Memimpikan Kesejahteraan dari Kelapa Sawit

7 April 2006 | urai oleh

Apr
07

Pembangunan perkebunan kelapa sawit skala besar di Kalimantan Timur telah menjadi sebuah perbincangan publik. Berbagai pro-kontra terlontar menyikapi rencana pembangunan satu juta hektar perkebunan kelapa sawit di sepanjang perbatasan Kaltim. Kabupaten Nunukan menjadi salah satu wilayah yang rencananya akan dibangun perkebunan kelapa sawit skala besar.

Mimpi-mimpi kesejahteraan pun dilemparkan oleh para pimpinan daerah kepada masyarakatnya. Apalagi menjelang pergantian kepala daerah, isu pembangunan kebun sawit telah menjadi salah satu janji manis yang terlontar. Kebun kelapa sawit akan dibangun dan diberikan kepada masyarakat.

Lalu, apakah benar sawit bisa memberikan sebuah kesejahteraan bagi masyarakat? Apakah perkebunan sawit skala besar akan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal? Dan apakah pembangunan perkebunan kelapa sawit merupakan keinginan masyarakat ataukah hanya menjadi kepentingan pemerintah dan pengusaha?

Mitos Kesejahteraan Kebun Sawit

Selalu diungkapkan disaat pemerintah mempromosikan pembangunan perkebunan kelapa sawit adalah peningkatan ekonomi yang akan diperoleh dari perkebunan kelapa sawit. Dalam beberapa kajian, terungkap bahwa perkebunan kelapa sawit tidak memberikan kesejahteraan bagi kelompok masyarakat, dan hanya memberikan kucuran rupiah bagi pengusaha. Prof. Maman Sutisna, guru besar silvikultur, menyampaikan bahwa dengan mengalihkan lahan untuk perkebunan kelapa sawit tidak memberikan nilai tambah apapun, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi ekologi. Lebih lanjut disampaikan, bahwa masih terdapat komoditi pertanian lainnya yang bisa memberikan nilai ekonomi yang lebih baik, semisal budidaya kemiri maupun jambu mete.

Sementara sebuah kajian dari Laila Nagib, peneliti LIPI, menyampaikan bahwa kesejahteraan petani kelapa sawit dipengaruhi oleh luas lahan, hasil produksi dan harga kelapa sawit. Keterbatasan lahan yang dimiliki, pengelolaan kebun yang tidak optimal, dan penentuan harga sepihak yang tidak menguntungkan petani, merupakan faktor penting dalam mempengaruhi kesejahteraan petani. Akibatnya petani tetap hidup miskin, terjerat hutang atau terjebak dalam permainan pemodal.

Di lain propinsi misalnya, digambarkan oleh Nordin, peneliti perkebunan besar di Kalteng, bahwa dengan mengalihkan kebun-kebun tradisional komunitas masyarakat menjadi perkebunan kelapa sawit, telah menghilangkan penghasilan Rp. 500 ribu ? Rp. 700 ribu setiap bulannya.

Pembangunan kebun plasma sawit kepada masyarakat ternyata juga diikuti dengan skema kredit dengan bunga komersil dan jangka panjang. Hal ini ternyata telah menambah beban ekonomi baru bagi masyarakat. Pupuk, bibit, pestisida, tidaklah diberikan gratis kepada masyarakat, namun menjadi sebuah paket kredit yang harus dibayarkan disaat panen. Sehingga dalam perhitungan ekonomi kebun plasma, komponen tenaga kerja menjadi dihilangkan untuk menunjukkan nilai keuntungan yang besar bagi petani plasma, yang sejatinya sangat merugikan bagi petani.

Bencana Ekologis Perkebunan Besar Kelapa Sawit

Sementara, dari berbagai daerah yang telah melakukan pembukaan perkebunan besar kelapa sawit, semisal Kabupaten Pasir, saat ini telah mengalami bencana lingkungan, baik banjir maupun kekeringan, dikarenakan terganggunya fungsi aliran air (hidrologis) lahan karena tanah tak lagi mampu menyerap air dan menyimpannya.

Bencana ekologis ini diperparah karena pemberian perijinan perkebunan besar kelapa sawit mengabaikan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 376/Kpts-II/1998 tentang Kriteria Penyediaan Areal Hutan Untuk Perkebunan Budidaya Kelapa Sawit, dimana kesesuaian lahan yang cocok untuk perkebunan budidaya kelapa sawit memiliki kriteria: (1) kelerengan max 25%; (2) ketinggian 0-300 m dari permukaan laut; (3) curah hujan 1750-4000 mm/tahun dengan rata-rata bulan kering per tahun 0-3 bulan; (4) kedalaman efektif tanah: untuk tanah mineral > 100 cm, untuk ketebalan tanah gambut, dan; (5) temperatur rata-rata per tahun 24? – 29?C. Kawasan hutan yang dapat dilepaskan menjadi perkebunan budidaya kelapa sawit harus memenuhi kriteria (1) berdasarkan Rencana Tata Ruang Propinsi berada pada kawasan budidaya non kehutanan; (2) tidak dibebani hak; (3) pulau kecil yang luasnya kurang dari 10 km2 tidak termasuk yang dapat dilepaskan; (4) diprioritaskan pada lahan kosong atau terbuka berdasarkan citra landsat yang terbaru, dan; (5) minimal luas areal 10.000 hektar.

Dari sisi ekonomi lingkungan, Greenomics menyampaikan bahwa akibat pembukaan perkebunan besar kelapa sawit , Kaltim akan kehilangan tidak kurang 210 triliun rupiah serta mengalami kerugian ekologi (fungsi pengaturan gangguan ekosistem, tata air, penyedia air, pengendali banjir, siklus unsur hara, dan pengendalian limbah) sebesar 14,7 triliun rupiah setiap tahunnya. Nilai yang tidak sebanding dengan nilai yang akan diperoleh oleh negara dan rakyat dari pembangunan perkebunan kelapa sawit skala besar saat ini.

Dari pengalaman masa lalu juga terungkap bahwa semakin meluasnya lahan kritis di Kaltim salah satunya diakibatkan oleh pembukaan areal hutan dengan perijinan kelapa sawit yang akhirnya tidak dilakukan penanaman. Hanya 6,7% perkebunan besar kelapa sawit yang melakukan penanaman kelapa sawit, selebihnya hanya mengambil kayu dan meninggalkan lahan kritis. Tak kurang dari 3,5 juta hektar lahan kritis di Kaltim saat ini yang ditinggalkan dan tak menjadi prioritas dalam pengelolaannya.

Kesejahteraan Masyarakat atau Kesejahteraan Pengusaha?

Dari beberapa kali berinteraksi dengan komunitas lokal, tergambarkan bahwa yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat adalah pendidikan dan kesehatan berkualitas dan gratis, serta akses transportasi yang memadai dalam membantu pergerakan ekonomi lokal. Tak pernah terbersit untuk masuknya perkebunan kelapa sawit dikarenakan masih begitu banyak komoditas produktif di tingkat masyarakat yang belum maksimal terpasarkan dikarenakan terkendala permasalahan transportasi. Penggunaan transportasi air saat ini masih memiliki beban ekonomi yang tinggi bagi masyarakat.

Akses transportasi ini pula yang selalu digaungkan oleh pemerintah dan pengusaha ketika akan membangun perkebunan besar kelapa sawit. Namun ternyata, ketika dilihat lebih dalam dari realisasi di lapangan, kenyataannya adalah pembangunan sarana transportasi selama ini juga dipenuhi oleh anggaran negara, bukan oleh pengusaha. Pengusaha juga meminta pemerintah membangunkan akses transportasi antar kampung hingga ke pusat perekonomian untuk menunjang usaha perkebunan mereka. Hanya jalan di dalam perkebunan saja yang dibangun oleh pengusaha, itupun hanya dilakukan bila masih terdapat kayu komersial di kawasan tersebut, dikarenakan biaya pembuatan jalan dapat ditutupi dengan menjual kayu komersial tersebut.

Bila demikian, maka sebuah janji untuk membuka isolasi kawasan masyarakat dengan membangun jalan oleh perusahaan perkebunan, senyatanya hanya sebuah manipulasi dan penipuan. Karena senyatanya masyarakat memiliki hak atas anggaran negara (APBN/APBD) untuk kebutuhan transportasi, pendidikan dan kesehatan yang berkualitas dan gratis.

Politik Kelapa Sawit

Belakangan, pembangunan perkebunan kelapa sawit juga telah menjadi sebuah komoditas politik. Kepentingan-kepentingan politikus sangat terlihat dalam pembangunan perkebunan besar kelapa sawit. Begitu besarnya kebutuhan keuangan untuk pertarungan politik, telah menjadikan kelahiran negosiasi politik antara politikus dengan pengusaha perkebunan. Pemberian perijinan perkebunan besar, dibarengi dengan kucuran dana politik. Sehingga bukan sesuatu yang aneh lagi bila menemukan adanya janji politik berkaitan dengan pembangunan perkebunan kelapa sawit kepada masyarakat.

Belakangan, peranan aparat keamanan juga sangat terlihat dalam upaya-upaya pengamanan perkebunan besar kelapa sawit di berbagai wilayah. Polisi dan TNI terlihat sangat proaktif mengamankan perkebunan besar kelapa sawit, bukan lagi untuk mengamankan negara untuk masyarakat. Ada apa dibalik semua ini?

Saatnya Tidak Lagi Tertipu Janji Manis

Saat ini, ditengah begitu banyaknya kepentingan yang bermain dan memain-mainkan kepentingan masyarakat, sudah saatnya masyarakat menjadi lebih kritis terhadap berbagai gagasan dari pihak pemerintah maupun pengusaha. Apakah sebuah janji akan direalisasikan dan memberikan keuntungan sebenarnya? Ataukah sebenarnya hanya sebuah penjeratan baru bagi masyarakat yang akhirnya menjadi sebuah belitan kesengsaraan? Kesejahteraan akan sangat ditentukan oleh bagaimana masyarakat bisa memilih secara lebih cerdas dan kritis. Bukan dengan sebuah buaian janji politik, yang terkadang tak pernah berpihak pada masyarakat disaat telah berkuasa.

Kesejahteraan masyarakat hanya akan bisa terwujudkan bila pemimpin yang dipilih adalah yang benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya. Jangan pernah memberikan kepercayaan kepada kelompok yang akan menindas dan menghisap masyarakat.



Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :


Ade Fadli. 2006. Memimpikan Kesejahteraan dari Kelapa Sawit. http://timpakul.web.id/sawit-11.html (dikutip tanggal 5 February 2012)



-- timpakul.web.id - @timpakul



Ditulis oleh

lahir dan besar di tepi karangmumus. berceloteh dengan negativisme dan pesimis. berjalan menuju berakhirnya sang waktu.

74 ikung mahalabiu gasan “Memimpikan Kesejahteraan dari Kelapa Sawit”

Show / Hide Comments
  1. riyan says:

    saya sangat menyayangkan dengan perkembangan perkebunan kelapa sawit selama ini”khususnya ,masyarakat yang telah dirugikan dari pihak perusahan menjanjikan berbagai macam salah satunya “pihak perusahan mengatakan akan memberikan kebun plasma apa bila dari masyarakat memberikan tanahnya kepada pihak perusahan tetapi nyatanya masyarakat menanggung hutang,,yang berupa biaya perawatan,pupuk,panen dan kredit yang harus dibayar setiap bulannya…”sehingga masyarakat bukan mendapatkankeuntungan melainkan kerugian

  2. deni says:

    Berbuat nyata untuk bangsa dan rakyat lebih baik daripada menyebarkan hal 2 yg negative dan pesimistis…
    seandainya semua yg kita sebarkan adalah hal 2 positive, maka kita akan berpikir dan bertindak positive….
    bongkar pardigma dalam benak anda… mulailah berpikir positive……
    Be a Positive thinking man….

    • Ade Fadli says:

      tak ada yang negatif dalam tulisan ini… ini adalah hal positif bagi keberlanjutan generasi anak negeri… menyelamatkan kawasan hutan tersisa, memberi ruang keberlanjutan bagi budaya, menuju sebuah kehidupan kesejahteraan yang lebih bermartabat.

  3. bodong says:

    Siti Ropeah urangnya bungas
    Urangnya seksi pintar ba-aksi
    Siti Ropeah urangnya bahenol
    Ujar urang jua biar tuha asal bakarul
    Siti Ropeah yang lamak mungkal
    Sekali senggol hati rasa tapuntal

  4. Pasar komoditas jatuh demikian cepat seperti CPO, karet, kopi, beras, minyak bumi sudah terkoreksi hampir 60% dari puncak harga di bulan July 2008. Orang terkaya di Indonesia menurut majalah Forbes edisi tanggal 13 Desember 2007, menghadapi kesulitan luar biasa mempertahankan “jabatan” terkayanya. Siapa yang percaya? Tetapi ini adalah realitas dan setiap negara sedang menghadapi problem. Negara-negara yang menghasilkan hasil pertanian, pertambangan, minyak dan gas maupun manufaktur mendadak produksinya susah di ekspor walaupun harga sudah terjadi koreksi yang signifikan. Sepertinya semua bidang menjadi buntu, sekeliling menjadi gelap gulita dan dimana-mana terjadi tsunami kepercayaan

    Jonathan Haryantos last blog post..Ingin punya aset?

  5. risma says:

    wwwaaahhh…..

    good good…

    hanyar sadar sakalinya sawit toh kaya itu pang lah…

    maka di wadah ulun banyak pulang sawit…

    apa am nah..

    tau ja kalo sawit meuntungkan tapi amun pembukaan lahannya terlalu berlebihan toh kada baik jua kalo??

  6. iman budhiman says:

    Saya ditawari teman yg bekerja di sinarmas untuk membeli lahan yg telah bersertifikat hak milik dari seorang transmigran. Lahan ini akan akan segera ditanami sawit oleh sinar mas 1 atau 2 thn mendatang.

    Saya orang bandung jadi kalaupun akan membeli maka saya percayakan transaksinya pada teman saya yg sedang bekerja disana.

    Saya mohon saran dari teman2 petani sawit yg mengunjungi blog ini caranya menghindari terjadinya masalah di kemudian hari. Misalnya kepemilikan atau sertifikat ganda atau juga pengakuan kepemilikan lahan dari penduduk lokal atau pihak manapun.

  7. waluh says:

    salam,

    Numpang ribut ,ok saya pekerja sawit dan dekat dengan petani plasma, sebelumnya banyak petani yg ga’ tau dan ga’ sabaran menunggu hasil dan manfaat sawit sehingga banyak yang jual, sekarang setelah mengahasilkan banyak yg tercengang dan pada nyesal jual (sy aja nyesal ga beli)..so kalo ngeliat kehidupan masyarakat sekitar dan petani saya rasa terbantu deh dgn adanya perkebunan sawit pa lagi sekarang kayu susah (dikalimantan) tambang batu bara buat perusahaan besar saja.
    bung archi di Tanggarong kalo mau cari lahan sawit di Tanah Bumbu-Kalsel boleh deh sharing cuman harganya u/tahun tanam 2000 aja dah 90 jt, penghasilan dah 5-7 jt/kapling ..(enak juga jadi petani plasma ya goyang telor aja dapat uang)

  8. chipink says:

    ayo ribut-ribut sawit..
    pasti liat sukses tetangga sebelah.
    Ngekor aja kerjaannya, ga seluruh wilayah indonesia cocok.
    beras aja ditolak di papua (dan akan dipaksakan). Tuh negeri tetangga udah punya mainan baru, nipah dan aren namanya. Ntar klo negeri tetangga ntar sukses di mainan baru, nyontek lagi ya..
    Hidup nyontek, hidup bangsa pinter.. (pinter dikadalin..)..
    Ga usah deh pikirin tempat berpijak..
    Susu ibu diperah, hati ibu ditusuk…

  9. triyanto says:

    Denmas Grundel:

    Harga per kapling untuk kebun tahun tanam 2002 saat ini sekitar Rp. 40jt (kalimantan), kalau di Lampung Rp 55jt, dan daerah lain saya kurang paham. Kalau boleh tahu itu daerah mana? ikut perusahaan apa?

  10. grundel says:

    Dear all…
    saya baru saja ditawari rekan saya untuk membeli kebun sawit plasma (usia sawit 6 tahun) dengan harga perkaling @ Rp.10 juta.Tetapi harga sebenarnya kata teman saya ini adalah Rp. 75 juta.dengan catatan bahwa untuk menutup kekurangannya di potong setiap kali panen sebesar 30 %.Pada kesempatan ini saya ingin tanya pada rekan2 yg ahli perkebunan sawit plasma, bahwa hal-hal apa lagi yg menjadi kewajiban saya seandainya saya jadi membeli kebun tsb??
    atas bantuan dan jawabannya terima kasih…..
    Email: gibranarifin@yahoo.co.id

  11. kavung says:

    To. Orang hutan
    Info anda benar terkadang masyarakat pedalaman tidak paham dengan apa yang kita sampaikan, sebagai aktivis kadang sedih mendengar cerita teman2 lapangan tanah tempat mencari nafkah di tuker sama barang yang tak berguna belum lagi uang yang tidak seberapa beli minyak sama gula dah ludes, kapan masyarkat kita mau mengerti, mereka maunya melihta hasil yang nyata padahal apa yang kita lakukan adalah nyata kita tidak mau mereka kehilangan tempat mereka mencari nafkah

    Buat timpakul salam kenal, thank

    kavungs last blog post..Menuju KT 1

  12. Didi says:

    Salam semua.
    Saya sekarang ada di Yogya. Beberapa bulan yg lalu sy berkenalan dengan Pak Warsidi yg bergerak dalam bidang pertanian, khususnya pengembangan teknologi kerakyatan dalam pembuatan pupuk dan pakan organik. Menurut teori beliau, umur alamiah sawit bisa sampai 50 atau 60-an tahun. Kalo ini benar, ini berita gembira krn bs menekan biaya replanting kebun. berarti jg kebun sawit layak dijadikan warisan ke anak cucu :-) Tinggal dicari aja teknologi utk membuat sawit tetap produktif sampai masa tuanya (penggunaan pupuk organik yg tepat) dan dapat dibatasi ketinggiannya. Sementara utk pembusukan akar sawit yg sudah tua dapat dibantu dgn mikroba yg sering dipakai dalam pembuatan pupuk organik. Tinggal mencari mikroba apa yg sesuai utk itu. Beliau jg menyarankan utk menjaga kesuburan lahan sawit, pelepah atau daun sawit yg dipangkas dimasukkan ke dalam tanah kebun dengan dicampur mikroba yg tepat utk mengurai protein yg tinggi yg dikandung pelepah sawit tsb agar menjadi pupuk (NPK? sy tdk begitu paham ;-( ). Cara lain utk menjaga kesuburan, petani sawit seyogyanya punya ternak (kambing atau sapi atau kerbau) yg dilepaskan di dalam kebun utk mensuplai pupuk kandang ke dalam tanah kebun.

  13. Didi says:

    Salam semua,
    Sekilas info (mungkin udah pada tahu ;) )
    Bulan April sy main ke Lembah Hijau, Solo, Jawa Tengah. Tempat peternakan sapi dan pengembangannya. Bermotto “no-waste farming”. Orang di farm itu bilang kalo mereka iri dengan org sumatra yg punya banyak sawit. karena pakan sapi bisa dibuat dari daun/pelepah sawit. Jadi bisa dapat pakan gratis untuk beternak sapi.
    Makasih, Mas Timpakul.
    Salam, Didi.

  14. timpakul says:

    #fadli: sampai saat ini dari jutaan hektar perijinan, baru 10% yang melakukan penanaman. untuk pengambilan lahan, dilakukan dengan pola persuasif, yaitu negosiasi harga, yang bilamana gagal, pendekatan kekerasan dan penggunaan aparat dilakukan. konflik lahan masih terjadi di berbagai wilayah di Kaltim. dan proses negosiasinya dilakukan dengan tanpa keadilan, yang akhirnya komunitas lokal “dipaksa” menyerahkan kawasannya.

  15. Fadli says:

    Mas Timpakul..,
    Kalau liat diskusi yang ada saat ini, perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu momok yang sangat mengerikan karena dibarengi dengan adanya pembukaan lahan, yang tentunya akan mempengaruhi keseimbangan alam lewat hutannya. selain hal tersebut banyak persoalan yang ada didalamnya salah satu diantaranya dampak ekologis dari perkebunan kelapa sawit yang sudah dipaparkan dalam blog ini. Dalam diskusi ini juga terpapar mengenai kesejahteraan petani dari adanya aktifitas perkebunan sawit yang menurut mas Timpakul tidak menjamin kesejahteran petani itu sendiri..

    Kalau bisa tau bagaimana dengan proses perijinannya khususnya untuk kalimantan timur, apakah selama ini mengenai perijinan kelapa sawit tidak bermasalah? sehingga kalimantan timur dijadikan salah satu basis untuk areal pengembangan kelapa sawit. Apakah ada konflik antara pihak perusahaan dengan penduduk dalam hal pembebasan tanah, bagaimana proses negosiasi ganti rugi dari pihak perusahaan dengan pemilik tanah?

    mohon penjelasannya…Terima kasih

  16. oranghutan says:

    Saatnya kita beraksi:

    1. Pengembangan kelapa sawit rakyat untuk lahan-lahan kritis saja, atau di areal yg telah dibudidayakan
    2. Lahan gambut dan hutan tidak boleh dibuka untuk budidaya apapun (termasuk HTI),
    3. LSM jangan koar-koar ke luar demi dollar, ayo kita berdayakan masyarakat secara nyata.
    4. Hanya dengan sebuah Hand Phone baru (murahan) sebagian besar masyarakat adat di pedalaman mau melepaskan
    berhektar-hektar tanahnya. HP seharga 750rb ditukar dengan lahan empat hektar… wah wah wah….

    Salam

  17. kavung says:

    Masyarakat adat hidup dari hutan,air dan tanah, jika wilayah atau tanah yang mereka miliki di rampas buat perkebunan sawit kemana mereka akan mencari makan, perkebunan sawit hanya segelintir orang yang sukses dan tak sedkit yang menderita. Jika lahan yang di kelola lahan kritis yang hanya di tumbuhin ilalang apa salahnya di tanam sawit tapi bagaimana jika lahan yang di tanam sawit itu ada lahan perkebunan masyarkat adat bahkan hutan lindung di babat kayunya di ambil setelah itu di tanam sawit sungguh menyedihkan hutan di bumi Indonesia tercinta ini akan di hijaukan oleh sawit karena tidak ada resapan air maka bencanalah yang datang lagi2 masyarakat kecillah yang jadi korban. capekkk dechhhhhhhh

    kavung’s last blog post..Oleh – Oleh dari Singkawang

  18. Kuncoro,dr says:

    Kalau boleh sekedar share,bukan bermaksud berpihak saya kerja di sebuah coal terminal di Pulau Laut Barat ( Kotabaru ) dimana areal sekitar banyak plasma sawit, dan fenomena ganjil muncul dimasyarakat yakni. penduduk lokal rame-rame menjual lahan plasma mereka seharga tergiur harga yang menurut mereka “menguntungkan”.2 taun lalu saya membeli 2 kapling ( 2 ha ) @ 5 juta, dan drastis tahun ini harga 16-24 jt. dan hal ini membuat penduduk menjual plasmanya.
    Secara humanis saya iba…dan kasihan mereka sungguh tidak mengerti bahwa sawit yang mereka jual nantinya akan bisa menjadi sandaran hidup…tp nyatanya mereka jual utk sekadar hidup makan.
    dan hari ini saya baru transaksi 3 kapling yang masih belum produksi @ 10 juta.
    Sebelum saya bayar saya jelaskan keuntungan sawit…namun mereka tetap ingin menjual krn himpitan ekonomi/tuntutan anaknya untuk dibelikan HP/motor baru…..sebuah ironi akibat kurangnya informasi/~kobodohan.
    Bagi kawan-kawan yang ingin berburu sawit silakan datang ke Kotabaru-Pulau Laut Barat/lontar sebelum dibeli semua oleh cukong A hong yang tengah mengintai utk mencari 200 kapling….
    Sebagai info harga variatif 15-27 juta.
    Untuk info send mail to Kuncoro@ibt.co.id
    Ayoooo bertani….agrobisniss will be king……in global chaos.
    good luckkkk..

  19. fikar says:

    buat kawan2, sekedar tambahan aja..

    sawit itu memang bagus demi unuk penambahan devisa, tapi apa jadinya kalo demi untuk menjadi negara pengekspor sawit terbesar di dunia, tapi HUTAN ALAM di indonesia abis di babat, HUTAN GAMBUT di konversi, Hutan itu kan paru2 dunia, apa lagi hutan gambut. hutan gambut itu adalah penampung CO2, tapi demi menjadi pengekspor terbesar, lahan gambut di konversi, dan parahnya lg dengan cara di bakar, justru malah melepaskan CO2 ke udara, sehingga menjadi salah satu faktor global warming. dan juga walaupun menjadi pengekspor minyak sawit terbesar toh harga minyak goreng tetep aja mahal, coba kalian tanya ISTRI atau IBU kalian.. karena yg mendapatkan keuntungan itu ya hanya para pengusaha saja, dan parahnya lg perusahaan yg mendominasi adalah perusahaan asing, untuk contoh : Wilmar, Cargill, Golden Hope, etc… ada juga perusahaan yg memang itu berasal dari indonesia seperti SInar Mas Group yg banyak banget anak perusahaannya… dan juga salah satu yg dirugikan lg adalah masyarakat adat…

    gw disini bukannya menentang sawit, tapi kita juga harus perhatiin elemen2 tersebut… jangan hanya melihat dari segi keuntungan yg sebenarnya justru malah merugikan..

    PEACEFULL

  20. oranghutan says:

    Sdr. Antie silakan hubungi oranghutan15@yahoo.com

  21. antie says:

    Pak ke Hp aja bolehnggak ? maksudnya saya telp ke HP Bpk saja … HP saya 0813 8067 3801 .. Bpk miss call aja ato sms .. nanti saya telp .. thanks yah .. abis udah berbagai macam email nggak bisa juga mental terus dari tadi … aku juga bingung nih knp jd gitu yah

  22. antie says:

    Pak archie koq emailnya nggak bisa yah ??? aku td coba emali bpk .. tp koq mental lagi yah .. disitu tulisannya failed permanently … gimana tuh pak archie …

  23. Archie says:

    Buat Sdr. Antie:

    Sebenarnya kebun plasma peruntukannya untuk petani yg kondisi ekonominya kurang, atau memang dia itu petani tulen. Tapi kalau Anda memang mau bertani, maka tidak ada salahnya punya kebun plasma juga. Kalau sudah kaya ya kasihanilah yang lain.

    Untuk tanaman umur 5-6 tahun pasarannya saat ini sekitar 25 jt/kapling, bisa lebih tinggi atau lebih rendah. untuk Pangkalan Bun, plasma yg termasuk tinggi pasarannya adalah plasma PT KSK dan PT HS. Untuk yg baru plasma PT BGA juga ok. Sedangkan plasma yg pasarannya agak kurang adalah PT MEA, PT Gemareksa, PT Indhasana dan PT SR
    (Sampoerna Agro). Tapi untuk tanaman yg baru, rata-rata ada peningkatan kualitas.

    Plasma umur 5-6 th berarti belum konversi, artinya si petani belum melunasi kreditnya dan sertifikat tanahnya masih di bank. Risikonya adalah kalau si petani nantinya mengambil alih lagi lahannya dg berbagai cara maka akan bermasalah. Sebaiknya kalau mau beli:
    1. Harus diteliti apakah lahannya bermasalah atau tidak. Di beberapa lokasi banyak kebun sawit milik transmigran yg
    diclaim oleh penduduk asli. Ada pula dalam 1 kapling hanya tertanami 0,5 ha, sisanya rawa atau pasir.
    2. Jual beli harus dilakukan secara tertulis di atas materai, diketahui oleh kepala desa, saksi-saksi dan camat.
    3. Harus menjalin hubungan yg baik dengan pengurus KUD, sebab mereka yg membagikan SHU.

    Untuk yg berumur 10 tahun harganya memang segitu (sudah lunas atau hampir lunas). mana yg terbaik? sekarang tinggal berapa modal yg Anda siapkan dan berapa hasil bulanan yg Anda harapkan. Inilah ilustrasinya:

    Umumr 5-6 tahun (masih menanggung hutang 6 th lagi):

    1. Hasil SHU tahun ke-1 = Rp. 450.000,-/buan = Rp. 5.400.000,-/th
    2. Hasil SHU tahun ke-2 = Rp. 750.000,-/bulan = Rp. 9.000.000,-/th
    3. Hasil SHU tahun ke-3 = Rp 1.000.000,-/bulan = Rp 12.000.000,-/th

    Artinya modal Anda akan kembali dalam 3 th. Selanjutnya Anda akan menikmati hasil yg jumlahnya semakin besar selama 18 tahun lagi.

    Untuk tanaman yg telah berumur 10 th (lunas atau hutang tinggal 1 tahun lagi):

    1. Hasil SHU tahun ke-1 = Rp. 2.500.000,-/bl = Rp 30.000.000,-/th
    2. Hasil SHU tahun ke-2 = Rp. 4.000.000,-/bl = Rp. 48.000.000,-/th

    Artinya modal Anda akan kembali dalam 1,5 th. Tetapi umur tanaman Anda sdh 12 th, sehingga tinggal 13 th lagi menikmati hasil.

    Kalau melihat hitungan di atas seolah2 yang berumur 10 th lebih untung (cepat balik modal dan hasil per bulannya tinggi). Tapi harus diingat bahwa nilai kebun kelapa sawit dari tahun ke tahun meningkat sangat cepat; misalnya tanaman umur 5-6 th harganya per kapling tahun lalu sekitar Rp. 12.500.000,-/kapling, naik 2 x lipat tahun ini menjadi Rp. 25.000.000,-/kapling. Jangan bingung di sini antara nilai penghasilan penjualan buah (SHU) dengan nilai harga kebun, mungkin seperti portofolio gitu. Selain itu, peluang adanya kebun yang dijual itu semakin lama semakin sedikit karena petani semakin tahu betapa untungnya memiliki kebun sawit.

    Kalau dana Anda cukup (misalnya ada Rp. 100.000.000,- saya sarankan beli yg masih berumur 5-6 tahun maka akan dapat 4 kapling). Di PT BGA (daerah Kec. Kotawaringin Lama) saya dengar harganya masih murah sekitar 10 jutaan/kapling tapi masih buah pasir. Kalau di daerah Kalsel harga sudah naik gara-gara diserbu oleh para petani dari Sulawesi dan Medan yg telah lebih dulu merasakan untungnya berkebun sawit.

    daripada tiap hari macet di tol Pondok Gede / cawang, lebih baik bertani saja (Kastanya naik dari Sudra ke Ksatria). Kalaupun tetap mau di Jakarta ya demi untuk menyekolahkan anak-anak saja. Semoga sukses.

    Kalau kurang jelas silakan hub saya di archie_anisa@yahoo.co.id

Bekomen yukz