Archive for ‘aku’

February 20th, 2010

ada pejabat mau datang

ada pejabat mau datang. jadi harus mulai berbenah. merapikan semua sudut pandang. berharap agar sang pejabat memberikan sebuah sapa membahagiakan. setelah itu, memastikan bahwa aku akan terus berada di kursi empukku.

ada pejabat mau datang. pedagang kaki lima harus berhenti berjualan. anak-anak sekolah dilatih untuk memegang bendera kecil di tepi jalan. paduan suara mengasah suaranya agar terdengar merdu, walau dipaksakan. berharap agar sang pejabat memberikan sebuah tepukan di punggungku. setelah itu, aku akan diberikan sebuah penghargaan yang akan ku pajang di dinding ruang kerjaku.

ada pejabat mau datang. jalanan dilapisi karpet berwarna merah. kursi baru dibeli agar dia bisa duduk sambil tersenyum. berharap agar sang pejabat tak menyaksikan kejahatan yang aku perbuat. setelah itu, aku akan dilepaskan dari segala jerat hukum manusia.

ada pejabat mau datang. semua berbenah. semua disibukkan. semua ingin tampil. semua berharap dapat memanjakannya. lidah disiapkan untuk menjilat lebih nikmat agar sang pejabat memperoleh kepuasannya. setelah itu aku akan menggantikan posisi jabatannya pada suatu masa.

ada pejabat mau datang. entah siapa sang pejabat itu. aku tak pernah tahu, karena aku tak pernah mengenal sang pejabat. yang kutahu, bahwa banyak yang menjadi penjahat.

ada pejabat mau datang !

January 17th, 2010

sebuah pekerjaan

apa yang dimaknai dengan sebuah pekerjaan? sebuah kegiatan yang kemudian diberikan imbalan berupa uang dalam setiap bulannya? atau sesuatu yang menghasilkan uang melimpah? atau sepertinya, hanyalah sebuah hal yang tak terlalu penting diisi dalam setiap formulir yang diberikan.

bagi sebagian, pekerjaan dipandang setara dengan sebuah kehormatan. pekerjaan menunjukkan sebuah harkat. pekerjaan menggambarkan sebuah nilai. maka kemudian terlintaslah tingkatan cara pandang terhadap seseorang dari jenis pekerjaannya. yang walau terkadang, terlalu terbalik cara memandangnya.

seorang anggota parlemen, dipandang seorang yang harus dihormati. walau kemudian mereka harus berlomba-lomba menghabiskan uang publik. pun ketika mereka telah terbukti menjadi seorang koruptor, tetap jua sebuah pita kehormatan melekat padanya.

seorang pengumpul barang yang dianggap tak berguna, selalu dipandang sebagai hal yang direndahkan. walau mereka setiap hari harus berjalan kaki ribuan meter untuk menjadi perantara sebuah daur barang yang tak mungkin habis dimusnahkan sang waktu. pun ketika mereka tak berpakaian yang terlalu bersih, tetap jua sebuah label yang terendah melekat padanya.

pekerjaan, bukanlah sebuah cara untuk menentukan kualitas seseorang. ada banyak hal yang menjadikannya ada melekat pada seseorang. juga ada ruang hampa yang terkadang takkan mampu terpahamkan dalam melihat sebuah ruang pekerjaan. terkadang, masih terlalu banyak yang berada bukan pada waktu dan tempatnya.

pekerjaan, mungkin aku belum sanggup bertemu dengannya. atau memang ini sebuah pilihan untuk tak menemuinya. menjadi molekul bebas dalam garis edar, merupakan sebuah kenikmatan tersendiri. untuk membuka cakrawala kehidupan pada sekat yang tak berdinding. aku, masih perlu menemukan diriku.

pada pekerjaan yang tak terkerjakan !

January 9th, 2010

dia itu ternyata tuli

pak wali itu ternyata tuli, masa dikiau banyak orang, kada noleh

di sebuah warung. sambil mengantri untuk membayar. seorang bapak berceloteh tepat di sampingku. “pak wali itu ternyata tuli, masa dikiau banyak orang, kada noleh“. aku mencoba menguji pendengaranku. beliau mengulangi lagi ungkapannya, “pak wali itu ternyata tuli. tadi pas di masijid, banyak yang mengiau sidin, masa kada noleh“.

sebenarnya aku tak terlalu yakin ada orang yang disebut beliau tadi di tempat itu. karena aku hanya mendengarkan celoteh seorang incumben yang membawa sumbangan sebesar lima juta rupiah untuk rumah ibadah. tak terdengar celoteh dari orang yang dimaksud bapak tadi.

iya.. tadi hampir seisi masijid bepadah … amiiiiiin… tetap aja sidin kada menoleh. kada sekali haja, dua kali malah. mungkin mun dikiau pak wali, beliau hanyar menoleh.“. aku hanya mencoba tersenyum. otakku hanya mencoba membuka memori, bahwa benar orang yang disebutkan bapak tadi memang tuli. berulang kali ada teriakan warga tentang banjir, tentang semrawutnya kota, tak pernah juga ada responnya. hanya berlalu, tanpa arti.

:: 100108
mahalabiu di hari jumahat

January 8th, 2010

pak otw

aku terjebak dalam sebuah rapat. di ruang berpendingin yang membekukan isi kepala. para pemimpin pelayan publik berikut dengan seorang pekerjanya hadir. makanan tersaji dalam kotak kertas, sebelum acara dimulai. beberapa mereka mulai menyantap isi kotak.

aku masih berkutat dengan file presentasi. katanya ini akan dipresentasikan pukul 1 ini. tak lama lagi. menggunakan program yang berbeda menjadikan harus ada sedikit penyesuaian.

seseorang menurunkan layar. mencoba lcd proyektor menampilkan isi laptopnya. beberapa orang pun masih berdatangan. saling bersalaman. saling bertegur sapa.

seorang menghampiri meja tak jauh di dekatku. setelah bersalaman dengan yang lain, beliau menyalamiku, “apa kabar timpakul?“. seseorang dibelakangnya pun ikut menyalami. dengan kening yang masih berkerut. entah karena mencoba memaknai kata timpakul, atau apa. yang aku tahu, beliau ini pun punya blog. aku menjawab sejenak dan menyambut salamnya.

tak lama, pemimpin daerah ini hadir. semua diam sejenak. rapat dibuka. telah pukul 1 lewat. mulailah mereka membahas hal-hal, yang bagiku juga tak terlalu penting. aku masih sibuk dengan file presentasi ini. mereka bicara tentang delapan belas panji yang akan diberikan kepada pemimpin daerah di provinsi ini. terus berbicara… terus mendengar.

tak lama, sebuah instansi disebut. peserta mulai ikut memanggil. seorang staf instansi tersebut akhirnya berujar “sedang otw pak“. pemimpin daerah ini pun menyahut, “otw kemana? menuju ke sini atau ke daerah lain?“. suasana mulai gaduh. ada yang tertawa. ada yang berbisik. hampir semua berceloteh.

tak lama, staf instansi tersebut keluar ruangan, setelah pemimpin daerah memintanya untuk memanggil. pemimpin daerah pun berujar “ya.. kita tinggalkan pak otw, kita lanjut dengan yang lain dulu“. waktu terus bergulir. setengah jam, tibalah beliau yang memimpin sebuah instansi, yang tadi belum sempat hadir.

sebutan “otw” pun menjadi sebuah kelakar. giliran beliau terus ditunda hingga hampir habis seluruh pembahasan panji. baru kemudian beliaupun diminta pemimpin daerah untuk menyampaikan pemikirannya, “silahkan pak.. sudah nggak otw lagi kan“.

terkadang sederhana. penyebutan “on the way” menjadi sebuah senjata ampuh untuk melawan jam karetisasi. seolah menjadi permakluman. walau tak terlalu jelas, sedang berjalan menuju arah yang mana. ketepatan terhadap waktu, seolah sudah lumrah. sulit bagi aku yang selalu berupaya mengatur waktu demi waktu.

gerakan detak jam terus menghantuiku, ketika sudah terlalu terlambat untuk hadir pada sebuah ruang. rasa tak nyaman hingga lebih baik mengabaikan secara utuh kehadiran. karena aku tak selalu bisa “on the way“, sebab kadang tak ada jalan untuk arah tuju.

:: 100106
bila ada kesamaan cerita dan penokohan, hanya sebuah kebetulan semata

January 5th, 2010

ini soal isi kepala !

hampir tak pernah membayangkan bahwa isi kepala yang sudah bergelar tinggi, terkadang terlalu tak berisi. demikian juga yang telah berjabatan tiinggi, terkadang jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang baru menyelesaikan bangku sekolah. aku sendiri sudah terlalu sering mencatat isi kepala yang dicurahkan melalui kata-kata. terkadang, aku harus selalu mengetikan kata-kata yang berulang.

pembelaan terhadap kepentingan yang sedang dilangkahkan selalu terjadi. menjaga wibawa, hingga menjaga peti harta karun. tak terlalu mudah untuk membongkar ruang partisipatif. apalagi bila harus multi-pihak, ataupun multipleks.

aku terlalu sering untuk mendengar. hingga terlalu banyak kata-kata yang tak mudah dilupakan. bahkan ketika telah sepuluh tahun berlalu. kata-kata yang selalu berulang, hingga kini masih terlalu sulit dilihat wujudnya. ketika orang sudah mulai berganti, tetap saja, belum ada sebuah perubahan yang berarti.

aku mungkin sudah terlalu lelah. menyaksikan sebuah perjalanan yang tak pernah ada arah. ada yang mengatakan tidak, ada yang menyatakan iya, ada yang hanya sekedar mengangguk-angguk, sambil tangannya terlalu sibuk memainkan tombol telepon seluler.

ini soal isi kepala ! bahwa setiap makhluk yang bernyawa masih memerlukan makhluk lainnya. tentang sebuah keseimbangan kehidupan. tentang sebuah cerita masa lalu yang harusnya tak lagi berulang. putaran sang waktu, belum juga mau berhenti. walau sebagian mulai gelisah dengan angka 2012.

ini bukan sekedar soal apa yang dikeluarkan di mulut. lidah yang bergejolak, memberikan rasa dan aroma yang berbeda bagi isi otak. jerat global telah tertancap utuh di jemari sang bumi. tetesan embun di pagi yang menyaksikan geliat mereka yang tak mampu beristirahat di malam hari, semakin membeku di ujung dedaunan kering di tanah lembab.

ini soal isi kepala ! yang perlu untuk terus mengayunkan langkah kaki. esok pagi, bisa saja mentari tak lagi bersinar. selaput emisi gas rumah kaca telah membuat kubah yang tak tersapu angin. kegelisahan itu masih ada. hingga bunyi telepon seluler membangunkanku agar tetap mampu membangun jalinan pada sang masa. sebuah pesan singkat tertulis di layarnya yang tak besar, “ini soal isi hati !”.

aku dan isi kepalaku !

November 15th, 2009

lapar

“kamu lapar” tanyaku
“ya” dia menjawab sambil terus memegang ranting kecil
“sama.. aku juga lapar”
dia menatapku dengan tatapan yang entah seperti apa. ranting kecil di tangannya terus dipatahkannya sedikit demi sedikit. hamparan toko, foodmart, pujasera, makanan cepat saji, hingga warung tepi jalan, menyinari tempat kami duduk.
“kita beli makanan disana” ujarku sambil menunjuk sebuah warung.
dia menggeleng. “aku menunggu ibuku” ujarnya perlahan.
“atau kamu mau uang ini?” selembar uang aku serahkan padanya.
dia mendorong tanganku perlahan. “aku nggak boleh terima uang. ibu bilang aku bukan pengemis. harus ada kerja untuk dapatkan uang.”
“maaf ya”
“aku hanya ingin menunggu ibuku disini” ucapnya perlahan.
“memang ibumu sedang dimana?”
dia menatap pada sudut simpangan. “harusnya ibu ada disana”
“terus dimana sekarang ibumu?”
“ibu biasa berjualan di sana. tadi pagi, segerombolan orang berseragam mengobrak-abrik dagangan ibu. ibu terus memegang erat dagangannya.”
“lalu?”
dia terdiam sesaat. matanya hampa terus menatap sekeliling. meyaksikan seorang polisi yang sedang bertransaksi dengan pengendara sepeda motor yang tak menyalakan lampu tanda berbelok. uang diberikan pengendara sepeda motor itu. dengan sigap tangan polisi itu mengambil dan menyimpannya di saku celananya. kertas yang biasanya diberikan ke pengendara tak diberikan, dan kembali diletakkannya di bawah jok sepeda motornya. tak lama, pengendara sepeda motor itu berlalu. dan polisi itu kembali duduk di warung kopi sudut jalan.
“ibu didorong oleh orang berseragam itu. masuk ke dalam selokan. tak ada suara ibu lagi setelah itu. kawan-kawan ibu mengangkat tubuh ibu dari selokan. tak ada gerakan. ibu dibawa entah kemana”
“kamu tidak ikut dengan ibumu saat dibawa?”
“aku ingin ikut. tapi kawan-kawan ibu melarangku. dan aku disuruh menunggu ibu disini.”
“kita makan dulu yuk..”
“nggak. aku mau tunggu ibu” ia mengambil remah dedaunan di dekat kakinya. matanya terus menyaksikan hilir mudik orang masuk ke sebuah restoran cepat saji. beberapa anak duduk di depan pintu masuk restoran cepat saji itu. sesekali anak-anak itu mengulurkan koran ataupun sekedar tangannya kepada pengunjung. seorang anak juga sedang mengais tempat sampah. entah apa yang sedang dicarinya. pengunjung restoran itu hanya berlalu lalang. tak menatap. juga tak ada senyum bagi anak-anak itu.
“sampai kapan kamu mau tunggu ibumu?”
ia menghela nafas. pendek. kepalanya digelengkan sesaat. “nggak tahu. tapi aku harus tunggu ibu”
“kamu tinggal dimana?”
ia berdiri sejenak. dan diarahkan tangannya ke sebuah ruko. “aku dan ibu sering tidur di tepi toko itu. dulu kami tidur di tepi rumah ibadah yang disitu. tapi pengurus rumah ibadah mengusir kami. katanya disitu nggak boleh untuk tidur.”
“bapakmu ada dimana?”
dia menatapku. diam. kembali dia duduk sambil terus memainkan jarinya.
“maaf .. kalau aku salah bertanya” ujarku.
“nggak salah. cuma aku bingung harus jawab apa. aku tak pernah tahu dimana bapak. ibu juga nggak pernah cerita tentang bapak.”
tiba-tiba dia berdiri. dan berlari menyeberangi jalan. dia mendekat pada seseorang. mereka bercakap. tak tahu apa yang mereka perbincangkan.
aku beranjak dari tempat dudukku. dan berjalan menuju arah yang aku juga tak pernah tahu dimana akhirnya. sayup ku dengar tangisan dia. kata orang-orang, ibunya telah meninggal. saat dibawa ke rumah sakit, perawat disana bilang harus ada uang jaminan untuk bisa dirawat. mereka tak ada mempunyai uang yang cukup. ibunya juga tak punya surat keterangan miskin. KTP pun tak ada. ibunya akhirnya tak dirawat. menghembuskan nafas di pelataran rumah sakit megah yang uangnya dari pemerintah. tak ada petugas medis yang menolongnya. mereka membawa ibunya ke rumah salah satu diantara mereka.

aku masih harus berjalan. pada waktu yang terus menggelinding. diantara cakar-cakar kekuasaan yang penuh dengan keserakahan. nurani hanyalah sebuah slogan di baliho calon walikota ataupun calon gubernur ataupun calon anggota parlemen. gemerlap lampu pusat perbelanjaan di titik nol kota tak memperjalas arah langkahku.

negeri ini kabarnya punya kemanusiaan. negeri ini kabarnya punya rasa persaudaraan. negeri ini kabarnya punya kebersamaan. tapi sepertinya telah hancur tergerus oleh banjir dan kekeringan yang selalu terjadi. semakin sedikit mereka yang peduli. walau hanya sekedar untuk melayani. aku ingin berhenti. pada waktu yang jarum jamnya tak lagi berdetak.

[091115]
:: aku masih lapar

November 14th, 2009

peta ini legal

peta ini legal lho…. biarpun nggak ada titik koordinatnya
“ya… tapi itu kan cuma sketsa…”
tidak… ini kan lampiran SK Menteri

satu waktu, saat aku diminta seorang kawan melakukan inventarisasi tegakan sebelum penebangan, aku dibekali selembar peta. cukup lengkap isi peta, dengan titik koordinat, dan nama-nama kampung di dekat lokasi. saat tiba di lokasi, aku bertanya ke kawan “bawa GPS?“. dijawabnya dengan santai “nah … itu yang lupa“. lalu mulailah mencoba menebak titik di dalam peta berdasarkan ingatan. bertanya ke seorang yang kabarnya pernah membantu proses sebelumnya. namun juga jawabnya tetap sama, “mungkin ini ya titik ikatnya“.

pada waktu yang berbeda. dengan membawa banyak bibit pohon karet. pada sebuah praktek kerja lapangan. aku dibekali dengan sebuah peta dan sebuah GPS. tiba di lokasi, setelah berbenah tempat berteduh, mulailah membuka peta. tak ada tanda-tanda tentang titik koordinat di peta. hanya beberapa petunjuk di tepi peta. akhirnya, kembali menggunakan ilmu nujum, untuk menentukan titik awal beraktivitas. di saat kegiatan sudah mau berakhir, iseng menjelajah di sekitar tempat berteduh. terlihatlah sebuah patok, dengan titik koordinat. “ini sekalinya titik ikatnya“.

peta, ternyata tak hanya berfungsi sebagai penunjuk tempat. tapi juga mampu menyesatkan. sebuah keputusan menteri pengurus kayu, hanya melampirkan sebuah sketsa peta. tanpa titik koordinat yang lengkap ataupun penanda alam. sementara pada keputusan yang lain, yang juga dikeluarkan oleh menteri pengurus kayu, telah mengikutsertakan titik-titik koordinat sebagai lampiran dari peta. namun pelayan publik malah lebih senang menggunakan sketsa peta sebagai dasar untuk mengeluarkan perijinan.

ada pengusaha yang ingin menambang disana, jadi kami berikan ijin karena berdasarkan sketsa itu, lokasinya berada di luar kawasan“. kepentingan keping emas memang jauh lebih kuasa. dibandingkan sebuah logika dan kebenaran. akhirnya, perdebatan melibatkan kusir terus terjadi. para pengusung ekologi tetap menggunakan peta berkoordinat, dan pelayan publik yang haus keping emas tetap menggunakan sketsa peta.

peta ini legal” ujar pelayan publik dari pusat. mungkin dia lupa kalau dulu juga pernah dilakukan pembuatan patok batas di kawasan hutan. hingga baginya patok tak terlalu penting lagi. “patoknya itu yang salah“. memang, bagiku penting, kalau masih waras sebaiknya minggir dulu. sambil menunggu yang tidak waras menjadi hilang ingatan dan melupakan daratan.

aku juga ingin bilang “peta ini legal lho….

November 10th, 2009

satwa besar itu makin tersingkir

walau agak nggak percaya, tapi bisa jadi satwa besar itu menyingkir ke laut dalam. satu waktu, kapal selam pernah mendeteksi dan merekam suara, yang bukan dari kapal selam ataupun satwa laut lainnya. bisa jadi itu suara satwa itu” ujar kawan dari negeri utara, yang sedang mendalami pergolakan alam di timur.

keyakinan kawan ini, justru menghadirkan keraguan bagi aku. keraguan akan sebuah proses evolusi yang harusnya terus berlangsung. bila benar bahwa masih tetap hadir satwa bertubuh besar hingga saat ini, maka proses evolusi bisa jadi tak terjadi. proses seleksi alam lah yang kemudian melahirkan keragaman spesies hari ini.

kawan yang juga menulis “The Book of Trees” terus berupaya meyakinkan aku bahwa satwa-satwa itu bukan sebuah mitos. walau dalam bukunya, banyak sekali mitos tentang kehadiran spesies di bumi, yang dia kupas dari proses pembelajarannya di India. dia meyakini bahwa satwa tersebut menyingkir sesaat, hingga pada waktunya akan kembali.

menelisik lebih dalam terkait dengan fenomena yang terus bergerak di permukaan bumi, menjadi penggerak untuk terus berupaya bertahan dalam proses berkehidupan. pertarungan-pertarungan kepentingan, yang juga dihadirkan dalam mitologi satwa, merupakan sebuah potret dari dominansi kekuasaan.

cinta puspa dan satwa yang digemakan, belum pernah menyentuh sejarah spesies, apalagi tentang mitologi satwa. semua berkutat pada buku merah ataupun literatur yang sebagian besar diolah oleh generasi utara. membongkar satwa dari timur, akan menemukan ruang yang jauh lebih dinamis. hanya saja, masih sedikit yang ingin memulai dari timur. karena terlalu tak menarik bagi kucuran keping emas.

memilih timpakul sebagai bagian dari spesies yang gagal evolusi, aku menemukan beragam dinamika sosial-ekologi di dalamnya. bukan sekedar dari pola hidup dua alam, namun pada sebuah catatan sejarah perubahan ekosistem. satwa-satwa, bukanlah semata menjadi etalase. mereka menjadi buku besar perjalanan kehidupan. dan mereka akan menjadi perantara sebelum akhir kehidupan terjadi.

pada satwa besar yang menyingkir !

November 3rd, 2009

entah berapa waktu tersisa….

entah berapa lama lagi waktu tersisa. putaran jarumnya terus bergerak. berada pada sebuah ruang yang tak begitu mudah untuk ditembus. gejolak keinginan masih terus bertarung dengan sebuah impian.

tiga puluh tiga. bukan angka yang keluar di akhir pekan. masih sekedar menjadi simbul pengingat. bagai pendulum yang mengetuk jemari jiwa. perlahan membangkitkan bunga tidur dari peraduannya.

menyaksikan begitu banyak kegelisahan di sekitar. tentang hidup hari ini. tentang generasi penerus. tentang alam yang semakin meradang. tentang pertarungan kekuasaan. tentang dunia yang belum tentu ada di hari kemudian.

melihat bulir-bulir kebahagiaan saat setetes air menuntaskan dahaga. semangat memberi untuk beriklan yang menipu rasa. tangis dan jerit jiwa saat tak lagi ada tempat berkehidupan. selaput berbagi masih belum terkoyak. tak cukup materi ini membelah diri.

pasti tak lama. walau tak pernah tahu entah berapa lama. tiga puluh tiga mungkin cukup sudah. atau sebenarnya perjalanan ini masih terus bergulir. hingga kutub bumi akan berganti arah. hingga lapisan karbon monoksida menghias atmosfer. hingga air laut tak lagi biru. dan pulau-pulau mulai bergegas ke peraduan.

tiga puluh tiga… benarkah aku menghitung waktu …

November 1st, 2009

tak biasa di luar

tujuh belas orang pelajar SLTA itu duduk sambil menatap layar yang memutar film “HOME”. beberapa sibuk bermain dengan telepon selulernya. satu dua orang tak kuat menahan kantuk, mulai memejamkan mata. mereka sedang belajar tentang perubahan iklim.

istilah perubahan iklim masih asing di telinga mereka. sama halnya dengan beberapa orang yang asing dengan istilah “global warming“. keingintahuan mereka tetap ada, walau tak banyak. dalam sebuah sesi diskusi, mereka sangat bersemangat untuk berdebat. tentang asap rokok hingga urusan listrik. seorang mereka berujar “gimana kalau kita rame-rame nutup tambang batubara“.

malam hari, waktu sudah melalui pukul 22. bulan purnama di pucuk kepala. mereka masih tertarik untuk berjalan sekedar mencoba untuk melihat satwa beraktivitas di malam hari. hanya kelelawar dan seekor burung malam yang terlihat melintas. suara serangga bersahutan. tak terdengar suara katak bersahutan. mungkin sudah terlalu lelah katak itu memanggil hujan.

pola pembelajaran di alam, dekat pepohonan, memberikan sebuah energi berbeda. dalam ruang bersama, berbagi pengetahuan, mengurai isi kepala. satu per satu pikiran itu keluar dan terangkai menjadi memori baru. pada setiap kali proses serupa, para pelajar seperti terlepas dari ruang sempitnya. luapan keingintahuan menjadi luar biasa. mungkin karena mereka tak biasa di luar.

sayangnya, masih banyak sekolah yang belum memberikan dunia luar pada pelajar. hanya terkungkung pada teks buku pembelajaran ataupun mendengarkan guru bertutur. “agar hasil ujian mereka bagus“, ujar seorang guru. “kami pun tak sungkan untuk memanipulasi nilai hasil ujian akhir mereka, agar tetap terlihat sekolah kami berhasil. ini juga sesuai dngan perintah kepala daerah yang disampaikan oleh kepala dinas pendidikan pada kepala sekolah kami.“, ujar rekannya.

mengubah cara belajar, mengubah cara mengeksplorasi pengetahuan, harusnya mungkin dilakukan. dan akan jauh lebih menghasilkan geliat generasi cerdas. bukan sekedar mereka yang mampu menyalin pekerjaan kawan ataupun menghapal setiap bait buku pelajaran. membongkar logika pelajar menjadi sebuah kebutuhan untuk melakukan perubahan.

(r)evolusi pendidikan terus berjalan. saat ruang dan waktu mulai tersekat. bencana ekologi berkelanjutan menjadi ancaman. pemanasan global mulai mencairkan relung jiwa. satwa yang enggan untuk bercengkrama menjadi saksi perjalanan mineral menuju pematian bumi. terus bergerak generasi agar tak menjadi kelam di rezim kemudian.

pada yang tak biasa di luar !


Rss Feed Tweeter button Technorati button Reddit button Linkedin button Delicious button Digg button Flickr button Stumbleupon button