pagi hari. diantara anak-anak yang sedang asyik menggoreskan crayonnya pada sebuah kertas bergambar. seorang kawan berujar “herannya, para dosen itu lebih memprioritaskan proyek dibandingkan melakukan penelitian“. aku sedikit bertanya, “kok harus aneh?“.
memang, dunia perguruan tinggi hari ini tengah berada pada ruang hampa. tak menghasilkan begitu banyak terobosan pengetahuan, hanya sedikit cercahan pengetahuan yang lahir dari mereka yang memang ingin melakukan sebuah penggalian pengetahuan. sebagian lainnya, sedang asyik masyuk dengan aliran dana proyek yang menyibukkan mereka. datang dari perusahaan, pemerintah ataupun dari negeri antah berantah.
“dia sekarang sudah punya KP, sebelumnya terlalu sibuk dengan dokumen AMDAL“, ujar kawan yang lain pada waktu berbeda. sepertinya, dunia akademik tak memberikan kepuasan materi. bahkan kepuasan atas sebuah temuan pengetahuan baru pun belum memberikan sebuah kepuasan. hanya keping-keping emas yang dihasilkan dari kelebihan informasi yang dimiliki, menjadi sebuah prioritas.
mungkin benar pilihan mereka. menjadi komentator pada layar kaca, menjadi sukar, karena tak mungkin mereka yang didaerah dimintai pandangan akademiknya oleh pemilik stasiun televisi. hanya media cetak lokal (terkadang nasional) yang mengutip pemikiran para akademisi lokal. walau mereka sudah bergelar hingga Profesor sekalipun, kalau masih ada yang di seputaran ibukota negeri, mereka tak pernah ditengok.
“nyaman beproyek aja…“. ini terkait sebuah pilihan. para ruang-ruang kehidupan, wujud implementasi bangunan civitas akademika hanyalah pada ruang mesin penghasil keping emas. bukan lagi memproduksi pengetahuan baru. wajar saja kemudian, banyak produk kebijakan negeri ini yang semakin ngeri melihatnya, karena hampir sebagian besar kajian akademis peraturan perundang-undangan, dilahirkan atas sebuah negosiasi nilai proyek, bukan pada sebuah cara pandang berpihak pada warga negeri.
mungkin itu sebuah pilihan. memilih untuk melahirkan robot-robot intelektual, agar kemudian semakin mudah untuk dikendalikan. agar kemudian aliran aset-aset alam negeri ini tetap melayani kebutuhan negara penghisap. dan pada waktunya kemudian, warga negeri ini sibuk menghamba dan mengharap belas kasihan orang-orang yang tak sewarna kulitnya dengan mereka. hingga pada satu waktu, jaman perbudakan itu akan kembali datang, hingga sampai bumi ini memutar balik arahnya.
pada nyaman beproyek aja !
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2010. nyaman beproyek aja …. http://timpakul.web.id/nyaman-beproyek-aja.html (dikutip tanggal 19 May 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul