diam, tenang, menghanyutkan. aliran coklat tak jernih terus membawa material menuju sandarannya. butir-butir tanah dan pasir melayang diantara puing-puing kehidupan. jelaga dan minyak kapal yang baru berlalu memancarkan pelangi tak berwarna. ikan dan hidupan air lainnya terus bergeliat. sungai itu….
anak-anak kecil bersenda di atas batang-batang pepohonan yang ditumbangkan terus-menerus. tawa mereka riang, tak hiraukan alunan musik dari jamban yang terus bergoyang. ilung mendekat dan menjauh bersamaan. pencari ikan disibukkan dengan jaringnya yang tersangkut ranting. pesut, dimanakah ia? sudah seminggu tak lagi bersua di persimpangan sungai ini. sungai itu …

ponton menderukan suara yang pekakkan kehidupan dasar sungai. perlahan menjauhi. kehidupan menjadi senyap. burung raja udang terbang rendah dan hinggap di dahan kecil. matanya terus menatap pada tiada. sungai, telah melahirkan kematian. cemaran daratan telah sempurna meracuni kehidupan. air tak lagi mudah untuk dinikmati. mandi pun berkubang minyak. kelat, pekat. cahaya mentari senja memberi warna keheningan. sungai itu … sudah tak lagi bagi kehidupan.

pada sungai-sungai yang dicemarkan !
Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
Ade Fadli. 2012. Sungai itu…. http://timpakul.web.id/sungai-itu.html (dikutip tanggal 20 May 2013)
-- timpakul.web.id - @timpakul
sungai tempat hidup organisme secara alami bisa memperbaiki dirinya sendiri jika ia tercemar.
namun masihkah ia bisa memperbaiki dirinya sendiri,jika sumber pencemaran itu berasal dari ulah manusia?