ketika keadilan direcehkan, kita pun mengumpulkan receh – koinkeadilan.com
luar biasa gerakan pengumpulan koin. dari kasus pencemaran nama baik, hingga menjadi donasi untuk melawan ketidakadilan. mulai bermunculan di beragam media terkait dengan ketidakadilan hukum. terutama bagi mereka yang tak mampu membayar hukum.
keadilan yang tak lagi adil. terus menggeliat diantara relung kehidupan. hitam putih yang tak lagi dapat dibedakan. abu-abu ataupun pelangi. membutakan penglihatan untuk mampu menelisik di sela-sela waktu.
kuasa pemilik keping emas. menggunakan hukum untuk melanjutkan penindasan. pemerintah sebagai pelayan publik tak mampu atau seolah tak mampu melakukan sesuatu. perundang-undangan terus diproduksi dengan terus menghamba pada modal. satu per satu, pemiskinan terus berlanjut.
seolah sumpah dan air mata menjadi jawaban atas kegelisahan mereka yang mungkin pernah menjatuhkan pilihan pada pimpinan. remah-remah roti kecil diperebutkan dengan rakyat yang harusnya dilayani. sementara hamparan roti lezat sangat besar telah diberikan pada penjajah.
receh. kecil. gemerincingnya bagai alunan musik kesengsaraan. menyapu debu yang menyelaputi wajah. tawa semakin mudah diperdengarkan. topeng-topeng semakin laris didagangkan. palu menjadi kuasa. entah… siapa lagi korban berikutnya.
andai waktu dapat bergulir kembali. saat para mereka yang kabarnya pegiat blogger dan pegiat dunia maya berbincang dengan seorang menteri urusan dunia maya. “tak akan ada korban, ini demi mencegah pertikaian“. mereka hanya mengangguk. terdiam dan mungkin setuju. tak pernah sadar bahwa hari esok korban mulai berguguran.
andai prita bukan seorang ibu. andai saja prita tidak tinggal di dekat ibukota negeri. akankah ada dukungan dari mereka? akankah ada koin untuk prita? akankah mengalir dukungan melalui situs jejaring sosial dan sejumlah media? apa kabar ibu minah yang mengambil tiga buah coklat? apa kabar mereka yang digusur paksa oleh lapindo? apa kabar mereka yang telah kehilangan tanah kehidupannya? ini bukan hanya sekedar sebuah permasalahan bagi prita. ini masalah hukum yang kadang dipermaklumkan. ini masalah negeri yang dikuasai oleh penjajah ekonomi.
tak ada perlindungan bagi konsumen. tak ada perlindungan bagi petani. tak ada perlindungan bagi nelayan. tak ada perlindungan bagi buruh. dan tak pernah ada perlindungan bagi pahlawan sampah. bahkan untuk dapat menyekolahkan anak dengan pendidikan berkualitas ataupun untuk sekedar memperoleh layanan kesehatan yang berkualitas. ini sebuah negeri tanpa masa depan. yang tak pernah ada memikirkan kehidupan generasi berikutnya.
negeri ini sedang dipersembahkan bagi dunia. seluruhnya untuk menopang kehidupan negara utara. privatisasi dan pasar bebas. bertarung dalam kelumpuhannya. otak ini sudah tak mampu tergerakkan oleh nurani. perut sudah menjadi sangat lapar. hanya selembar uang kertas tersisa di kantong celana.
pada receh !












