benih tumbuh dipersimpangan
dalam jalan yang tak berarah
bergelut dengan pilihan
tetap tumbuh
atau
hilang perlahan
[081202]
:: benih di persimpangan
benih tumbuh dipersimpangan
dalam jalan yang tak berarah
bergelut dengan pilihan
tetap tumbuh
atau
hilang perlahan
[081202]
:: benih di persimpangan
kelana dalam sebuah bayang
kisah menebar pada ruang berbeda
satu cahaya kerinduan
bagi secercah nafas yang mendera
aku diam
di satu waktu yang tak ingin berhenti
aku menanti
sebuah aras tak berujung
aku bisu
merangkai kata tanpa makna
raut jasad putih menjauh
perlahan tanpa berbalik arah
lengkingan suara itu masih berada
di gendang telinga yang lelah mendengar
aku tak rasa
pada akal terus bergejolak
aku tak berkata
mengiringi gumam nyanyi sunyi
aku tak mendengar
segaris tapak tak berbekas
[081114]
:: ingatan meredam masa di khao yai
air
meninggi
::mari belajar berenang
[081108]
:: mari belajar berenang
tak ada awan pagi ini
kemarin hujan badai membasahi tanah
air coklat menghitam mengalir disela pondasi rumah
perlahan menggenangi tenggelamkan asa
langit putih bersih tanpa mentari
gelegar di langit masih tersisa
siaran televisi pagi ini masih berceloteh tentang darah dan airmata
derap gelisah belum juga usai
terhadap sebuah mimpi
sebuah perubahan
kebaikan bagi sesama
[081005]
:: langit tak berawan
“halo… bisa kita mulai wawancaranya?” di sambungan telepon
“silahkan”
“sebentar.. saya siapkan peralatannya ya… ”
“ya…”
“oke kita mulai… menurut bapak, bagaimana pelaksanaan AMDAL hingga saat ini?”
“bla.. bla.. bla… ” dan seterusnya
“oke pak, terima kasih…”
klik
kriinggg… kriinggg…
“halo…”
“ya pak.. saya yang wawancara tadi…” suara di seberang telepon.
“ya.. ada apa..”
“boleh diulang wawancaranya pak? karena yang tadi tidak bagus rekamannya pak”
“ya.. ya… test.. satu.. dua… tiga… udah bagus ya?”
“iya pak.. bisa kita mulai?”
*gubrak*
[080909]
:: dari sebuah wawancara radio pemerintah
di atas bus bogor menuju jakarta
dua orang perempuan belia
seorang memegang ukulele mungkin
tangannya mulai memainkan nada
alunan suara bertarung derai hujan di perjalanan
seorang lainnya membagikan sebuah amplop
“agar dapat meneruskan pendidikan” tulisan di atasnya
mereka terus bernyanyi
walau derai hujan tenggelamkan merdunya
“dia hamil”
“bukan, dia gendut”
“tidaklah, pasti dia hamil”
salah seorangnya memegang perutnya yang membuncit
entah hamil atau hanya sekedar membuncit
tawa mereka terus ada
seiring masuknya bus melewati pintu tol taman mini
perhentian hari ini
di tengah hujan yang semakin lebat
dan membanjiri jalan kota
[080901]
:: dalam bus bogor menuju jakarta
bertarung
diantara jemari semut
memimpikan remah kemewahan
berlari
tanpa batas waktu
tuju arah yang tak tentu
pelanduk
tegak tak tunduk
pada desir peluru
[080822]
:: pertarungan pelanduk
kosong
:hilangnya nurani
delapan
:derap langkah masa depan
kosongdelapan
:menantikan sebuah keajaiban
[080808:0808]
::kosongdelapandalamruangkosongdelapan
aku lihat
sekedar rasa
masih ada
ketulusan
tak nampak
terkadang
aku lihat
sekedar rasa
tersisa remah
diantara jelaga
bersembunyi
terkadang
aku lihat
atau
hanya sekedar rasa
nilai ketulusan
[080802]
:: pada sebuah nilai
satu
dua
tiga
tetesan embun
jatuh perlahan
dari seuntai dedaun
yang mulai mengering
perlahan jatuh
pada tanah yang mulai mengeras
satu
dua
tetesan embun
sejukan pagi yang hangat
membasuh polutan
satu
tetesan embun
terakhir jatuh
dari kelamnya awan
hapus segala asa
[080713]
:: pagi hari tak cerah