Badak mati meninggalkan cuitan

Kematian Najaq, badak yang kabarnya terkena jerat dan berhasil dijerat untuk dilepaskan jeratnya. Tidak lebih dari satu bulan, satuan waktu dimana Badak liar dapat mengelola dirinya agar bertahan hidup, sejak telah berhasil masuk perangkap yang dibuat untuk menangkapnya. Dan kemudian ramailah ranah perbadakan. Lalu kemudian munculah sebuah ungkap berikut:

hanya, matinya mereka
di saat berada di tangan pecinta.
yang setidaknya berusaha,
melakukan sesuatu,
memilih dalam pilihan yang tak ada.
maka riuh rendahlah caci maki.
maka berdendanglah kita
para penikmat siaran tivi.

…. dituliskan di badak mati, beruang madu mati, orangutan mati

Ketika pertama kali kabar keberadaan Badak itu ada, mulailah selalu mencoba mencari cara agar dapat memberikan pembuktiannya. Dalam kesejarahan ekologinya, Kalimantan memang bukanlah tempat yang memisahkan Badak dari kesumateraannya. Pun pada orangutan, yang lalu kemudian memisahkan pada tingkat sub-spesies berdasarkan wilayah keberadaannya.

Perbincangan mulai bergeser. Lalu munculah curhat-colongan tentang seorang istri yang ditinggal suami berbulan-bulan karena mengurus badak. Munculah permakluman bahwa kemudian jerat yang tertinggal di kaki belakangnya menyebabkan infeksi dan lalu mempercepat kematiannya. Sementara, dalam perspektif kesejahteraan satwa liar, mengurung satwa liar dengan luasan yang tidak tepat, dapat menjadikan satwa meningkat tingkat tekanan psikologisnya, yang akhirnya berperilaku yang dapat menyebabkan kematian.

saat badak ditemukan dalam pit trap, kondisi kesehatan badak yang ditemukan dinyatakan mulai dapat menyesuaikan diri dan jerat tali nylon di kaki kiri belakang sudah berhasil dilepaskan seluruhnya. — detik.com

Ini bukanlah soal mencaci para mereka yang seolah menyayangi satwa. Ini juga bukanlah sebuah hujatan bagi mereka yang seolah akan menyelamatkan satwa. Ini adalah pertarungan pemikiran dalam melihat satwa liar yang seolah dilindungi. Ini adalah peradaban keseolahan, yang seolah-olah semuanya akan baik-baik saja, dengan melampaukan akar permasalahan, dan seolah menemukan solusi suci. Translokasi.

Sejak pertama dilakukannya publikasi keberadaan badak, dengan dilakukan dalam konteks mempopulerkan keberadaannya, selalu bertanya tentang apa pentingnya mempopulerkan itu, disaat infrastruktur pengelolaan jangka panjangnya belum disiapkan secara baik. Pun ketika pilihan translokasi diambil, dengan alasan pemegang konsesi, yang ijinnya diberikan oleh pemerintah, tak ingin pengelolaannya terganggu. Dan opsi memindahkannya pada kawasan hutan lindung yang tak jua dilindungi, menjadi pilihan pemaksaan, yang belum berdasar pada argumentasi yang lebih menguatkan.

Mungkin tak ada yang pernah menghitung berapa banyak orangutan yang dilepasliarkan di Hutan Lindung Sungai Wain dan Hutan Lindung Beratus. Mungkin juga tak pernah ada yang menghitung berapa ekor yang tersisa. Pun tak pernah ada yang mempertanyakan bagaimana kebun-kebun warga ‘diserang’ orangutan yang dilepasliarkan di konsesi yang dipandang telah berdasarkan kajian komprehensif. Walau pada saat pembahasan upaya pengelolaan lingkungan telah dipertanyakan angka kerapatan jenis yang lalu dipermaklumkan dan diyakinkan bahwa cukup dengan jumlah orangutan yang sedang berada dalam pusat rehabilitasi, namun kemudian diungkap juga, “kami butuh areal tambahan, karena yang ada tak terlalu cukup untuk orangutan”.

Permakluman demi permakluman selalu diberikan. Pun ketika pernah berkunjung ke gedung belakang pada Kementerian yang menguruskan konservasi spesies, seorang pekerja berujar, “tak sanggup kami memantau 78 lembaga konservasi yang ada, hanya sedikit yang bisa kami pantau”. Dengan kapasitas yang ada, maka apakah negara masih merasa sanggup, dan para ahli spesies lalu menganggap dirinya adalah kebenaran, dan kemudian melupakan sisi berbeda yang melihat dengan cara berbeda.

Ketika kemudian kritik sudah dianggap sebagai cacian, maka berhentilah focus group discussion. Berhentilah diskursus pengetahuan. Berhentilah berbincang dan memperbincangkan. Bahwa pengetahuan itu suci, sebagaimana kitab yang disucikan, tak ada yang boleh memperdebatkannya. Dan berhentilah berpengetahuan, karena itu sebuah keharaman.

Tangisan dan kesedihan yang dibawa, seolah menjadi aliran air mata yang dapat menciptakan permakluman baru. Pun ketika ungkapan kelelahan lalu kemudian diharapkan menjadikan penutupan fakta. Dan kemudian, dengan kekuasaan mengumandangkan, “kalian tau apa, diamlah”. Mari melanjutkan pembungkaman, karena memang pengetahuan itu hanya menjadi milik mereka yang punya kewenangan dan punya uang yang dihambur-hamburkan. Mari kembali tidur dengan nyenyak dan menunggu undangan makan siang berikutnya. #huray

Leave a Reply

%d bloggers like this: