Jumat malam, 11.11.11. Taman Menteng, sebuah taman yang merupakan wadah dilakukannya penggusuran terhadap warga yang berkehidupan di ibukota negeri. Terlalu begitu banyak orang yang menggunakannya untuk membagi rasa. Sebagian sibuk untuk melatih kemampuan diri dengan menguras keringat. Sebagian harus berkeringat bersama dengan pasangan yang diharapkannya setia.
Sekelompok orang. Kesehariannya penuh dengan kata amarah. Malam itu, amarah menjadi sebuah alunan menggerakkan jiwa. Cerita mengalir pada antara alunan nada dan kata. Satu persatu membaca sebuah catatan yang pernah ditorehkan oleh Widji Thukul. Seorang Andreas mengenalkan pada ruang ini. “Kita semua tak pernah membaca puisi, tapi malam ini semua harus membaca. Tak harus bagus, karena memang kita semua bukan pembaca puisi” ujar kawan ketika yang lain menghindar membacakan puisi Widji Thukul.
Satu aliran energi yang berbeda dilahirkan di ruang kota. Cahaya lampu taman yang kadang harus padam, entah mengapa. Rerumputan tipis yang tercukur rapi. Penjaja kopi yang dengan semangat selalu menawarkan menu-menu minuman penghangat dan pendingin badan. Celotehan di seberang dengan kesibukan yang beragam. Taman Menteng, menjadi pembuka Nongkrong Sastra, yang akan digulirkan setiap tanggal 11 pada setiap bulannya, pada taman-taman kota lainnya.
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2011. #NongkrongSastra. http://timpakul.web.id/nongkrongsastra.html (dikutip tanggal 19 May 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul







