Uang lecek

1 January 2012 | topik: celoteh | oleh

Jan
01

Uang lama ini ya mas. Udah lecek ya” ujar pemilik bengkel sepeda motor itu, sambil tersenyum kecil. Uang, telah menjadi alat tukar yang entah kapan itu disepakati. Jauh sebelumnya, warga kampung negeri ini mengenal sistem barter. Bertukar perunggu dengan bahan pangan, hingga bertukar guci ataupun gerabah dan manik dengan kekayaan alam kampung. Uang pun kini berganti, menjadi tak berwujud. Hanya pertukaran catatan, dari data satu ke data lainnya, serta selembar kertas untuk memastikan bahwa telah terjadi pertukaran. Entah, sejak kapan kertas itu menjadi alat pertukaran juga. Google, bahkan menyiapkan perangkat pertukaran, berupa Dompet Google.

Hanya butuh sebuah kepercayaan dalam melakukan transaksi. Barter, keping logam, uang, hingga model transaksi elektronik yang berlaku hari ini hanya membutuhkan sebuah keyakinan. Barang ataupun jasa yang dibutuhkan, bisa tetap dipertukarkan. Hanya tak ada lagi keyakinan terhadap nilai barang secara langsung, bahkan terjadi kesenjangan kebutuhan, karena keinginan yang lebih banyak ingin diwujudkan.

Mereka menjual pisang, membawanya turun naik bukit, hingga ke pasar. Menjualnya. Memperoleh uang. Dan pulang membawa molen, pisang yang dilapisi adonan tepung dan digoreng.” Inilah gambaran yang masih terjadi pada wilayah-wilayah tertentu di negeri ini. Keinginan untuk memperoleh rasa baru dari sebuah pisang. Pertukaran kebutuhan itu sudah usai. Hari ini, kita disibukkan dengan pertukaran keinginan.

Barter adalah sebuah sistem yang mempertemukan kebutuhan. Satu orang perlu protein, yang lainnya perlu karbohidrat ataupun vitamin. Barter juga mempertahankan keinginan, karena tak mudah mempertemukan keinginan dengan kebutuhan. Uang yang menjadi perantara, dapat menyimpan keinginan hingga waktu dipertemukannya. Barter hanya mempertemukan kebutuhan.

Uang lecek itupun berpindah tangan. Dari satu tangan menuju tangan lainnya. Waktu terus berputar, hingga muncul coretan nomor telepon seluler di satu sisinya. Waktu terus bergerak. Robekan di sisi semakin banyak. Satu perekat mulai menghiasi lembarnya. Terus berputar, hingga berakhir pada tempat yang kadang tak diinginkan. Bergulat dengan sampah-sampah plastik, kertas dan sisa makanan kota ini yang tak pernah berhenti untuk mengunyah.

Sementara, adiknya yang terbuat dari logam, terkadang terpendam diantara tanah-tanah tepi jalan. Kalau lebih beruntung, berada di dalam celengan babi yang entah kapan akan dipecahkannya. Terkadang, hingga berdebu membatu, dan berkarat, barulah sang pemilik sadar, pernah punya sebuah celengan babi, yang pastinya tak haram.



Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :


Ade Fadli. 2012. Uang lecek. http://timpakul.web.id/uang-lecek.html (dikutip tanggal 19 May 2012)



-- timpakul.web.id - @timpakul



Ditulis oleh

lahir dan besar di tepi karangmumus. berceloteh dengan negativisme dan pesimis. berjalan menuju berakhirnya sang waktu.

Saikung mahalabiu gasan “Uang lecek”

Show / Hide Comments
  1. Kakang Prabu says:

    bisa tuker uang lecek ga? Hehehe…

Bekomen yukz