punya waktu 2 menit?

14 October 2009 | aku oleh

Oct
14

“punya waktu dua menit” tanyanya sambil menunjukkan selembar kertas bergambar. sayangnya tak ada gambar miyabi di dalamnya. tapi masih ada gambar bugil. orangutan, harimau dan satwa langka dilindungi. serta hamparan pepohonan yang seolah hijau. aku berlalu. tak melirik

dengan seragam abu-abu dan logo di dadanya, ia masih terus menawarkan kepada mereka yang berlalu. “punya waktu dua menit”. dalam lebih dari tiga puluh menit, baru satu yang tertarik untuk dua menit. berbincang dan berdiskusi dengannya.

ini bukan kali pertama, aku bertemu dengan kelompok berseragam logo satwa ini. di lantai dasar sebuah pusat perbelanjaan, hingga di pintu keluar terminal bis kota yang berdekatan dengan sebuah plasa. kali ini, aku bertemu mereka di koridor tak jauh dari tempat tunggu kerangkatan pesawat.

tak hanya organisasi berlogo satwa ini yang melakukannya. di helsinki, setiap dua hari sekali aku menyaksikan seorang remaja di sebuah pedestrian tak jauh dari kantornya, juga melakukan hal yang sama. bisa jadi tak ada yang membedakan diantara keduanya. mereka mencari simpati orang yang berlalu lalang agar tertarik berkontribusi pada organisasi lingkungan.

kawan aku di kotakayu pernah bertanya ke saya, “ada berapa jumlah mall di kota ini?”. aku tanya kembali, “untuk apa tahu jumlah mall”. dia bilang, untuk melakukan penggalangan dana bagi sebuah organisasi lingkungan, harus tahu jumlah mall terlebih dahulu. nanti juga ada prosentasi dari jumlah dana yang didapatkan akan diraihnya.

agak aneh memang. mall menjadi indikator sebuah organisasi lingkungan dalam meraih dananya. bisa saja ini karena dipandang bahwa mall menjadi indikator tingkat penghasilan sebuah kota. atau menjadi indikator berkumpulnya mereka yang memiliki uang lebih. tapi yang tak masuk akal adalah organisasi lingkungan masih berpikir bahwa mall tetap penting. padahal jelas, keberadaan mall merupakan jalan menuju kehancuran sosial dan ekologi sebuah kota.

aku juga pernah ngobrol dengan seorang kawan yang mengembangkan penggalangan dana publik. bagi sebuah organisasi lingkungan itu, ternyata yang memberikan donasi publiknya adalah mereka yang menghabiskan pulsa telepon selulernya tak lebih dari dua puluh ribu rupiah dalam sebulan, dan mereka berada di pasar tradisional dan lebih banyak adalah tukang ojek, pekerja informal dan bukan dari mereka yang memiliki penghasilan besar atau menengah ke atas.

dalam belajar menggalang dukungan untuk sebuah gerakan lingkungan, jauh lebih penting menggalang solidaritasnya dan bukan uangnya. memperluas pengetahuan, menggulirkan gagasan, membangun dukungan, dan bonusnya adalah dukungan sedikit uang receh yang bermakna. masih banyak dari bagian negeri ini yang belum mengerti kata lingkungan, apalagi sebuah komprehensifitas lingkungan hidup.

terkadang cara pandang yang sebagian saja sudah dipandang menyelesaikan masalah. tanggung jawab sosial perusahaan ataupun donasi lingkungan dari pelaku pengrusakan lingkungan hidup dianggap telah cukup menyelesaikan permasalahan ekologi negeri ini. menjadi penting untuk melihat bagaimana keadilan lingkungan hidup dan demokrasi ekonomi dapat terwujud di negeri ini.

bagaimana agar para petani memiliki lahan, teknologi benih, pupuk dan pestisida, serta menguasai pasar dalam negeri, tanpa harus digusur oleh perkebunan besar kelapa sawit atau pertambangan; ataupun agar nelayan tetap dapat mengail ikan ataupun menjala ikan terakhir tanpa harus diusir oleh rig-rig pengebor minyak. atau bagaimana pedagang kaki lima dan pedagang pasar tradisional tidak harus bersaing bebas dengan hyper-super-mini market ataupun dengan mall-superblock.

masih perlu dua menit lagi untuk berbincang. untuk menjejalah hak yang asasi dan ruang kehidupan yang lebih baik. apakah kawan punya waktu dua menit untuk menggelorakan pemikiran bagi negeri yang lebih baik?



Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :


Ade Fadli. 2009. punya waktu 2 menit?. http://timpakul.web.id/punya-waktu-2-menit.html (dikutip tanggal 8 February 2012)



-- timpakul.web.id - @timpakul



Ditulis oleh

lahir dan besar di tepi karangmumus. berceloteh dengan negativisme dan pesimis. berjalan menuju berakhirnya sang waktu.

Bekomen yukz