Posted on: Monday, 4 Jan 2010
jejak-jejak kecil yang tersapu kembali terlihat pada bulir masa yang terus bergerak aura buliran nafas waktu masih berhembus panasnya jiwa dalam dingin malam jembatan nadi yang pernah diruntuhkan tak lagi terlihat di jelaga hati alur air yang menetes membahasi pun mulai mengembun jejak-jejak kecil yang tersapu kembali terlihat rona hitam pekat mengganti selaput pada detak [...]
baca selengkapnya ...
Posted on: Wednesday, 23 Dec 2009
panas tak lagi membakar debu pasir menghitam jelaga bersetubuh dengan waktu diam celoteh tak perlu lagi ujar hanya bila setuju hembus nafas itu masih dalam keping nadi ruam pekat masih bersisa aku berjalan pada jelaga [091223] :: berhentilah berpikir
baca selengkapnya ...
Posted on: Saturday, 14 Nov 2009
kemana arah semua tertutup dinding kelam kelabu pun menggantung langkah tak berjejak meraba perlahan cahaya pernah hadir hanya angan jadi peta yang mungkin tak membawa pada pintu harapan [091114] :: labirin
baca selengkapnya ...
Posted on: Tuesday, 3 Nov 2009
“Kau kah itu, yang menghadirkan pelangi kala senja mengharap cemas. Lalu semburatmu perlahan menjawab tanya, karena cinta membebaskan untukmu-untukku” “aku kangen, teramat kangen. lumatan bibirmu, ceritamu, keresahanmu dan semua tentangmu karena aku mencintaimu sangat…..” sangperempuan – 091103
baca selengkapnya ...
Posted on: Sunday, 20 Sep 2009
lima kali sehari suara itu memekakkan telinga tapi aku tak mendengar apa-apa selain celoteh yang merusakkan gendang telinga kosong … sepi … hanya teriakan tanpa makna mungkin tuhan tuli dan tak mampu lagi mendengar kata hati hingga ayat-ayatnya harus diperdengarkan dari ujung corong rumah ibadah yang tak lebih baik dibandingkan kaleng rombeng bisa jadi tuhan [...]
baca selengkapnya ...
Komentar