Toilet Mewah Warga

5 January 2012 | celoteh oleh

Jan
05

Setidaknya ada 4 toilet pada setiap lantai, dari 24 lantai yang ada. Artinya, tersedia 96 toilet di gedung itu, dengan biaya perbaikan 2 miliar rupiah. Selain itu, dua lantai parkir akan memakan biaya 3 miliar. Artinya, akan ada biaya 5 miliar rupiah hanya untuk memuaskan gedung wakilnya warga ini.

Komentar pun bermunculan. Terlalu mahal. Membuang-buang uang rakyat. Pastinya akan ada toilet mewah dan ber-AC. Lha, bukannya AC memang ada di gedung bertingkat, karena menggunakan AC terpusat. Inilah harga yang selalu dikeluarkan, hanya untuk memberikan pemuasan bagi anggota parlemen negeri. Budaya dilayani, bukan melayani, menjadikan segala pilihan untuk memuaskan diri selalu lebih diutamakan.

Jauh dari gedung pusat penghisapan warga tersebut, masih tersebar jamban-jamban di sepanjang aliran sungai negeri ini. Juga, masih terdapat banyak kampung tanpa jamban, apalagi kakus ataupun toilet. Pembuangan hajat dilakukan langsung di sungai, dengan ataupun tanpa sarung, ataupun langsung berada di antara pepohonan dan semak yang merimbun. Hajat warga, berada entah dimana. Sementara, para pejabat publik, yang melayani rakyat, selalu sibuk untuk memastikan adanya toilet bagi mereka.

Jamban di Muara Ancalong (foto: @ceester_21)

Jamban di Muara Ancalong (foto: @ceester_21)

Perbincangan jamban memberikan nuansa tersendiri bagi warga kampung. Membangun kekerabatan yang lebih kuat, hingga menjadi media bertukar informasi dan pengetahuan. Sambil mencuci, sambil membersihkan diri, sambil membuang hajat. Obrolan jamban, sebuah hal yang tak pernah dirasakan oleh para pejabat itu. Apalagi untuk mendengarkan kegelisahan warga, yang hidupnya terancam oleh perijinan industri ekstraktif yang dikeluarkan para pejabat.

Toilet ini bersih karena khusus untuk kunjungan pejabat. Kemarin dikerahkan tentara untuk memastikan kebersihannya. Kalau Pejabat itu ke Samarinda melalui jalan darat, pasti mampir disini, hanya untuk masuk toilet.” ujar seorang kawan yang biasa tinggal di Tahura Bukit Soeharto. Banyak orang yang disibukkan, hanya karena kepentingan masuk toiletnya seorang pejabat. Untuk proses penyambutan menuju toilet ini, bahkan disiapkan kursi empuk, yang ketika kunjungan usai, kembali dibawa ke Samarinda, untuk masuk ke gudang. “Kursinya baru buka bungkus. Sepertinya setelah ini, entah akan dimana kursi-kursi itu.” lanjutnya.

Toilet, selalu diabaikan dan selalu dicari. Tak banyak orang yang mau dengan sukarela membersihkan toilet bagi publik. Makanya, pada setiap pintu toilet umum, selalu tersedia kotak, seorang yang asik duduk di depan toilet, sambil menikmati irama di dalamnya, serta tulisan kecil, “Mandi Rp 2.000,- Kencing Rp 1.000,- Buang Air Besar Rp 2.000,-“, yang terkadang juga tertulis di dinding dalam toilet umum.

Toilet mewah warga adalah jamban yang mengapung di tepi sungai. Toilet mewah yang katanya wakilnya warga adalah toilet yang selalu kering dengan pengharum ruang yang mewangikan pada waktunya. Perbincangan dua toilet ini tak akan pernah bertemu. Wakil warga belum sepenuhnya ingin mendengarkan kegelisahan dan gagasan warganya. Toilet, harusnya dapat mempertemukannya.



Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :


Ade Fadli. 2012. Toilet Mewah Warga. http://timpakul.web.id/toilet-mewah-warga.html (dikutip tanggal 23 February 2012)



-- timpakul.web.id - @timpakul



Ditulis oleh

lahir dan besar di tepi karangmumus. berceloteh dengan negativisme dan pesimis. berjalan menuju berakhirnya sang waktu.

Saikung mahalabiu gasan “Toilet Mewah Warga”

Show / Hide Comments
  1. Dewo says:

    Turut prihatin dgn tingkah laku para wakil rakyat…

Bekomen yukz