“Dulu Emak sudah belajar tentang Filasafat sejak di sekolah dasar. dan dulu juga belum pake kertas, tapi cuma pake batu tulis. abis nulis terus dihapus, jadinya harus beneran diingat. udah gitu kalo salah batu tulisnya di’tabokin’ dan kalo dapat nilai tinggi, batu tulisnya ditempelin dijidat biar ada bukti.” ujar Emak.
Sistem pendidikan yang sedang berjalan hari ini sudah sangat jauh dari meletakkan dasar-dasar berpikir kritis, analitis dan kreatif. Segala bentuk kemudahan telah termutasikan menjadi kelemahan dalam sistem pembangunan generasi kemudian. Termasuk, ketika kualitas guru yang semakin melemah karena diproduksi oleh ‘industri’ guru yang meniadakan nilai-nilai kolektivitas dan semangat membangun negeri.
“Anak saya di sekolah lagi belajar bikin negara, dia disuruh menggambarkan letak negaranya dalam peta dunia, memberi nama, memilih sistem pemerintahannya” ujar seorang kawan.
“Sekarang sudah kelas berapa dia?” tanyaku
“Udah kelas lima Sekolah Dasar” jawabnya
Semula sistem pendidikan yang tidak mengacu pada pembelajaran terkotak-kota pada setiap mata ajaran bisa jadi dianggap aneh. Namun hasil yang dicapai akan jauh memberikan lonjakan kualitas generasi. Kemampuan berkreasi dan menginspirasi, memberikan pengalaman tersendiri bagi anak-anak. Dunia anak-anak yang penuh dengan imajinasi, pada pendidikan formal dan sekolah (umumnya sekolah negeri), kemudian dikerangkeng dalam pembentukan robot intelektual.
Proses mengenali, menemukan dan mencari jalan baru, sungguh sangat jauh dari impian. Pada beberapa sekolah non-negeri, sistem pembelajaran dengan mengutamakan kualitas peserta didik yang dihasilkan, justru merupakan sebuah metoda pembelajaran yang jauh akan lebih berpengaruh.
“Rumus ini salah, lihat saja uraian rumus ini dari turunan rumus lainnya. Ada hal yang berbeda dari hasilnya. Mengapa saya dianggap salah?” tanyaku pada seorang guru saat di sekolah menengah.
“Ya, itu salah. Karena rumus itu tidak sesuai dengan buku ini” jawab sang guru.
Belajar politik bisa dimulai sejak berusia delapan tahun. Melalui pendidikan formal, mulai dari belajar melihat dan membentuk rukun tetangga, membangun kelurahan dan kecamatan, membentuk kota, mengembangkan provinsi, membangun negara, hingga merundingkan sistem antar negara di dunia, dapat mengisi ruang-ruang kualitas politik anak negeri. Pembelajaran ilmu-ilmu dasar seperti aritmatika, logika, ekologi, akuntansi, ekonomi koperasi, moneter, sosiologi, kesejarahan, hingga beragam pengetahuan dasar lainnya dapat diberikan dalam bentuk ruang-ruang dimensi sosial kehidupan.
Proses belajar dengan menemukan, akan terus memberikan gerakan otak untuk mencari hal yang baru, untuk sesuatu yang lebih baik bagi kehidupan. Bukan semata untuk menjadi robot intelektual yang kemudian menerima sistem yang tengah stabil, yang ketika sistem mengalami guncangan, maka berlarianlah semuanya mencari tempat perlindungan yang aman.
Pertanyaan kemudian, mampukah negeri ini untuk menemukan sebuah sistem pendidikan yang lebih mencerdaskan bagi keberlanjutan kehidupan dalam sebuah keadilan dan kesejahteraan bersama? Tantangan terbesar bagi pemimpin negeri kemudian adalah untuk berani memimpin sebuah pembaharuan. Bukan semata terus bergerak pada ruang yang sama, dan terus tunduk pada ‘penjajahan ekonomi’ yang terus melanggengkan pemiskinan rakyat di negeri ini.
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2009. Pendidikan Politik Bagi Generasi. http://timpakul.web.id/pendidikan-politik-bagi-generasi.html (dikutip tanggal 5 February 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul
maaf aku copy and paste neh buat referensi
pemerintah tidak berkaca dengan faktor – faktor utama dalam pendidikan yaitu pengajar ( sdm), fasillitas dan daerah, kenapa begitu ??? karena dengan tiap tahun nilai ujian nasional makin tinggi tapi Kualitas pengajar dan fasilitas tidak tingkatkan. banyangkan ujian di daerah jakarta di samakan di daerah papua !!!!!!!!!!
sehingga ada orang yang berpendapat pendidikan hanya untuk orang kaya kenapa begitu ??? karena untuk bisa menyelesaikan soal ujian nasional, seorang anak harus ikut pendidikan di luar pendidikan formal seperti kursus dan sejenisnya.
Para pemimpin bangsa ini masih tidur di hutan yang subur unsur hara. So, mereka menganggap kalau mereka telah berprestasi memajukan pendidikan yang bermutu dan berkualitas padahal kenyataan justru kitalah yang “bukan penentu kebijakan pendidikan” justru belajar secara autodidak. Kalau aku sih, sebisa mungkin tidak tergantung atas kebijakan-kebijakan pendidikan yang diterapkan pemerintah.
Saya setuju dengan Anda, Dan mungkin saja ini akan terus terjadi selama pendidikan politik di indonesia disinyalir hanya UUD. (*ujung ujungnya duit)
beasiswa djarum scholarships last blog post..Study Scholarship for Women in Australia 2009
Saya tertarik dengan beasiswa khusus perempuan di negara Australia tahun 2009, mohon diberikan penjelasan secara terperinci mengenai study scholarship for women in Australia 2009. Terima Kasih..
bisa langsung membuka alamat blog diatas….
sekarang tegok dulu kualitas pengajar kita???
tidakkah dibutuhkan banyak dukungan dari berbagai pihak??
saya rasa semakin terlihat sekarang tentang pembatasan ide dan kreatifitas serta rasa keingintahuan jadi… mengapa belajar itu harus membayar??