bermain dalam kelompok multi-stakeholders adalah pihak swasta dan kelompok organisasi non-pemerintah (yang cenderung mengambil kendali). Lalu kalau sudah demikian, masih layakkah ber-multi-stakeholders saat ini?
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2006. multi-stakeholders: efektifkah?. http://timpakul.web.id/multipihak.html (dikutip tanggal 8 February 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul
multi-stakeholders dipakai oleh sebagian kelompok masyarakat sipil sebagai istilah bagi berbagai kepentingan yang memiliki keterkaitan (kepentingan) terhadap hal tersebut.
bang, multi stakeholder itu apa sih? bukannya stakeholder sendiri sudah jamak? apa maksudnya beda kepentingan antara stakeholder (alih-alih para stakeholder memiliki kepentingan yang serupa)?