raut wajahnya semakin mendung. sedih. tak disebut namanya untuk melangkah ke panggung. tak ada lagi ceria yang pagi tadi dia berikan. matanya mulai sembab menyaksikan kawan-kawannya menerima piala. dan tak lama, dia berlalu. menjauh dari keramaian.
jauh dari keramaian ini. di layar kaca. setiap minggu malam. untaian kata-kata memotivasi dan mengajak melihat sesuatu lebih positif terus tertayang. menggerakkan. memicu otak untuk bekerja lebih santai. menentukan arah dan jarak yang dituju. pada sebuah waktu, tak pernah berhenti.
semakin banyak yang mencoba berada pada zona positivisme. berharap akan meraih sebuah kemenangan. dan memandang bahwa ini adalah sebuah jalan yang seharusnya. pesimisme dan cara melihat berbeda dipandang sebagai kelompok yang tak memiliki kemenangan. memandang sebuah aura yang tak menggerakkan. dan hanya sekedar sebuah sensasi.
benarkah pesimis sebuah ketidak-menangan? benarkah negativisme sebuah penghalang? ini bukan soal kata. ini lebih pada sebuah cara pandang. menggerakkan memerlukan dua kutub. tak hanya positif, namun juga negatif. tak juga untuk sekedar melihat dari sisi yang satu. harus melihat pada setiap ruang dan waktu. namun, masih terlalu banyak, mereka yang belajar pada positivisme, hanya melihat sebuah kemenangan semu. sejatinya, mereka telah terlewatkan dua loncatan penting, soal jiwa dan soal alam pikir.
aku, tetap pada sebuah arah yang tak menentu. menaiki riak-riak waktu, yang belum ada titik perhentiannya. udara sekeliling kian memanas, namun aku tak percaya ini sebuah gejala alam yang biasa. ada tangan-tangan tersembunyi yang telah memainkannya. tujuannya sederhana, penguasaan dan penghisapan. agar sebuah kelompok tetap mampu bertahan hidup. pada sang waktu, yang tak tahu kapan ia akan lelah dan berhenti bergerak.
aku, tetap pada sebuah ruang yang tak hampa. bergelombang pada uraian makna yang tak memuai. geliat-geliat kecil di sekeliling, yang mulai menaiki perahu yang penuh kemilau emas. yang dulu selalu mereka caci melalui toa yang entah dipinjam dari siap. lembaran-lembaran kertas tersisa di aspal yang memanas. seolah menjadi terlupakan. bahwa sesungguhnya, jalan emas akan membawa kematian anak dan cucu bumi lebih cepat sebelum waktunya.
pada sebuah ruang yang tak lagi sejuk !
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2010. positivisme dan pentingnya kemenangan. http://timpakul.web.id/positivisme-dan-pentingnya-kemenangan.html (dikutip tanggal 19 May 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul