“nggak penting itu sepatu dan baju seragam. saya lebih mengapresiasi bila kepala sekolah membiarkan siswa didiknya bersekolah tanpa alas kaki dan berkaos kutang” ujar kepala dinas pendidikan bumi etam.
sepati dan baju seragam, ditambah dengan buku pelajaran dan buku tulis, merupakan beban biaya yang cukup besar bagi seorang anak sekolah. malu, bila tak sama dengan teman-teman sekolah, hingga harus memaksa orangtua agar segera membelikan sepatu hitam tanpa putih sedikitpun ataupun baju seragam baru setiap tahunnya.
pendidikan gratis yang dimandatkan oleh konstitusi negeri ini semakin jauh dari perjalannya. anggaran negara 20% untuk pendidikan pun tak pernah memenuhi kuotanya, ditambah dengan begitu banyaknya pungutan-pungutan agar tetap bisa bersekolah.
pendidikan pun masih jauh dari sebuah kualitas yang baik. guru bukan lagi sebuah pengabdian, namun telah menjadi sebuah profesi yang menjanjikan. dengan gaji yang dua hingga tiga kali lipat upah minimum regional, maka sangat sejahtera ketika menjadi seorang guru.
kurikulum yang tak mencerdaskan, masih merupakan sebuah tantangan tersendiri. karena, tak begitu banyak yang berpikir untuk memperbaiki kurikulum, yang telah ada sejak jaman batu. bahkan sepertinya, lebih baik kurikulum di jaman batu tulis, dibandingkan di peradaban laptop hari ini.
masih terlalu jauh memimpikan kesejahteraan pendidikan. namun, langkah harus tetap ditapak. pada satu waktu, keangkuhan birokrasi akan runtuh dengan sendirinya. hancurnya kapitalisme pendidikan, merupakan awal kebangkitan peradaban manusia yang baru. tapi, entah kapan, walau bisa jadi tepat tiga tahun mendatang.
pada sepatu dan baju seragam !













21 August 2009 at 10:02 am
Kunjungan di pagi hari yang cerah dan salam kenal sebelumnya dari sesama peserta Pesta Blogger 2009
Tulisan Dwi Wahyudi yang terbaru blog ..Marhaban Ya Ramadhan 1430 H
[Reply]