“saya sering kali membalas email yang datang setelah pukul 5 ataupun di hari sabtu dan minggu dengan kalimat, ‘cobalah bersenang-senang dengan keluarga anda, dan kembalilah bekerja di hari senin’”, ujar seorang campaigner dari sebuah organisasi beranggotakan 290 organisasi.
ungkapan yang sering kali ditemukan dari para pegiat gerakan sosial adalah bekerja 24×7, bahkan beberapa harus beraktivitas 30×8. sudah sangat berada di luar kapasitas sebagai seorang individu yang harusnya bisa menikmati hari-harinya. atau bisa jadi, hanya karena sudah menjadi bagian dari kehidupan.
“seperti organisasi lingkungan besar itu, mereka selalu berkata siap bila harus ada tugas mendadak. mereka bagai pasukan parasut yang siap diterjunkan dimana saja” lanjutnya.
bila sudah mendaging yang berdarah, sepertinya sudah lupa akan kepentingan individu. semua dilakukan dan dengan dalih, untuk perjuangan. namun kemudian pertanyaannya adalah, berjuang bagi siapa?
tak begitu mudah dipercayai bila seseorang menyatakan yang dilakukan adalah bagi mereka. karena sebenarnya yang terjadi adalah menggunakan mereka bagi kita. sayangnya, tak ada cermin yang cukup baik untuk merefleksikan. dan tak ada teropong yang baik untuk melihat lebih dekat.
pada sebuah perjuangan !
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2009. sebuah perjuangan. http://timpakul.web.id/sebuah-perjuangan.html (dikutip tanggal 19 May 2012)
-- timpakul.web.id - @timpakul
Golput Sebagai Perubahan
Golput pada Pilpres 2009 adalah siasat kebudayaan masyarakat untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
golput adalah pilihan sikap politik masyarakat dimana oligarki politik masih mencekram demokrasi di Indonesia
…. setuju….
panthoms last blog post..Kecerdasan Tanpa Budaya, posting dari Arya Hadi Dharmawan