21 September. Hari anti-monokultur internasional. peringatan kepada penghuni bumi untuk tidak melakukan monokulturisasi secara masif dan dalam skala luas. hancurnya keragaman hayati, akan menghadirkan bencana masa depan.
pembukaan kawasan hutan dan lahan menjadi perkebunan monokultur skala luas, bukan semata menghilangkan sistem kehidupan sosial-budaya komunitas lokal. monokultur juga telah menghancurkan sistem rantai makanan, yang merupakan pondasi kehidupan di permukaan bumi.
industrialisasi dan konsumerisme menjadi pemicu semakin meningkatnya monokulturisasi. bahkan di hari raya pun, konsumsi margarine, tissue dan kertas semakin meningkat tajam. hingga kemudian, semakin banyak dibutuhkan tegakan leda, akasia ataupun kelapa sawit semakin melejit.
satu per satu pepohonan dipterocarpa berganti. kawasan rawa dikeringkan. kerangas dan mangrove pun tak disisakan. berganti dengan hamparan karpet bencana. perlahan namun pasti, kemiskinan dan gangguan kesehatan akan terjadi.
sucinya jiwa di hari fitri, bukanlah semata menyelesaikan hubungan dengan tuhan. melangkah dengan memberikan kehidupan yang lebih baik pada sesama menjadi sebuah keharusan. damai di bumi, tak sekedar damai bagi diri. damai dan kesucian adalah bagi semua.
pada raya monokultur !












