tak biasa di luar

Posted on: Sunday, Nov 1, 2009

tujuh belas orang pelajar SLTA itu duduk sambil menatap layar yang memutar film “HOME”. beberapa sibuk bermain dengan telepon selulernya. satu dua orang tak kuat menahan kantuk, mulai memejamkan mata. mereka sedang belajar tentang perubahan iklim.

istilah perubahan iklim masih asing di telinga mereka. sama halnya dengan beberapa orang yang asing dengan istilah “global warming“. keingintahuan mereka tetap ada, walau tak banyak. dalam sebuah sesi diskusi, mereka sangat bersemangat untuk berdebat. tentang asap rokok hingga urusan listrik. seorang mereka berujar “gimana kalau kita rame-rame nutup tambang batubara“.

malam hari, waktu sudah melalui pukul 22. bulan purnama di pucuk kepala. mereka masih tertarik untuk berjalan sekedar mencoba untuk melihat satwa beraktivitas di malam hari. hanya kelelawar dan seekor burung malam yang terlihat melintas. suara serangga bersahutan. tak terdengar suara katak bersahutan. mungkin sudah terlalu lelah katak itu memanggil hujan.

pola pembelajaran di alam, dekat pepohonan, memberikan sebuah energi berbeda. dalam ruang bersama, berbagi pengetahuan, mengurai isi kepala. satu per satu pikiran itu keluar dan terangkai menjadi memori baru. pada setiap kali proses serupa, para pelajar seperti terlepas dari ruang sempitnya. luapan keingintahuan menjadi luar biasa. mungkin karena mereka tak biasa di luar.

sayangnya, masih banyak sekolah yang belum memberikan dunia luar pada pelajar. hanya terkungkung pada teks buku pembelajaran ataupun mendengarkan guru bertutur. “agar hasil ujian mereka bagus“, ujar seorang guru. “kami pun tak sungkan untuk memanipulasi nilai hasil ujian akhir mereka, agar tetap terlihat sekolah kami berhasil. ini juga sesuai dngan perintah kepala daerah yang disampaikan oleh kepala dinas pendidikan pada kepala sekolah kami.“, ujar rekannya.

mengubah cara belajar, mengubah cara mengeksplorasi pengetahuan, harusnya mungkin dilakukan. dan akan jauh lebih menghasilkan geliat generasi cerdas. bukan sekedar mereka yang mampu menyalin pekerjaan kawan ataupun menghapal setiap bait buku pelajaran. membongkar logika pelajar menjadi sebuah kebutuhan untuk melakukan perubahan.

(r)evolusi pendidikan terus berjalan. saat ruang dan waktu mulai tersekat. bencana ekologi berkelanjutan menjadi ancaman. pemanasan global mulai mencairkan relung jiwa. satwa yang enggan untuk bercengkrama menjadi saksi perjalanan mineral menuju pematian bumi. terus bergerak generasi agar tak menjadi kelam di rezim kemudian.

pada yang tak biasa di luar !

Topik

Arsip

jejaring blog

update by mail

ketik email anda:

Layanan FeedBurner


wajah

Campaign

Borneo2020 - Anti Generasi Suram Kalimantan   Lajur khusus Sepeda - bukan sepeda listrik  


Jejaring

rank blog indonesia Nature blogs & blog posts Page Rank
 



96
Unique
Visitors
Powered By Google Analytics


Avatar

Muklis

November 2nd, 2009 at 12:23 am
Permalink this comment

1

Wah penak ora kepenak tetap tak lanjutin baca, walau kepala rada sakit mas memahami gaya bahasanya, tapi malah jadi menarik dan mata jadi melek je, improve bahasanya aneh dan nyeleneh tapi kok enak ya, tentang dunia pendidikan yang saat ini juga makin aneh aja, beda denagn kurikulum 84 yang nota bene belum ada isi global warming, salam ya mas, oh ya mas boleh tak link ke blogku ga, klo boleh sapa ya di blog [ga enak klo ga di ijinin]
Muklis´s last blog ..Gajian Dari Blog My ComLuv Profile

[Reply]

Ade Fadli Reply:

silahkan untuk nge-link mas… ^_^

[Reply]

Rss Feed Tweeter button Technorati button Reddit button Linkedin button Delicious button Digg button Flickr button Stumbleupon button