Pertanian Industri, Haruskah?

25 October 2011 | topik: celoteh | tagar: , , oleh

Oct
25

Yang penting bukan menciptakan pendapatan regional yang tinggi, tetapi pendapatan perseorangan rakyat yang tinggi. Jadi policy gubernur sudah tepat kecuali satu hal, jangan promosikan industri pangan lewat industri skala besar (perkebunan besar) karena itu tidak akan menyentuh tujuan pembangunan yang sebenarnya. (Cahyat, 2011)

Saat ini, Pemerintah, baik Kementerian Pertanian maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Pemerintah Kabupaten Bulungan, sangat berharap sekali pada Delta Kayan Food Estate. Seolah-olah, DKFE merupakan solusi atas krisis pangan yang dihadapi negeri ini. Swasembada pangan diharapkan kembali hadir, sebagaimana pernah dinikmati dalam waktu singkat setelah revolusi hijau dimulai di negeri ini. Yang selanjutnya, revolusi hijau itu sendiri yang membunuh kedaulatan pangan warga negeri ini.

sawah di makroman yang digilas tambang batubara

sawah di makroman yang digilas tambang batubara

Pangan, menjadi sebuah hal yang utama dan diutamakan dalam proses pembangunan. Saking malasnya, Pemerintah kemudian selalu menempatkan Pertanian dalam arti luas sebagai prioritas pembangunan, dimana pertanian dalam arti luas meliputi pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan. Sehingga, saking luasnya juga, tak ada prioritas dan perlindungan terhadap pangan lokal.

Padi atau beras atau nasi, menjadi satu-satunya yang utama dikembangkan dalam sektor pertanian tanaman pangan. Komoditi lain mengikuti dibelakangnya, yang terkadang umbi-umbian dan umbut-umbutan menjadi dilupakan. Dan secara cepan dan pasti, warga negeri semakin lupa dengan rasa karbohidrat dari beragam jenis pangan negeri ini, selain nasi.

Satu waktu, ketika ada impian seorang pemodal menjadikan roti berbahan terigu sebagai makanan pokok warga negeri ini, agar sama dengan warga negara utara. Dan kemudian hari ini, terigu sebagai pangan utama sudah terjadi. Tidak dalam bentuk roti. Dalam bentuk mie instan. Hingga ke pelosok kampung, akan ditemukan bekas bungkus mie instan dari beragam merek. Sebuah keberhasilan perselingkuhan pemodal dan pelayan publik, sementara tepung terigu menjadi prioritas utama untuk diimpor di negeri ini.

Pilihan memasalkan pertanian, melalui pengindustrian, yang disempitkan maknanya menjadi dilakukan oleh pemodal, merupakan sebuah jalan sesat yang ditawarkan oleh pelayan publik. Meletakkan industri dan pemodal di hulu sebuah sektor, adalah sebuah penyiapan bencana di masa datang. Tidak ada sebuah insentif yang baik terhadap industri paling hilir dari sebuah produk. Negeri ini memang direncanakan sebagai penghasil bahan baku, pekerja murah dan pasar dari produk industri yang akan dibuang. Hasilnya, penghancuran sistem budaya hingga penghancuran ekonomi warga negeri. Rapuhnya negeri semakin terlihat. Satu hentakan kecil saja, porak-poranda bangunan ekonominya.

Penempatan aras industri pada hulu setiap sektor pasti akan berujung pada penghilangan kedaulatan warga atas tanah, rumah dan ruang kehidupannya. Konflik akan terus berkelanjutan. Kesenjangan kian terjadi. Pengabaian hak-hak dasar warga negara dilakukan. Pada akhirnya terjadi penghapusan budaya, yang merupakan bagian dari ke-Bhineka Tunggal Ika-an negeri ini.

Bila pelayan publik ingin mensejahterakan warganya, maka pilihannya adalah membangun industri hilir dan memberikan ruang pada pemodal hanya di bagian hilir dari sebuah produk. Tidak dengan memberikan ruang, bahkan insentif, bagi pembangunan industri di hulu dari produk. Risalah pendirian negara inipun dengan jelas memandatkan moda bangunan ekonomi negeri, yang dibangun dalam ke-koperasi-an, yaitu ekonomi kolektif oleh warga. Bukan menyerahkan kendali ekonomi pada pemodal ataupun kelompok kepentingan.

Pertanian industri, haruskah? Sebuah tanda tanya yang tak akan terjawab dalam satu dekade ke depan. Sudah sangat kuatnya cengkeraman pemodal dan negara utara di negeri ini. Satu per satu bangunan ekonomi kerakyatan telah diruntuhkan. Pelayan publik, berpihaklah. Bukan berpihak kepada pemodal. Bukan juga berpihak hanya pada kelompok yang memenangkan kalian di saat pemilihan. Berpihaklah pada warga negeri !



Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :


Ade Fadli. 2011. Pertanian Industri, Haruskah?. http://timpakul.web.id/pertanian-industri-haruskah.html (dikutip tanggal 19 May 2012)



-- timpakul.web.id - @timpakul



Ditulis oleh

lahir dan besar di tepi karangmumus. berceloteh dengan negativisme dan pesimis. berjalan menuju berakhirnya sang waktu.

Bekomen yukz