“kalau ingin masuk ke gedung ini, tidak boleh pakai sendal dan kaos oblong“. banyak pengumuman di institusi pemerintah, sekolah, kampus, bahkan perusahaan yang mensyaratkan sepatu dan pakaian berkerah. tak jelas apa yang menjadi dasar pembuatan pengumuman tersebut. bisa jadi sekedar agar tampak rapi.
sepatu telah menjadi indikator penting atau tidaknya seseorang. walau hingga saat ini tak jelas siapa yang menemukan sepatu pertama kali. mungkin thomas bata atau bisa jadi michael jackson. tapi tak terlalu penting siapa yang menemukannya.
yang menjadi penting adalah mengapa sepatu begitu penting dan berbanding lurus dengan kehormatan seseorang? ketika dua orang yang berdampingan, dan seorang menggunakan sepatu dan seorang lagi mengenakan sendal, maka yang akan lebih diapresiasi adalah yang mengenakan sepatu. apalagi bila tanpa alas kaki, maka tak sekalipun ada yang ingin ramah kepadanya.
negeri ini juga negeri latah. sepatu tetap menjadi prioritas. padahal, iklim tropis tak terlalu nyaman untuk bersepatu. berbeda dengan mereka yang hidup pada cuaca yang dingin. sepatu menjadi penting, agar kaki tetap menjadi hangat. hingga menjadi penting sandal tetap sebagai hal yang tidak diletakkan pada tempat yang tak penting. dan sepatu tetap hanya bagi mereka yang khawatir jempol kakinya terlihat seksi bagi yang lain.
pada revolusi sendal jepit !
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2009. revolusi sendal jepit. http://timpakul.web.id/revolusi-sendal-jepit.html (dikutip tanggal 8 February 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul
wew unik sekali tulisan ini sampew bengong aku mbacanya thanks ya atas ijinnya mbaca dan comentar
.-= Bisnis online´s last blog ..PRODUK ok Mencari Uang Tambahan =-.
Wah, rumah baru ya? Masuk ga boleh pake sandal jepit nich?! hehe.
Sandal jepit sepertinya tetap menjadi simbol kemiskinan buat mereka yang latah dan seolah pemakai sendal tak layak untuk dihargai. Padahal sesuai tulisan di atas, ga taerlalu nyaman juga untuk terus bersepatu. Revolusi sendal jepit, tiba-tiba menjadi perlu!
.-= yans’dalamjeda’´s last blog ..Simpang Jalan =-.
Selamat ya atas rumah barunya, baru tahu karena dah lama gak silaturahmi maklum koneksinya terbatas sekali
Salam hangat selalu!
.-= kips´s last blog ..Kontribusi Hewan dalam Peradaban Manusia =-.
Setujuh Kang! Harus ada revolusi sendal jepit!
Di kantor, gw juga udah biasa japitan. Habis rasanya gak nyaman kalo pake sepatu, seluruh badan suhunya sama kecuali kaki, panasss. Jadi keringatan sendiri tuh kaki. Tapi walaupun japitan, hanya berani ngider-ngider di lantai tempat kantor gw n pas ke mesjid. Lebih dari itu, kek ketemu boss, rapat or ada klien bertamu harus masang sepatu. Huhuhuhu. Selain itu ada diskrimanasi buat yang japitan or sendalan malah. GAK BOLEH LEWAT LOBY! Terpaksa deh pas ke mesjid lewat basement (biar yang japitan tahu mobil keluaran terbaru kek apa ….hehehehe).
Sampai sekarang juga gw masih bertanya-tanya siapa sih yang memutuskan bahwa sandal itu lebih gak sopan dari pada sepatu??. Emang kenapa dengan sepatu??Kok bisa lebih terhormat daripada sandal. Padahal sandal kan mahal juga (kucuali sandal jepit yah..).
Fenomena yang paling aneh tuh pas mau ke perpustakaan, harus make sepatu. Lha apa hubungannya perpustakaan dengan sandal. Yang pengen dilihat itu kan buku, keknya menurut mereka kalo make sandal kek ngeremehin pegawai perpustakaan. Seharusnya ke perpustakaan itu dibuat senyaman mungkin, kan pasarnya bukan orang-orang berdasi atau anak sekolahan, tapi seluruh lapisan masyarakat. Kesian kan kalo ibu-ibu rumah tangga yang tinggal di daerah kumuh pengen ke perpus buat nyari menu masakan tuk usahanya gak boleh masuk gara-gara gak make sepatu.
Waduh…Sudah saatnya kita adakan revolusi Sendal Jepit!