Sungai itu…

diam, tenang, menghanyutkan. aliran coklat tak jernih terus membawa material menuju sandarannya. butir-butir tanah dan pasir melayang diantara puing-puing kehidupan. jelaga dan minyak kapal yang baru berlalu memancarkan pelangi tak berwarna. ikan dan hidupan air lainnya terus bergeliat. sungai itu….
sungai

anak-anak kecil bersenda di atas batang-batang pepohonan yang ditumbangkan terus-menerus. tawa mereka riang, tak hiraukan alunan musik dari jamban yang terus bergoyang. ilung mendekat dan menjauh bersamaan. pencari ikan disibukkan dengan jaringnya yang tersangkut ranting. pesut, dimanakah ia? sudah seminggu tak lagi bersua di persimpangan sungai ini. sungai itu …
sungai

ponton menderukan suara yang pekakkan kehidupan dasar sungai. perlahan menjauhi. kehidupan menjadi senyap. burung raja udang terbang rendah dan hinggap di dahan kecil. matanya terus menatap pada tiada. sungai, telah melahirkan kematian. cemaran daratan telah sempurna meracuni kehidupan. air tak lagi mudah untuk dinikmati. mandi pun berkubang minyak. kelat, pekat. cahaya mentari senja memberi warna keheningan. sungai itu … sudah tak lagi bagi kehidupan.
sungai

pada sungai-sungai yang dicemarkan !



Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :


Ade Fadli. 2012. Sungai itu…. http://timpakul.web.id/sungai-itu.html (dikutip tanggal 1 September 2014)



-- timpakul.web.id - @timpakul



One thought on “Sungai itu…

  1. sungai tempat hidup organisme secara alami bisa memperbaiki dirinya sendiri jika ia tercemar.
    namun masihkah ia bisa memperbaiki dirinya sendiri,jika sumber pencemaran itu berasal dari ulah manusia?

Beri komentar