Teknologi Informasi dan #PilgubKaltim

Kampanye Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur baru saja dimulai. Tanggal 10 September 2013, warga Kalimantan Timur (dan Utara) akan menentukan siapa yang akan memimpin Kalimantan Timur ini untuk lima (5) tahun mendatang. Beragam cara kampanye mulai dilakukan oleh pasangan calon pemimpin Kaltim tersebut, termasuk melalui sosial media.

Hampir dari setiap calon pemimpin Kaltim telah menggunakan laman (website) sebagai media untuk menyampaikan informasi dan keunggulan dari masing-masing pasangan. Facebook dan twitter pun digunakan sebagai media penyampai. Dan terdapat beberapa akun tidak resmi youtube yang berisikan kampanye calon pemimpin Kaltim tersebut.

Penyampai informasi. Hanya pada level ini media sosial berbasis internet digunakan oleh calon pemimpin Kaltim. Tidak ada pengelola khusus dari akun-akun media sosial pemimpin Kaltim tersebut. Dari ketiga pasangan calon pemimpin, hanya satu akun calon pemimpin yang menjawab lima (5) pertanyaan yang diajukan melalui twitter. Salah satu jawaban pengelola akun tersebut terhadap apa pentingnya media sosial bagi mereka adalah “Media sosial merupakan salah satu cara untuk tahu tentang keseriusan pasangan tersebut”. Dan tim tersebut memang tidak memiliki tim khusus untuk mengelola media sosial kampanye.

Kemudian beranjak pada visi dan misi calon pemimpin Kalimantan Timur, dimana hampir sebagian besar memaparkan visi dan misi yang masih abstrak. Kalaupun ada program dan strategi yang disampaikan, pun masih belum dapat dipahami dengan mudah bagaimana cara dan jalan untuk mewujudkannya. Keseluruhan calon pemimpin Kaltim masih memfokuskan pada pertumbuhan ekonomi, sumberdaya manusia, dan infrastruktur. Dan tidak satupun dari ketiga calon pemimpin tersebut yang memaparkan terkait teknologi informasi dan komunikasi, baik untuk infrastruktur, sumberdaya manusia, hingga dukungannya terhadap proses pembangunan lima tahun mendatang.

Visi Misi Cagub 2013-2018

Visi Misi Cagub 2013-2018

Teknologi Informasi dan Komunikasi memang bukanlah sebuah tujuan. Teknologi Informasi dan Komunikasi merupakan alat untuk membantu dan mengkatalis proses yang sedang berjalan. Perluasan dan percepatan pencapaian tujuan pengelolaan wilayah dapat tercapai dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang tepat dan mudah diakses. Keterbatasan biaya pembangunan dengan kewilayahan yang luas dan berbiaya tinggi, seperti Kalimantan Timur, akan terbantu dengan adanya pemahaman dan implementasi yang benar dalam pengembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Dari hasil survey yang dilakukan pada tahun 2007, terlihat bahwa 59% masyarakat belum mengetahui layanan berbasis teknologi informasi yang disediakan oleh pemerintah. Tingkat kesiapan perangkat keras, lunak maupun sumberdaya manusianya pun masih cenderung dibawah nilai tengah. Ini adalah kondisi 6 (enam) tahun yang lalu, yang sampai dengan hari ini juga belum akan berubah terlalu drastis.

Ada banyak program-program pemerintah terkait pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pemerintahan, mulai dari lelang online, kantor online, sistem informasi komoditas, hingga pemberian akses informasi pada publik. Akan tetapi, sebagian besar hanya dijalankan sebagaimana proyek berjalan, tidak tersosialisasikan dan tidak termanfaatkan secara maksimal. Bahkan kantor maya yang pernah dibuat pun, hingga saat ini masih belum digunakan sebagai media berkoordinasi internal pemerintahan provinsi Kalimantan Timur.

Bilamana calon pemimpin provinsi ini masih belum memahami arti penting teknologi informasi dan komunikasi diantara semakin bertumbuhnya Generasi Z hari ini, maka harapannya akan tertumpu pada dokumen perencanaan pembangunan. Dengan membaca satu persatu isi Draft Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kalimantan Timur 2014-2018, yang disebarkan bersamaan dengan pelaksanaan Kaltim Summit II beberapa waktu lalu, maka akan menemukan sebuah realita, tak ada satupun kata-kata terkait “teknologi informasi” yang ada dalam dokumen tersebut. Baik sebagai perangkat pendukung proses pembangunan, maupun sebagai bagian yang harus dilakukan dalam proses pembangunan.

Pertanyaan sederhana yang muncul adalah lalu bagaimana kemudian proses pembangunan dan pengelolaan teknologi informasi dan komunikasi dapat dilakukan dan diarahkan pada pemanfaatan yang lebih baik, bila saja pemimpin dan dokumen pendukungnya sama sekali belum menyentuh bagian tersebut? Bisa jadi kemudian, proses-proses pengelolaan teknologi informasi dan komunikasi di Kalimantan Timur akan berjalan sebagaimana proyek tak bersambungan dijalankan, ataupun tergantung ‘perintah’ dari pemerintah pusat.

Ada beberapa hal yang penting untuk dilihat terkait dengan pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi, diantaranya meliputi tingkat literasi (pemahaman), tata kelola, (perencanaan, pengadaan, penerapan, pengawasan), sumberdaya teknologi (jaringan, hardware, software, informasi, sumberdaya manusia), serta hubungan dengan kebijakan yang lebih tinggi dan luas. Keterhubungan antar bagian-bagian tersebut adalah hal yang harus ditingkatkan secara bersamaan. Teknologi informasi dan komunikasi bukanlah semata urusan membuat website (laman) ataupun menyediakan akses internet. Namun lebih jauh dari itu, bagaimana kemudian budaya digital mulai menjadi bagian penting dalam proses pengelolaan layanan publik bagi warga.

Padahal Teknologi Informasi dan Komunikasi dapat membantu proses-proses pembangunan, diantaranya melalui diseminasi informasi pembangunan, memperoleh respon-aspirasi publik, memahami kondisi sosial-culture warga, memperkuat usaha kecil warga, meningkatkan layanan sosial (kesehatan, pendidikan dan lainnya), meningkatkan kualitas layanan publik, memperkuat proses pembelajaran (pendidikan), memperluas pasar komoditi, mendokumentasikan budaya, hingga melahirkan moda ekonomi baru dan tata pemerintahan yang akuntabel dan transparan. Masih banyak hal yang mungkin dikembangkan di Kalimantan Timur, terkait dengan teknologi informasi dan komunikasi, termasuk untuk mengembangkan ‘lembah silikon’ ataupun pusat data nusantara, dikarenakan keunggulan dari sisi geografis kawasan, dibandingkan kawasan lain di Indonesia.

Kalimantan Timur, dengan segala bentuk kemewahannya hari ini, dan dengan segala bentuk ketertinggalannya saat ini, harus sudah mulai menempatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai bagian penting dan strategis dalam proses pembangunan dan pengelolaan wilayahnya. Kaltim dengan nilai angka Anggaran Pendapatan Belanja Daerah yang tidak kecil, sudah waktunya untuk mulai menginvestasikan pengembangan komunitas digital hingga industri berbasis teknologi informasi untuk masa depannya. Bila tidak, Kaltim akan tetap menjadi tempat mendulang uang dan lalu dialirkan ke pusat, tanpa pernah dapat kembali menikmati tetesan baliknya dengan kesejahteraan.



Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :


Ade Fadli. 2013. Teknologi Informasi dan #PilgubKaltim. http://timpakul.web.id/tik-dan-pilgubkaltim.html (dikutip tanggal 23 September 2014)



-- timpakul.web.id - @timpakul



Beri komentar